alexametrics

Liverpool vs Manchester United, El Clasico Inggris

loading...
Liverpool vs Manchester United, El Clasico Inggris
Liverpool vs Manchester United, El Clasico Inggris
A+ A-
LIVERPOOL - Sulit mendiskripsikan pertemuan antara Liverpool dan Manchester United (MU). Sebuah pertandingan yang sudah berulang lebih dari 200 kali dan telah berlangsung sejak 1921. Nanti malam, di Stadion Anfield, menjadi pertemuan ke-201 untuk kedua tim.

Awalnya, Liverpool adalah raja sepak bola Inggris dengan 18 gelar yang mereka miliki di era Divisi Utama. Sayang, setelah musim 1989-1990, The Reds tidak lagi mendapatkan trofi. Berbeda dengan MU yang justru memanen trofi demi trofi di masa Liga Primer. Total 20 gelar berhasil dimiliki The Red Devils.

Ini adalah pertemuan antara dua tim yang jika digabung, telah memenangkan sepertiga dari semua gelar liga Inggris. Mereka telah mendefinisikan diri saling berhadapan satu sama lain, membuat sketsa periode keberhasilan mereka.



Sehingga, saat kedua tim tanpa gelar dalam lima tahun terakhir, tetap tak menurunkan gengsi pertemuan. Laga Liverpool versus MU tetaplah lebih emosional dibanding The Reds melawan Manchester City.

“Menjadi bagian dari pertandingan ini jelas istimewa, itu yang bisa saya katakan. Ini laga terbesar,” kata Pelatih Liverpool Juergen Klopp dikutip situs resmi tim.

Dia ingat, saat masih di Jerman tak pernah ingin melewatkan pertandingan antara Liverpool dan MU. “Saya melakukan apapun agar bisa melihat pertandingan tersebut. Sangat sering bahkan, dan sekarang menjadi bagian di dalamnya,” tambah mantan arsitek Borussia Dortmund tersebut.

The Reds sedang berada di atas angin. Mereka menjadi satu-satunya tim di Liga Primer yang belum tersentuh kekalahan. Mereka berhasil mendulang 45 angka dari kemungkinan 51 poin. Artinya, dari 17 pertandingan terakhir, Jordan Henderson dkk hanya tiga kali imbang.

Liverpool juga menjadi tim dengan kebobolan paling sedikit di Liga Primer. Hanya kemasukan enam gol dari 16 laga membuat pertahanan mereka menjadi terbaik di Inggris.

“Ini pertandingan dimana saat teken kontrak bersama Liverpool, maka harus melakukan semua yang dimiliki untuk memenangkannya. Jika Alex Ferguson mengatakannya El Clasico Inggris maka saya benar-benar diberkati,” tandasnya.

Hanya saja, The Red Devils adalah hantu untuk The Reds. Bukan saja dari sisi gelar, tapi juga sejarah pertemuan. Dari 200 pertandingan, mereka menelan 80 kekalahan dan 55 imbang. Artinya, mereka hanya bisa memenangkan 65 pertandingan.

Sedangkan di delapan pertandingan terakhir Liga Primer, The Reds tak pernah memenangkan laga (imbang 3, kalah 5). “Kami harus memiliki amarah untuk pertandingan Minggu, berjuang untuk poin kami,” tandasnya.

Bek Liverpool Virgil van Dijk meminta timnya tampil dengan percaya diri, bermain dengan gaya yang selama ini menjadi identitas mereka. The Reds, tidak boleh terpengaruh dengan gaya permainan yang dimainkan lawan, termasuk kemungkinan parkir bus.

“Kami tahu siapa yang akan dihadapi. Kami hanya perlu waspada karena mereka memiliki pemain depan bagus,” tutur pemain asal Belanda tersebut.

MU meski menempati peringkat 6 klasemen sementara menolak disebut sebagai under dog. Menghadapi Liverpool, The Red Devils tetap memiliki keinginan mendapatkan tiga angka.

Pelatih MU Jose Mourinho menegaskan ambisinya ke Anfield adalah untuk medapatkan kemenangan. dia akan menurunkan tim yang memiliki keinginan, ambisi, dan kepercayaan diri untuk tiga angka.

Meski, dia mengakui, Liverpool sekarang berada di atas angin karena sedang berada di puncak klasemen. “Kami memiliki keraguan tentang segala hal karena kami tidak tahu pemain mana yang tersedia. Kami akan menjalani laga dengan pemain yang ada. Tapi, mereka ke sana berjuang untuk kemenangan,” kata Mourinho.

The Red Devils hanya kehilangan satu dari tujuh perjalanan terakhir Liga Primer ke Anfield, bahkan mencatatkan clean sheets di dua kunjungan terakhir era Mourinho. Mourinho juga belum pernah kalah dari Liverpool di kandang atau tandang.

Mou mengatakan, Liverpool berkewajiban menjadi penantang gelar Liga Premier mengingat tingkat belanja mereka di bursa transfer musim panas.

"Ini bukan hanya tentang menghabiskan uang dan memperkuat tim. Tim sepak bola lebih dari itu. Tim sepak bola bukan hanya menghabiskan uang. Tim sepak bola mirip seperti rumah,” pungkasnya.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak