alexametrics

Valtteri Bottas Bukan Sekadar Pembalap Bantuan

loading...
Valtteri Bottas Bukan Sekadar Pembalap Bantuan
Valtteri Bottas Bukan Sekadar Pembalap Bantuan
A+ A-
VALTTERI Bottas mengalami peristiwa yang kurang mengenakkan selama membela Mercedes-AMG Petronas. Apakah ini merupakan bagian dari proses panjang agar bersinar di Formula 1 musim depan? Valtteri Bottas tinggal sedikit lagi mengukir sejarah di lap-lap pertengahan Russia Grand Prix di Sirkuit Sochi, Rusia, Minggu (30/9) lalu.

Pria Finlandia tersebut tengah memburu pembalap Red Bull Racing, Max Verstappen, yang berada di posisi terdepan, namun belum juga melakukan pit stop. Di belakangnya ada rekan satu timnya dari Mercedes AMG, Lewis Hamilton, dan pembalap Scuderia Ferrari, Sebastian Vettel.



Bottas memang terlihat dominan di Sirkuit Sochi karena sehari sebelumnya sudah berhasil meraih pole position babak kualifikasi Russia Grand Prix. Kemenangan di Sochi semakin lengkap karena memang satu musim ini tidak sekali pun Bottas berhasil menjadi juara.

Namun, semuanya tiba-tiba berubah ketika James Vowles, Kepala Strategi Mercedes AMG, melakukan kontak radio dengannya. “Valtteri, ini James. Kita ada risiko setelah Lewis melewati Vettel.

Ban mobil dia mengalami kerusakan kecil. Kita harus mengamankan (seri) ini,” ucap James. “Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Bottas. Maklum saja karena di benak pikiran Bottas, Hamilton baru saja keluar dari pit stop untuk mengganti ban.

Sayangnya memang saat keluar dia harus berada di belakang Vettel dan perlu beberapa gerakan untuk melewati pembalap Jerman tersebut. Belum terjawab, tiba-tiba Tony Ross, race engineer untuk Bottas, menghubungi lagi lewat radio.

“Kamu harus membiarkan Lewis lewat di tikungan ke-13,” pintanya. Bottas akhirnya mengaminkan permintaan tersebut. Namun, sangat terasa Bottas sangat ingin memenangi seri Rusia. Di lap-lap terakhir ketika Hamilton dan dirinya berada di posisi 1 dan 2, Bottas menghubungi tim lewat radio.

“Bagaimana kita mengakhiri balapan ini?” tanyanya. Sayangnya James Vowless cuma menjawab singkat. “Pertahankan posisi seperti ini. Nanti kita bicarakan setelah balapan,” jawabnya. Setelahnya, Russia Grand Prix jadi terasa hambar.

Hamilton terlihat jengah ketika menerima trofi juara pertama, sedangkan Bottas walaupun sempat terlihat penasaran ketika menengok ke ban belakang Hamilton, terlihat begitu kaku. Bottas berusaha menyembunyikan kekecewaannya lewat profesionalitas tinggi. Toh bukan sekali ini Mercedes AMG meminta bantuan Bottas untuk membantu Hamilton.

Di Sirkuit Hongaroring, Hungaria, Bottas begitu perkasa menahan Vettel agar tetap di belakangnya, sementara Hamilton melaju kencang hingga garis finis. Saking senangnya berhasil menahan Vettel, Toto Wolff, Direktur Mercedes AMG, mengatakan Bottas adalah wingman yang baik.

Mendengar ucapan tersebut, Bottas memang terlihat emosional. Namun, kembali lagi seperti di Sochi, Bottas saat itu berhasil bersikap profesional dan meredam kekesalannya. Sikap inilah yang kemudian membuat banyak orang berempati terhadap Bottas.

Bahkan, Hamilton usai menerima trofi Russia Grand Prix mengatakan dia akan melakukan hal yang sama jika kondisi sebaliknya terjadi. “Saya tidak mau seperti itu, saya kira lebih baik selesaikan dengan balapan,” kata Bottas menjawab komentar Hamilton.

Namun, bagi Bottas, rasa kesal bukanlah hal yang asing buat dia. Dia sudah belajar untuk melawan rasa tersebut sejak kecil. Dia selalu teringat saat pertama kali berumur 4 tahun dan jatuh cinta pada balapan karting.

Dia harus belajar meredam rasa kesal karena harus makan muesli. Makanan yang terbuat dari rolled oat dicampur dengan biji-bijian, kacang-kacangan, dan buah kering itu harus dia telan karena ayah dan kakeknya mengatakan kakinya akan lebih panjang dan mampu menekan pedal gas jika makan muesli tiap hari.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak