Lima Alasan Manchester City untuk Pertahankan Pellegrini
Senin, 13 April 2015 - 15:15 WIB
Lima Alasan Manchester City untuk Pertahankan Pellegrini
A
A
A
MANCHESTER - Rumor yang menyebut Manuel Pellegrini bakal dipecat sebagai pelatih Manchester City semakin berhembus kencang pasca kekalahan telak 2-4 dari Manchester United, Minggu (12/4) akhir pekan kemarin. Pasalnya, kekalahan itu semakin menipiskan peluang City untuk mempertahankan gelar juara Liga Inggris musim ini.
The Citizens saat ini duduk di peringkat empat dan tertinggal 12 poin dari Chelsea yang duduk di posisi puncak. Padahal, Liga Inggris merupakan satu-satunya kompetisi di mana City masih berpeluang meraih gelar setelah tersingkir dari Piala Liga, Piala FA dan Liga Champions.
Melihat fakta itu, kemungkinan Pellegrini dipecat memang sangat besar. Apalagi, City memang dikenal sebagai tim yang tak segan memecat pelatih apabila klub gagal meraih gelar.
Namun demikian, ada beberapa hal yang bisa jadi pertimbangan City untuk tetap mempertahankan Pellegrini setidaknya hingga satu musim ke depan.
Kestabilan Tim
Mempertahankan Pellegrini untuk musim depan bisa jadi cara City untuk menjaga kestabilan tim. Para pemain tentu tidak harus beradaptasi dengan strategi dan sosok baru, jika City mempertahankan pelatih asal Chile itu.
Hal ini diperkuat dengan dukungan sejumlah pemain kepada Pellegrini. Gelandang City, Fernandinho menyebut, Pellegrini sebagai sosok pelatih yang mampu memahami para pemain.
"Manuel Pellegrini seorang pelatih yang sangat baik. Dia memberi kami banyak kepercayaan,” tegas Fernandinho, seperti dikutip Daily Star, Selasa (24/3/2015).
Lebih Baik dari Roberto Mancini
Tidak banyak pelatih yang mampu memenangkan gelar juara Liga Inggris di musim debutnya. Dan Manuel Pellegrini masuk ke dalam jajaran tersebut.
Hal ini jelas lebih baik dari deretan pelatih City sepanjang sejarah klub termasuk Roberto Mancini. Seperti diketahui, Mancini memenangkan gelar juara Liga Inggris di musim ketiganya pada 2011-2012.
Produktivitas gol City di bawah Pellegrini juga lebih baik daripada saat era Mancio -sapaan akrab Mancini. Di musim lalu misalnya, dari 38 laga, City mencetak 102 gol atau sembilan gol lebih banyak dari saat City memenangkan gelar juara Liga Inggris di era Mancini pada musim 2011-2012.
Catatan Bagus di Liga Champions
Manuel Pellegrini adalah pelatih pertama yang berhasil menghantarkan City lolos dari fase grup Liga Champions. Itu terjadi di dua musim kepemimpinannya: 2013-14 dan 2014/15 (musim ini).
Sayangnya, City memang hanya berhasil hingga babak 16 besar. Namun hal ini tentu suatu kemajuan mengingat City baru menjelma sebagai tim besar pada 2008.
Di bawah Pellegrini, City Tampil Atraktif
"Satu hal yang menjadi alasan kenapa saya berada di sini adalah untuk cara main kami. Suporter Manchester City akan melihat tim mereka bermain berbeda daripada yang sebelumnya. Kami akan mencoba menjadi tim yang atraktif,"
Itulah yang diucapkan Pellegrini dalam jumpa persnya saat dilantik menjadi pelatih City pada Juli 2013. Dan Pellegrini sukses membuktikan hal tersebut.
Desember 2013, Pellegrini memenangkan gelar pelatih terbaik di Liga Inggris. Hal ini berkat gaya main yang dia terapkan di City. Gaya bermain City yang membuat mereka mampu mencetak gol dengan segala cara bahkan dijuluki Death by Beautiful Geometry oleh harian The Daily Telegraph.
Pada Januari 2014, City melewati 100 gol di semua kompetisi hanya dalam 34 pertandingan. Di akhir bulan yang sama. City sukses menciptakan 115 gol di semua kompetisi, yang merupakan rekor gol paling banyak dibanding klub manapun di Eropa.
Kandidat yang Tersedia
Melatih klub seperti Manchester City di satu sisi memang menguntungkan. Dengan gelontoran dana besar, siapapun pelatih bakal mampu membeli pemain bintang. Namun di sisi lain, tekanan yang besar dari para petinggi klub bisa membuat para pelatih stress.
Dari nama-nama yang pernah dikaitkan dengan City seperti Diego Simeone, Jurgen Klopp, dan Pep Guardiola, mereka diberikan kebebasan dan jarang sekali mendapat tekanan dari para petinggi di klub masing-masing.
