alexametrics

Jalan Memutar Arsenal Menuju Liga Europa

loading...
Jalan Memutar Arsenal Menuju Liga Europa
Final Piala FA nanti malam menjadi peluang Arsenal untuk bisa menjaga asa berlaga di LIga Europa. Foto: dok/Reuters
A+ A-
LONDON - Kombinasi 11 trofi Piala FA sejak pergantian abad menjadi kebanggaan Arsenal dan Chelsea saat kembali dipertemukan di final nanti malam. Tongkat estafet kejayaan klub London yang berlangsung di Wembley Stadium tersebut sekaligus menjadi ujian kualitas racikan Mikel Arteta versus Frank Lampard.

Terhitung sejak 2001, dominasi Arsenal dan Chelsea di Piala FA memang begitu luar biasa. The Gunners meraihnya enam kali (2001/2002, 2002/2003, 2004/2005, 2013/2014, 2014/2015, 2016/2017). Sementara Chelsea lima kali (2006/2007, 2008/2009, 2009/2010, 2011/2012, 2017/2018). Hegemoni keduanya hanya mengalami gangguan sedikit dari Manchester United (2003/2004, 2015/2016) dan Manchester City (2010/2011, 2018/2019).

Dalam kurun waktu tersebut kedua tim dua kali bersua di final, yakni pada musim 2001/2002 dan 2016/2017. Uniknya, baik Arteta maupun Lampard juga turut andil menjuarainya ketika aktif bermain di klub masing-masing. Arteta menyumbangkan dua trofi untuk Arsenal (2013/2014, 2014/2015) dan Lampard empat trofi untuk Chelsea (2006/2007, 2008/2009, 2009/2010, 2011/2012). (Baca: Fakta Laga Arsenal vs Chelsea: Rekor The Gunners)

Berbagai fakta tersebut jelas membuat final Piala FA kali ini terasa begitu menarik. Terlebih Arteta dan Lampard berpeluang mempersembahkan trofi pertamanya sebagai pelatih. Di bawah komando keduanya, Arsenal dan Chelsea perlahan menunjukkan progres signifikan, terutama sejak kompetisi kembali bergulir awal Juni.



Bersama Arteta, Arsenal meraih tujuh kemenangan dalam 10 pertandingan terakhir di semua kompetisi, termasuk mengalahkan juara Liga Primer Liverpool 2-1 (16/7) dan Manchester City (Man City) 2-0 di semifinal Piala FA (19/7).

Kans The Gunners meraih trofi ke-14 atau yang terbanyak sepanjang sejarah Piala FA didukung statistik. Arsenal hanya kalah satu kali dalam 13 pertemuan terakhir di final Piala FA kontra Chelsea. Motivasi kian besar lantaran kemenangan atas Chelsea otomatis bakal meloloskan Pierre-Emerick Aubameyang dkk ke Liga Europa musim depan.



Sebuah peluang emas mengingat Arsenal finis di urutan kedelapan klasemen akhir Liga Primer. Untuk pertama kalinya sejak 1995, mereka finis di luar enam besar Liga Primer. Piala FA bisa menjadi jalur memutar The Gunners bermain di Eropa. (Baca juga: Enaknya Haji di Tengah Pandemi, Gratis dan Dilayani Seperti Sultan)

Membawa Arsenal juara Piala FA, Arteta yang menggantikan Unai Emery, Desember 2019, menerapkan standar tinggi. Dia menilai pencapaian Arsenal musim ini secara keseluruhan bukanlah sesuatu yang bagus sehingga dibutuhkan peningkatan kinerja dan kualitas skuad bila ingin bersaing musim depan. “Setelah semua yang terjadi, jika kami dapat memenangkan final Piala FA dan lolos ke Eropa, kami dapat mengatakan itu oke. Tapi, itu bukan level untuk klub seperti Arsenal," kata Arteta, dilansir standard.co.uk.

Kemampuan pelatih Spanyol tersebut semakin diuji Shkodran Mustafi, Gabriel Martinelli, Calum Chambers, dan Pablo Mari absen karena cedera. Sementara penjaga gawang Berd Leno kurang fit. Itu artinya, kemungkinan besar posisi Leno akan digantikan Emiliano Martinez dengan dukungan David Luiz, Kieran Tierney, dan Rob Holding.

Di lini depan, Arsenal mengandalkan trio Alexandre Lacazette, Aubameyang, dan Nicolas Pepe. Kehati-hatian Arteta sangat diperlukan mengingat kinerja Chelsea musim ini boleh dibilang jauh lebih baik. Bersama Lampard, The Blues finis di urutan keempat klasemen akhir Liga Primer dengan persentase kemenangan 54,7 sepanjang musim ini. (Baca juga: Satu Desa Dihancurkan, Israel Paksa 200 Warga Palestina Pergi)

Sejak kompetisi bergulir Juni lalu, Chelsea bahkan hanya kalah tiga kali dalam 11 pertandingan terakhir. Sebuah pencapaian luar biasa mengingat Lampard hanya menggunakan skuad seadanya karena Chelsea dilarang beraktivitas di bursa transfer musim panas lalu.

Memenangkan Piala FA jelas bakal membuat kualitas Lampard semakin diperhitungkan. Sebagai bentuk keseriusannya, pelatih berusia 42 tahun tersebut bahkan menunda pembicaraan mengenai bursa transfer karena ingin fokus membawa Chelsea menjuarai Piala FA musim ini. “Kami semua bisa meningkatkan kinerja, termasuk saya sendiri, itulah inti sepak bola. Namun, jika kami ingin merekrut pemain di area tertentu, itu bisa membantu,” tandas Lampard.

Komposisi terbaik pun disiapkan Lampard. Trio Matero Kovacic, Jorginho, dan Mason Mount memperkuat lini tengah. Mereka akan menyuplai barisan penyerang Callum Hudson-Odoi, Christian Pulisc, dan Olivier Giroud.

Antusiasme tinggi dilontarkan Pulisic. Gelandang Amerika Serikat (AS) tersebut menuturkan memenangkan Piala FA adalah kesempatan bagus bagi para pemain sekaligus sebagai ajang pembuktian potensi besar yang dimiliki Chelsea. (Lihat videonya: Puluhan Orang Terjaring Razia Masker di Jakarta Pusat)

“Setelah melewati musim yang gila dan menempati urutan keempat Liga Primer, kami mencapai final Piala FA. Saya mengetahui betapa pentingnya trofi ini. Saya merasa terhormat bisa berada di final dan memiliki kesempatan memenangkannya. Saya sangat bersemangat," tandas Pulisic. (Alimansyah)
(ysw)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak