Alasan MU Mendapat Banyak Penalti

loading...
Alasan MU Mendapat Banyak Penalti
Penalti Bruno Fernandes membawa kemenangan MU dari Copenhagen 1-0. Foto/Standar.co.id
A+ A-
KOLN - Sepagian kemarin, media sosial ramai, terutama Twitter, membicarakan tentang “Penalti FC”. Bahkan, pembicaraan tersebut sempat menjadi trending topik nomor satu. Semua mengacu pada keberhasilan Manchester United (MU) yang melangkah ke semifinal setelah mengalahkan Copenhagen 1-0 melalui penalti Bruno Fernandes pada menit ke-95.

Semua mengacu pada statistik yang disampaikan Opta yang menyebut jika MU sudah mendapatkan penalti 21 kali di semua kompetisi sepanjang musim ini. Angka ini, menurut Opta, adalah yang tertinggi dibandingkan tim mana pun di lima liga top Eropa. (Baca: Pemerintahan Lebanon Bubar di Tengah Kemarahan Publik)

Data ini kemudian dilengkapi Independent dengan menyebutkan dari 110 gol The Red Devils di semua kompetisi, tidak kurang dari 15% berasal dari penalti. Angka itu kemudian diturunkan lagi menjadi delapan dari 17 gol penalti menjadi penentu hasil akhir, baik mengubah hasil imbang menjadi kemenangan atau kekalahan menjadi seri.

Termasuk kemenangan atas Copenhagen di Liga Europa dan Leicester City pada laga terakhir Liga Primer. Penalti yang diberikan setelah Anthony Martial jatuh di kotak penalti membuat pasukan Ole Gunnar Solskjaer ke semifinal. Sementara satu penalti atas Leicester yang kemudian dikandaskan Jesse Lingard membawa Setan Merah ke urutan ketiga klasemen akhir Liga Primer.

Alasan MU Mendapat Banyak Penalti




Semua tentu bisa diperdebatkan. Tapi, mendapatkan penalti saat video assistance referee (VAR) digunakan, bukan persoalan mudah. Meski wasit sudah meniup peluit dan pemain melakukan selebrasi, keputusan itu bisa berubah karena VAR. Seperti pada kasus Mason Greenwood yang sudah melakukan selebrasi karena menjaringkan bola ke gawang Karl-Johan Johnnsson menjelang babak pertama berakhir.

Jadi? Alasan paling rasional yang membuat MU mendapatkan banyak penalti adalah kecepatan penyerang dan kemampuan dribbling dalam mengeksploitasi pertahanan dan pemain belakang lawan. Memiliki Marcus Rashford yang cepat, Martial dengan dribbling yang baik, atau Greenwood dengan kecepatan di sayap kanan mengakibatkan bek lawan sering kewalahan dalam melakukan antisipasi. (Baca juga: Jadi Lumbung Cukai, Kemenperin: Industri Rokok Perlu Diselamatkan)

Dari 21 penalti MU, berawal dari cepatnya pergerakan beberapa pemain memasuki kotak penalti, biasanya dimulai umpan satu-dua sentuhan, through ball atau menggiring bola. Penalti lahir karena pertahanan lawan yang panik imbas tekanan yang datang secara tiba-tiba atau kadang kalah jumlah pemain di daerah pertahanan sendiri.

“Saya pikir itu tipe pemain yang kami miliki. Mereka memiliki kaki yang cepat, keterampilan yang baik, dan sebagian besar (penalti) bahkan tidak bisa diperdebatkan,” kata Solskjaer, tentang kenapa timnya banyak mendapatkan penalti.

Namun, untuk penganut teori kemungkinan, argumen ini bisa dibantah. Apalagi, seperti Manchester City, Liverpool, dan Barcelona tidak mendapatkan penalti sebanyak MU. Padahal, mereka sama-sama tim yang memiliki kecepatan dan kualitas individu. (Lihat videonya: Meneguk Sejarah Panjang Indonesia dalam Secangir Kopi)



Selain MU, satu tiket ke semifinal berhasil diperoleh Inter Milan yang sukses menundukkan Bayer Leverkusen dengan skor 2-1. Nicolo Barella dan Romelu Lukaku membawa Inter unggul cepat 2-0 di awal pertandingan sebelum Kai Havertz memperkecil kedudukan.

“Kami sangat puas. Itu penampilan yang sangat bagus. Kami mempersiapkannya dengan cara yang benar. Kami tidak pernah membiarkan Leverkusen memainkan bola dengan nyaman. Kami melakukan apa yang kami kerjakan dalam latihan,” kata sang pelatih, kepada Sky Sport Italia. (Maruf)
(ysw)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top