Ducati Pertanyakan Jatah Balapan di Spanyol, Indonesia Kapan?
Jum'at, 03 April 2015 - 11:46 WIB
Ducati Pertanyakan Jatah Balapan di Spanyol, Indonesia Kapan?
A
A
A
MILAN - Dorna Sport, selaku pemegang hak komersial MotoGP telah merilis 18 balapan yang bakal dilakoni para pembalap di musim ini. Namun penetapan itu mulai dikeluhkan manager tim Ducati, Paolo Ciabatti.
Ciabatti mengeluhkan jatah balapan yang diberikan Spanyol lebih banyak ketimbang negara lain. Tercatat, ada empat balapan yang digelar di Negeri Matador, yakni GP Spanyol, Catalunya, Aragon, dan seri penutup di Valencia. Sedang Italia dan Amerika Serikat sama-sama menggelar dua balapan di musim ini.
Dia tak menampik bila jatah yang diberikan Dorna kepada Spanyol lantaran keberhasilan Marc Marquez merebut mahkota juara dua musim secara berturut-turut. Namun mereka harus melihat fakta lain bahwa pertumbuhan gelaran kuda besi di Asia tak kalah dengan negara Eropa maupun Amerika, terutama di Indonesia.
Sejauh ini, jatah yang diberikan Dorna kepada negara di Asia hanya berlaku pada Malaysia. Negeri Jiran itu memang mempunyai pengalaman yang matang dalam menghelat balap motor ini sejak 31 Maret 1996 di Sirkuit Shah Alam.
"Balapan selalu berubah dan tidak semua setiap perubahan itu kita suka, tapi itu kenyataannya. Lihatlah kalender musim ini, kami mempunyai empat balapan MotoGP di Spanyol dan ini tidak masuk akal. Saya menyadari bahwa balap motor begitu populer di Spanyol sejak 2014, karena semua juara di kelas berbeda berasal dari sana," kata Ciabatti dikutip Speedweek, Jumat (3/4/2015).
"Mungkin salah satu standar penilaiannya adalah ada banyak pembalap lahir dari Spanyol, fans, sponsor, dan perhatian pecinta balap motor di sana. Tapi jika jatah balapan ada empat dari 18 balapan di Spanyol, maka saya rasa itu tidak ideal. Meskipun ada alasan itu. Kita sebaiknya bisa memperluas pasar MotoGP dan rumor tentang rencana Dorna untuk menggelar 20 balapan di tahun mendatang harus didukung."
Lebih lanjut: "Tapi bukan berarti mereka akan menambah negara baru dan mempertahankan jatah balapan di Spanyol. Sehingga saran saya adalah satu atau dua balapan harus dihapus dan mereka harus melirik pasar di Asia juga, seperti Indonesia," tukasnya.
Indonesia sendiri saat ini tengah disibukkan dengan pekerjaan rumah (PR) membenahi Sirkuit Sentul agar masuk dalam standar yang ditentukan Dorna. Salah satunya minimal kualitas aspal, yakni grade 2. Sedangkan saat ini, Sentul masih grade 3.
Sebelumnya Deputi Bidang V Harmonisasi dan Kemitraan Menpora, Gatot S Dewa Broto pernah berkomentar perihal niatan tersebut. Dia berkata bahwa anggaran yang ada saat ini lebih diproyeksikan untuk penempaan atlet Tanah Air menuju Asian Games 2018. Artinya, Kemenpora tetap menyerahkan kepada pihak swasta. (Baca juga: Kemenpora Ogah Benahi Sirkuit Sentul)
"Mau sih turut membenahi, tapi anggaran tidak memungkinkan. Apalagi mengambil alih. Anggaran kami mulai 2015 akan lebih banyak untuk Asian Games 2018 dan sejumlah cabor lain yang lebih membutuhkan. Kemenpora saat ini akan lebih mendayagunakan swasta. Silakan swasta terus melanjutkan," kata Gatot kepada Sindonews, Desember lalu.
Ciabatti mengeluhkan jatah balapan yang diberikan Spanyol lebih banyak ketimbang negara lain. Tercatat, ada empat balapan yang digelar di Negeri Matador, yakni GP Spanyol, Catalunya, Aragon, dan seri penutup di Valencia. Sedang Italia dan Amerika Serikat sama-sama menggelar dua balapan di musim ini.
Dia tak menampik bila jatah yang diberikan Dorna kepada Spanyol lantaran keberhasilan Marc Marquez merebut mahkota juara dua musim secara berturut-turut. Namun mereka harus melihat fakta lain bahwa pertumbuhan gelaran kuda besi di Asia tak kalah dengan negara Eropa maupun Amerika, terutama di Indonesia.
Sejauh ini, jatah yang diberikan Dorna kepada negara di Asia hanya berlaku pada Malaysia. Negeri Jiran itu memang mempunyai pengalaman yang matang dalam menghelat balap motor ini sejak 31 Maret 1996 di Sirkuit Shah Alam.
"Balapan selalu berubah dan tidak semua setiap perubahan itu kita suka, tapi itu kenyataannya. Lihatlah kalender musim ini, kami mempunyai empat balapan MotoGP di Spanyol dan ini tidak masuk akal. Saya menyadari bahwa balap motor begitu populer di Spanyol sejak 2014, karena semua juara di kelas berbeda berasal dari sana," kata Ciabatti dikutip Speedweek, Jumat (3/4/2015).
"Mungkin salah satu standar penilaiannya adalah ada banyak pembalap lahir dari Spanyol, fans, sponsor, dan perhatian pecinta balap motor di sana. Tapi jika jatah balapan ada empat dari 18 balapan di Spanyol, maka saya rasa itu tidak ideal. Meskipun ada alasan itu. Kita sebaiknya bisa memperluas pasar MotoGP dan rumor tentang rencana Dorna untuk menggelar 20 balapan di tahun mendatang harus didukung."
Lebih lanjut: "Tapi bukan berarti mereka akan menambah negara baru dan mempertahankan jatah balapan di Spanyol. Sehingga saran saya adalah satu atau dua balapan harus dihapus dan mereka harus melirik pasar di Asia juga, seperti Indonesia," tukasnya.
Indonesia sendiri saat ini tengah disibukkan dengan pekerjaan rumah (PR) membenahi Sirkuit Sentul agar masuk dalam standar yang ditentukan Dorna. Salah satunya minimal kualitas aspal, yakni grade 2. Sedangkan saat ini, Sentul masih grade 3.
Sebelumnya Deputi Bidang V Harmonisasi dan Kemitraan Menpora, Gatot S Dewa Broto pernah berkomentar perihal niatan tersebut. Dia berkata bahwa anggaran yang ada saat ini lebih diproyeksikan untuk penempaan atlet Tanah Air menuju Asian Games 2018. Artinya, Kemenpora tetap menyerahkan kepada pihak swasta. (Baca juga: Kemenpora Ogah Benahi Sirkuit Sentul)
"Mau sih turut membenahi, tapi anggaran tidak memungkinkan. Apalagi mengambil alih. Anggaran kami mulai 2015 akan lebih banyak untuk Asian Games 2018 dan sejumlah cabor lain yang lebih membutuhkan. Kemenpora saat ini akan lebih mendayagunakan swasta. Silakan swasta terus melanjutkan," kata Gatot kepada Sindonews, Desember lalu.
(rus)