Simeone misalnya, para petinggi Atletico tak langsung memecat pelatih asal Argentina ini kendati Atleti kemungkinan gagal untuk mempertahankan gelar juara Liga Spanyol musim ini. Atau Jurgen Klopp yang tetap mendapat kepercayaan petinggi Dortmund kendati tim berada di jurang degradasi di Liga Jerman awal musim ini
The Citizens saat ini duduk di peringkat empat dan tertinggal 12 poin dari Chelsea yang duduk di posisi puncak. Padahal, Liga Inggris merupakan satu-satunya kompetisi di mana City masih berpeluang meraih gelar setelah tersingkir dari Piala Liga, Piala FA dan Liga Champions.
Melihat fakta itu, kemungkinan Pellegrini dipecat memang sangat besar. Apalagi, City memang dikenal sebagai tim yang tak segan memecat pelatih apabila klub gagal meraih gelar.
Namun demikian, ada beberapa hal yang bisa jadi pertimbangan City untuk tetap mempertahankan Pellegrini setidaknya hingga satu musim ke depan.
Kestabilan Tim
Mempertahankan Pellegrini untuk musim depan bisa jadi cara City untuk menjaga kestabilan tim. Para pemain tentu tidak harus beradaptasi dengan strategi dan sosok baru, jika City mempertahankan pelatih asal Chile itu.
Hal ini diperkuat dengan dukungan sejumlah pemain kepada Pellegrini. Gelandang City, Fernandinho menyebut, Pellegrini sebagai sosok pelatih yang mampu memahami para pemain.
"Manuel Pellegrini seorang pelatih yang sangat baik. Dia memberi kami banyak kepercayaan,” tegas Fernandinho, seperti dikutip Daily Star, Selasa (24/3/2015).
Lebih Baik dari Roberto Mancini
Tidak banyak pelatih yang mampu memenangkan gelar juara Liga Inggris di musim debutnya. Dan Manuel Pellegrini masuk ke dalam jajaran tersebut.
Hal ini jelas lebih baik dari deretan pelatih City sepanjang sejarah klub termasuk Roberto Mancini. Seperti diketahui, Mancini memenangkan gelar juara Liga Inggris di musim ketiganya pada 2011-2012.
Produktivitas gol City di bawah Pellegrini juga lebih baik daripada saat era Mancio -sapaan akrab Mancini. Di musim lalu misalnya, dari 38 laga, City mencetak 102 gol atau sembilan gol lebih banyak dari saat City memenangkan gelar juara Liga Inggris di era Mancini pada musim 2011-2012.
Catatan Bagus di Liga Champions
Manuel Pellegrini adalah pelatih pertama yang berhasil menghantarkan City lolos dari fase grup Liga Champions. Itu terjadi di dua musim kepemimpinannya: 2013-14 dan 2014/15 (musim ini).
Sayangnya, City memang hanya berhasil hingga babak 16 besar. Namun hal ini tentu suatu kemajuan mengingat City baru menjelma sebagai tim besar pada 2008.
Di bawah Pellegrini, City Tampil Atraktif
"Satu hal yang menjadi alasan kenapa saya berada di sini adalah untuk cara main kami. Suporter Manchester City akan melihat tim mereka bermain berbeda daripada yang sebelumnya. Kami akan mencoba menjadi tim yang atraktif,"
Itulah yang diucapkan Pellegrini dalam jumpa persnya saat dilantik menjadi pelatih City pada Juli 2013. Dan Pellegrini sukses membuktikan hal tersebut.
Desember 2013, Pellegrini memenangkan gelar pelatih terbaik di Liga Inggris. Hal ini berkat gaya main yang dia terapkan di City. Gaya bermain City yang membuat mereka mampu mencetak gol dengan segala cara bahkan dijuluki Death by Beautiful Geometry oleh harian The Daily Telegraph.
Pada Januari 2014, City melewati 100 gol di semua kompetisi hanya dalam 34 pertandingan. Di akhir bulan yang sama. City sukses menciptakan 115 gol di semua kompetisi, yang merupakan rekor gol paling banyak dibanding klub manapun di Eropa.
Kandidat yang Tersedia
Melatih klub seperti Manchester City di satu sisi memang menguntungkan. Dengan gelontoran dana besar, siapapun pelatih bakal mampu membeli pemain bintang. Namun di sisi lain, tekanan yang besar dari para petinggi klub bisa membuat para pelatih stress.
Dari nama-nama yang pernah dikaitkan dengan City seperti Diego Simeone, Jurgen Klopp, dan Pep Guardiola, mereka diberikan kebebasan dan jarang sekali mendapat tekanan dari para petinggi di klub masing-masing.
Simeone misalnya, para petinggi Atletico tak langsung memecat pelatih asal Argentina ini kendati Atleti kemungkinan gagal untuk mempertahankan gelar juara Liga Spanyol musim ini. Atau Jurgen Klopp yang tetap mendapat kepercayaan petinggi Dortmund kendati tim berada di jurang degradasi di Liga Jerman awal musim ini
(bbk)