alexametrics

Eric Cantona, Menjaga Kewarasan dengan Berakting

loading...
Eric Cantona, Menjaga Kewarasan dengan Berakting
Eric Cantona, Menjaga Kewarasan dengan Berakting. (Geety Image).
A+ A-
TIDAK ada orang yang tidak terkejut saat Eric Cantona memutuskan pensiun dari sepak bola pada 18 Mei 1997. Hanya kurang satu minggu dari ulang tahunnya ke-31, Eric memutuskan pergi dari Old Tafford, kandang Manchester United.

Publik makin mengernyitkan dahi setelah tahu Eric akan mencoba dunia yang sama sekali tidak pernah disangka para penggemarnya di Manchester United. Mereka kaget karena Eric justru akan alih profesi menjadi bintang film. “Saya tidak menyangka dia justru banting setir jadi pemain film. Dia tidak pernah menunjukkannya kepada kami kalau dia suka berakting,” ujar Ryan Giggs, rekan tim Eric di Manchester United.

Kejutan inilah yang membuat banyak orang tidak habis pikir mengapa Eric meninggalkan dunia yang begitu membesarkan namanya. Dunia yang telah membuatnya begitu dikenal banyak orang.



Dunia yang menciptakan banyak orang pengikut militan. Dalam salah satu wawancaranya dengan The Guardian, Eric mengaku alasannya pergi dari sepak bola karena sudah kehilangan motivasi. Dia mengakui saat memutuskan pensiun umurnya masih ada di zona emas. Masih banyak energi tersimpan yang bisa mendorongnya mengantarkan Manchester United lebih bersinar lagi.

“Tapi saat itu buat saya sepak bola sudah kehilangan sensasinya, makanya saya pensiun,” ujar Eric. Lalu kenapa akhirnya Eric memutuskan jadi bintang film? “Supaya saya tetap waras,” katanya serius.

Eric mengatakan akting merupakan salah satu cara menyelamatkan diri dari gejala post power syndrome. Dia melihat dari dekat banyak temannya yang pensiun dari sepak bola justru jadi berantakan setelah tidak lagi bermain bola. Berbagai masalah mulai dari ketagihan alkohol, narkoba, hingga perceraian.

Dia mengatakan saat ini banyak pesepak bola yang melihat olahraga tersebut sebagai cara mengekspresikan diri. Mereka sama sekali tidak membangun ketertarikan di bidang lain selain sepak bola.

“Jika kamu hanya merasa sepak bola adalah satu-satunya yang bisa kamu lakukan, maka begitu kamu tidak lakukan lagi, sama saja artinya mati. Banyak dari mereka yang berpikir bisa bermain sepak bola untuk selamanya,” ucap Eric.

Dia mengatakan sejak dulu selain sepak bola, dia memang sudah jatuh cinta dengan akting. Namun, dia tidak pernah menunjukkan kepada rekan-rekannya di klub. Baginya akting adalah salah satu cara untuk menyalurkan amarah, energi, dan tindakan destruktif yang biasa dia lakukan.

Menurutnya, dunia akting bisa membuatnya jadi manusia sesungguhnya. Di sepak bola, dia selalu melihat pesepak bola klub lain sebagai lawan yang harus dihancurkan kreativitasnya. Sebaliknya di dunia akting, dirinya adalah musuh itu sendiri.

“Di dunia akting, musuh kita adalah diri kita sendiri. Kita setiap saat harus mengatasi kelemahan diri kita untuk memberikan penampilan terbaik. Dunia akting bahkan bisa mengalahkan kita jika kita tidak bisa memberikan hasil yang terbaik,” sebutnya. Kecintaan Eric pada dunia akting sebenarnya bermula dari keluarganya sendiri.

Kedua orang tuanya, Albert Cantona dan Eleonore, adalah pasangan orang tua yang begitu bersemangat dengan dunia seni. Albert, yang sehari-hari bekerja sebagai perawat, mengisi waktu luangnya dengan melukis. “Dia melukis bukan untuk dijual tapi karena dia merasa harus melukis,” tutur Eric.

Sementara, Elonore adalah seorang penjahit yang juga jatuh cinta dengan sinema. Keduanya selalu mengajak ketiga anak mereka, Joel, Eric, dan Jean Marie untuk tidak hanya fokus dalam bekerja, juga mencari makna kehidupan. “Saya mendapatkan pelajaran yang baik dari mereka untuk mempelajari dunia ini. Tidak hanya keindahannya saja, juga tragedinya,” ucap Eric.

Sisi artistik inilah yang kemudian masuk ke alam pikiran Cantona Bersaudara. Seperti Eric, Joel dan Jean Marie kini terjun ke dunia akting. Jean Marie memilih menjadi sutradara dan produser. Dia sudah membuat beberapa film pendek yang diedarkan di Prancis. Joel mengikuti jejak Eric menjadi seorang aktor.

Dia sudah memerani 12 film buatan Prancis hingga kini. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah film Asterix Obelix : Mission Cleopatra . Ketiganya sama-sama memberikan warna tersendiri bagi sinema Prancis. Bahkan, mereka bekerja sama membuat sebuah rumah produksi bernama Canto Bros.

Rumah produksi ini telah membuat serial dokumenter tentang berbagai kota di dunia yang sangat kuat dengan budaya sepak bola. Selain itu, mereka sudah membuat sebuah film yang paling ditonton oleh penggemar Manchester United, yakni film berjudul Looking For Eric. (Wahyu Sibarani)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak