Konsistensi Penampilan Jadi PR Melati Daeva Oktavianti
Kamis, 30 April 2020 - 14:30 WIB
loading...
Praveen Jordan dan Melati Daeva Oktavianti. Foto/PBSI
A
A
A
JAKARTA - Konsistensi permainan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pasangan ganda campuran Indonesia Praven Jordan/Melati Daeva Oktavianti. Pasalnya, duet yang digadang-gadang menjadi penerus Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad itu kerap menunjukkan penampilan naik turun.
Gelar juara turnamen level Super 1000 All England menjadi pembuktian pasangan yang baru diduetkan pada 2018 lalu itu. Trofi ketiga yang diraih sejak keduanya berpasangan tersebut seolah-olah menjadi jawaban atas keraguan penampilan keduanya.
Pasalnya, Praven/Melati mengawali musim 2020 dengan cukup buruk. Pada turnamen pembuka Malaysia Masters 2020, keduanya langsung tersingkir di babak pertama. Mereka takluk dari pasangan nonunggulan, Man Wei Chong/Pearly Tan. Situasi serupa kembali dihadapi Praven/Melati pada ajang Daihatsu Indonesia Masters 2020, asa melangkah ke semifinal dikandaskan pasangan nonunggulan asal Prancis Thom Gicquel/Delphine Delrue (Perancis).
Melati tidak menampik jika konsistensi penampilan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus mereka perbaiki untuk bisa bersaing di level tertinggi. “Yang pasti dari segi konsisten permainan harus diperbaiki. Maunya sih kami bisa lebih konsisten di setiap turnamen. Lebih baik dari penampilan sebelumnya yang masih naik turun,” kata Melati dilansir laman PBSI.
Pernyataan Melati cukup beralasan. Berkaca pada musim lalu, sebelum merebut dua gelar level super 750, yakni Denmark Terbuka dan Prancis Terbuka, pasangan muda ini sempat menunjukkan penampilan kurang meyakinkan sejak awal tahun. Keduanya bahkan melewatkan empat kali peluang juara setelah menjejaki final di India Terbuka, Selandia Baru Terbuka, Australia Terbuka, dan Jepang Terbuka.
Gelar juara turnamen level Super 1000 All England menjadi pembuktian pasangan yang baru diduetkan pada 2018 lalu itu. Trofi ketiga yang diraih sejak keduanya berpasangan tersebut seolah-olah menjadi jawaban atas keraguan penampilan keduanya.
Pasalnya, Praven/Melati mengawali musim 2020 dengan cukup buruk. Pada turnamen pembuka Malaysia Masters 2020, keduanya langsung tersingkir di babak pertama. Mereka takluk dari pasangan nonunggulan, Man Wei Chong/Pearly Tan. Situasi serupa kembali dihadapi Praven/Melati pada ajang Daihatsu Indonesia Masters 2020, asa melangkah ke semifinal dikandaskan pasangan nonunggulan asal Prancis Thom Gicquel/Delphine Delrue (Perancis).
Melati tidak menampik jika konsistensi penampilan masih menjadi pekerjaan rumah yang harus mereka perbaiki untuk bisa bersaing di level tertinggi. “Yang pasti dari segi konsisten permainan harus diperbaiki. Maunya sih kami bisa lebih konsisten di setiap turnamen. Lebih baik dari penampilan sebelumnya yang masih naik turun,” kata Melati dilansir laman PBSI.
Pernyataan Melati cukup beralasan. Berkaca pada musim lalu, sebelum merebut dua gelar level super 750, yakni Denmark Terbuka dan Prancis Terbuka, pasangan muda ini sempat menunjukkan penampilan kurang meyakinkan sejak awal tahun. Keduanya bahkan melewatkan empat kali peluang juara setelah menjejaki final di India Terbuka, Selandia Baru Terbuka, Australia Terbuka, dan Jepang Terbuka.
Lihat Juga :