BTN Tak Bersalah Atas Performa Buruk Timnas
Jum'at, 28 November 2014 - 04:50 WIB
BTN Tak Bersalah Atas Performa Buruk Timnas
A
A
A
JAKARTA - Hasil buruk yang didapat tim nasional (timnas) Indonesia di Piala AFF 2014, jadi komulatif kegagalan tim elit Indonesia diberbagai ajang internasional. Dan hasil melahirkan banyak komentar negatif yang ditujukan kepada Badan Tim Nasional (BTN). Tapi tidak sedikit juga yang menilai BTN sudah melaksanakan tugasnya secara maksimal.
Target Indonesia untuk keluar sebagai juara Piala AFF untuk pertama kali dipastikan hampir terkubur. Setelah peluang untuk lolos ke babak semi final menjadi teramat berat, setelah di dua laga sebelumnya ditahan imbang Vietnam, 2-2 dan dipermak Filipina empat gol tanpa balas tiga hari berselang.
Hasil minor itu pun seakan melengkapi kegagalan dua timnas dikelompok umur, yakni timnas U-23 yang gagal di Asian Games dan juga timnas U-19 kandas diputaran final Piala AFC U-19. Untuk skuad Garuda Jaya -julukan timnas U-19-, padahal ditargetkan mampu tampil di Piala Dunia U-20 pada tahun 2015 di Selandia Baru.
“Tugas pokok BTN sudah dilaksanakan dengan baik, tidak ada yang dilewatkan oleh BTN. Semua program dijalankan, lantas untuk apa menyalahkan BTN, jadi sudah tidak perlu lagi ada saling menyalahkan. Karena dimanapun juga namanya di lapangan yang bertanggung jawab adalah pelatih,” pengamat sepak bola nasional, Raja Parlindungan Pane, Jumat (28/11).
Dibalik kegagalan itu, BTN dinilai sudah memberikan fasilitas terbaik untuk menunjang penampilan tiga timnas tersebut. Untuk timnas U-19 yang saat itu dikomandoi Indra Sjafri, Hansamu Yama Pranata dan kawan-kawan diberikan pelatihan nasional (pelatnas) jangka panjang hampir satu tahun lamanya.
Pelatnas lokal maupun internasional dijalani saat itu. Seperti Tur Timur Tengah dan Tur Spanyol. Lawan-lawan di Negeri Matador pun tidak sembarangan seperti Atletico Madrid B, Valencia B, Barcelona B, dan Real Madrid C. Barcelona B bahkan ikut tampilkan Luis Suarez dan Thomas Vermaelen. Untuk semuanya dana sebesar Rp30 miliar digelontorkan.
Jika di atas persiapan yang diberikan BTN untuk timnas U-19, lain lagi dengan timnas U-23 di bawah asuhan Aji Santoso. Paling luar biasa, kesempatan yang diberikan saat melakoni Tur Italia pada Juli 2014 lalu. Saat itu Ramdani Lestaluhu dkk difasilitasi uji coba kontra tim-tim Seri A, Italia, seperti AS Roma, Lazio, dan Cagliari.
Sementara untuk timnas senior, BTN juga tidak lupa memberikan persiapan mewah. Tim besutan Alfred Riedl mengawali Pelatnas ke Spanyol. Tiga uji coa dijalani disana. Yaitu menjajal Andora, Kuba, dan Vilarreal B. Hasilnya cukup bagus, Indonesia hanya sekali kalah, yaitu dikandaskan Kuba, 0-1.
“BTN gagal apabila timnas tidak bisa berangkat ke ajang (event) yang diikuti karena tidak ada dana. Atau misalnya juga karena tim tidak mendapatkan penerbangan atau sarana transportasi. Atau tim tidak terurus di lokasi event," jelas Raja, yang juga bertindak sebagai Ketua Serikat Wartawan Seluruh Indonesia (SIWO) Pusat tersebut.
Target Indonesia untuk keluar sebagai juara Piala AFF untuk pertama kali dipastikan hampir terkubur. Setelah peluang untuk lolos ke babak semi final menjadi teramat berat, setelah di dua laga sebelumnya ditahan imbang Vietnam, 2-2 dan dipermak Filipina empat gol tanpa balas tiga hari berselang.
Hasil minor itu pun seakan melengkapi kegagalan dua timnas dikelompok umur, yakni timnas U-23 yang gagal di Asian Games dan juga timnas U-19 kandas diputaran final Piala AFC U-19. Untuk skuad Garuda Jaya -julukan timnas U-19-, padahal ditargetkan mampu tampil di Piala Dunia U-20 pada tahun 2015 di Selandia Baru.
“Tugas pokok BTN sudah dilaksanakan dengan baik, tidak ada yang dilewatkan oleh BTN. Semua program dijalankan, lantas untuk apa menyalahkan BTN, jadi sudah tidak perlu lagi ada saling menyalahkan. Karena dimanapun juga namanya di lapangan yang bertanggung jawab adalah pelatih,” pengamat sepak bola nasional, Raja Parlindungan Pane, Jumat (28/11).
Dibalik kegagalan itu, BTN dinilai sudah memberikan fasilitas terbaik untuk menunjang penampilan tiga timnas tersebut. Untuk timnas U-19 yang saat itu dikomandoi Indra Sjafri, Hansamu Yama Pranata dan kawan-kawan diberikan pelatihan nasional (pelatnas) jangka panjang hampir satu tahun lamanya.
Pelatnas lokal maupun internasional dijalani saat itu. Seperti Tur Timur Tengah dan Tur Spanyol. Lawan-lawan di Negeri Matador pun tidak sembarangan seperti Atletico Madrid B, Valencia B, Barcelona B, dan Real Madrid C. Barcelona B bahkan ikut tampilkan Luis Suarez dan Thomas Vermaelen. Untuk semuanya dana sebesar Rp30 miliar digelontorkan.
Jika di atas persiapan yang diberikan BTN untuk timnas U-19, lain lagi dengan timnas U-23 di bawah asuhan Aji Santoso. Paling luar biasa, kesempatan yang diberikan saat melakoni Tur Italia pada Juli 2014 lalu. Saat itu Ramdani Lestaluhu dkk difasilitasi uji coba kontra tim-tim Seri A, Italia, seperti AS Roma, Lazio, dan Cagliari.
Sementara untuk timnas senior, BTN juga tidak lupa memberikan persiapan mewah. Tim besutan Alfred Riedl mengawali Pelatnas ke Spanyol. Tiga uji coa dijalani disana. Yaitu menjajal Andora, Kuba, dan Vilarreal B. Hasilnya cukup bagus, Indonesia hanya sekali kalah, yaitu dikandaskan Kuba, 0-1.
“BTN gagal apabila timnas tidak bisa berangkat ke ajang (event) yang diikuti karena tidak ada dana. Atau misalnya juga karena tim tidak mendapatkan penerbangan atau sarana transportasi. Atau tim tidak terurus di lokasi event," jelas Raja, yang juga bertindak sebagai Ketua Serikat Wartawan Seluruh Indonesia (SIWO) Pusat tersebut.
(akr)