Parkir Kereta ala Persija Tuai Kecaman
Senin, 19 Mei 2014 - 17:24 WIB
Parkir Kereta ala Persija Tuai Kecaman
A
A
A
JAKARTA - Persija Jakarta jadi lumbung kritik dalam dua laga terakhir kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2014 Wilayah Barat. Hal itu terjadi, setelah akhir-akhir ini sering menerapkan gaya sepakbola negatif yaitu bertahan total.
Kritik pedas diawali saat Macan Kemayoran, julukan Persija, menahan imbang Persib Bandung, 0-0, di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Bandung, (8/5). Persija yang bermain super defensif, mendapat kecaman dari pelatih dan gelandang asing Maung Bandung, jukukan Persib, Makan Konate. "Mereka bermain bertahan dan terus turun, turun, dan turun. Itu bukan sepak bola," kecam gelandang asal Mali itu, beberapa waktu lalu.
Kecaman atas penampilan Persija tidak sampai disitu. Pada laga perdana putaran kedua ISL, Macan Kemayoran yang dijamu Arem Cronus di Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu, (18/5), juga menerapkan taktik tidak jauh berbeda saat berlaga di depan publik Bandung.
Tapi strategi itu tidak semulus sebelumnya. Karena pada menit ke- 84 gawang Persija akhirnya jebol lewat aksi Sunarto. Dengan sigap, penyerang muda Singo Edan, julukan Arema, tersebut, berhasil memanfaatkan kesalahan penjaga gawang Persija, Ardhiyasa Adhiyasa, yang gagal mengamankan si kulit bundar dengan baik.
Komentar negatif atas strategi bertahan Persija kembali terdengar. Kali ini giliran pelatih Arema, Suharno, yang angkat bicara. Mantan pelatih Gresik United itu, menilai Persija tidak hanya menerapkan strategi parkir bus, tapi sudah memarkir kereta api di depan mulut gawang klub berkostum orange tersebut.
"Kemenangan ini tidak mudah sama sekali. Persija tak hanya parkir bus. Mereka parkir kereta api. Strategi itu buat anak-anak kesulitan membongkar pertahanan mereka. Tapi akhirnya, meski berbau keberuntungan, kami bisa cetak gol," papar Suharno.
Strategi parkir bus sendiri diakui pemain belakang sekaligus kapten Persija, Fabiano Beltrame. Bek asal Brasil itu menyatakan, jika tidak melakukan strategi itu Persija akan lebih kesulitan.''Kami tahu kalau main terbuka saat melawan Arema, kami yang bakal kesulitan sendiri. Mereka memiliki pemain depan yang mempunyai kecepatan. Jika dipaksakan adu sprint, kami akan kalah,''paparnya.
Walau strateginya banyak menuai kritik, pelatih Persija, Benny "Bendol" Dollo, seperti tidak mau ambil pusing. Menurutnya, strategi yang diterapkannya sudah sesuai dengan kondisi tim yang dimiliki Persija saat ini.
"Saya tidak mau ambil pusing apakah dibilang main parkir bus atau parkir kereta sekalipun. Yang pasti, kami memainkan taktik dan strategi sesuai dengan kondisi pemain dan target membawa pulang poin di laga tandang,''jelas Bendol.
''Kami tidak bisa memainkan strategi terbuka melawan tim yang punya pemain bagus dalam menyerang. Taktik yang diterapkan pelatih tergantung dengan kondisi tim itu sendiri,''sambung mantan pelatih Tim Nasional (Timnas) Indonesia tersebut.
Apa yang diterapkan Persija tentu wajib jadi bahan evaluasi pelatih dan manajemen Persija. Karena jika terus begitu bukan tidak mungkin, Persija yang saat ini duduk diperingkat tiga klasemen dengan koleksi 18 poin dari 11 laga bisa terlempar dari posisi empat besar di akhir kompetisi. Yaitu berarti gagal lolos ke fase selanjutnya.
Kritik pedas diawali saat Macan Kemayoran, julukan Persija, menahan imbang Persib Bandung, 0-0, di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Bandung, (8/5). Persija yang bermain super defensif, mendapat kecaman dari pelatih dan gelandang asing Maung Bandung, jukukan Persib, Makan Konate. "Mereka bermain bertahan dan terus turun, turun, dan turun. Itu bukan sepak bola," kecam gelandang asal Mali itu, beberapa waktu lalu.
Kecaman atas penampilan Persija tidak sampai disitu. Pada laga perdana putaran kedua ISL, Macan Kemayoran yang dijamu Arem Cronus di Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu, (18/5), juga menerapkan taktik tidak jauh berbeda saat berlaga di depan publik Bandung.
Tapi strategi itu tidak semulus sebelumnya. Karena pada menit ke- 84 gawang Persija akhirnya jebol lewat aksi Sunarto. Dengan sigap, penyerang muda Singo Edan, julukan Arema, tersebut, berhasil memanfaatkan kesalahan penjaga gawang Persija, Ardhiyasa Adhiyasa, yang gagal mengamankan si kulit bundar dengan baik.
Komentar negatif atas strategi bertahan Persija kembali terdengar. Kali ini giliran pelatih Arema, Suharno, yang angkat bicara. Mantan pelatih Gresik United itu, menilai Persija tidak hanya menerapkan strategi parkir bus, tapi sudah memarkir kereta api di depan mulut gawang klub berkostum orange tersebut.
"Kemenangan ini tidak mudah sama sekali. Persija tak hanya parkir bus. Mereka parkir kereta api. Strategi itu buat anak-anak kesulitan membongkar pertahanan mereka. Tapi akhirnya, meski berbau keberuntungan, kami bisa cetak gol," papar Suharno.
Strategi parkir bus sendiri diakui pemain belakang sekaligus kapten Persija, Fabiano Beltrame. Bek asal Brasil itu menyatakan, jika tidak melakukan strategi itu Persija akan lebih kesulitan.''Kami tahu kalau main terbuka saat melawan Arema, kami yang bakal kesulitan sendiri. Mereka memiliki pemain depan yang mempunyai kecepatan. Jika dipaksakan adu sprint, kami akan kalah,''paparnya.
Walau strateginya banyak menuai kritik, pelatih Persija, Benny "Bendol" Dollo, seperti tidak mau ambil pusing. Menurutnya, strategi yang diterapkannya sudah sesuai dengan kondisi tim yang dimiliki Persija saat ini.
"Saya tidak mau ambil pusing apakah dibilang main parkir bus atau parkir kereta sekalipun. Yang pasti, kami memainkan taktik dan strategi sesuai dengan kondisi pemain dan target membawa pulang poin di laga tandang,''jelas Bendol.
''Kami tidak bisa memainkan strategi terbuka melawan tim yang punya pemain bagus dalam menyerang. Taktik yang diterapkan pelatih tergantung dengan kondisi tim itu sendiri,''sambung mantan pelatih Tim Nasional (Timnas) Indonesia tersebut.
Apa yang diterapkan Persija tentu wajib jadi bahan evaluasi pelatih dan manajemen Persija. Karena jika terus begitu bukan tidak mungkin, Persija yang saat ini duduk diperingkat tiga klasemen dengan koleksi 18 poin dari 11 laga bisa terlempar dari posisi empat besar di akhir kompetisi. Yaitu berarti gagal lolos ke fase selanjutnya.
(aww)