alexametrics

Nasib Sarri Ditentukan saat Lawan Man City di Final Piala Liga

loading...
Nasib Sarri Ditentukan saat Lawan Man City di Final Piala Liga
Nasib Sarri Ditentukan saat Lawan Man City di Final Piala Liga
A+ A-
LONDON - Seharusnya tak ada yang perlu terkejut jika nanti Maurizio Sarri dipecat dari Chelsea. Jika dibuat persentase, sejak era Roman Abramovich, Chelsea rata-rata melakukan pergantian pelatih setiap dua musim sekali. Referensi Abramovich bukan pada gelar, tapi kepuasan dan tekanan dari suporter.

Mulai dari Claudio Ranieri, Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, Luiz Filippe Scolari, Rafael Benitez, dan Antonio Conte adalah deret nama besar yang tak bisa memuaskan hasrat Roman Emperor. Bahkan, Roberto di Matteo yang memberikan gelar Liga Champions juga tak bisa menjadi pertimbangan Abramovich mempertahankan arsitek tim asal Italia itu bertahan setelah timnya tampil buruk di kompetisi domestik.

Situasi serupa dialami Conte. Sebelum mendapatkan vonis pecat, Conte yang digantikan Sarri memberikan trofi Piala FA. “Saya tidak khawatir terhadap suporter, tapi hasil. Tentu saja saya memahami kekecewaan mereka karena hasilnya sangat tidak bagus,” kata Sarri, setelah timnya dikalahkan Manchester United (MU) di putaran kelima Piala FA.



Kekalahan sebenarnya hanya menjadi penegas bahwa Chelsea sedang tidak berada dalam situasi normal. Apalagi, setelah Eden Hazard dkk bergantian dikalahkan anggota big six mulai dari Manchester City (Man City) dengan enam gol tanpa balas, Tottenham Hotspur, Arsenal, dan terakhir MU.

Chelsea yang di awal musim bersaing dalam perebutan trofi Liga Primer, kini harus bertempur sekadar mendapatkan tiket ke Liga Champions. Problem itu muncul bermuara dari ego Sarri dalam menerapkan strategi di lapangan.

Saat tim-tim lawan sudah mulai bisa mematikan Sarri-ball-nya yang bertemu kepada Jorginho bahkan tim sekelas Bournemouth bisa mengalahkan Chelsea, Sarri bergeming. Dia menilai bukan sistemnya yang salah, tapi karena ketidakmampuan timnya menerapkan gayanya.

Pemain Chelsea, menurut Sarri, kurang agresif, minim determinasi, dan terlihat kebingungan. Sarri tak mau membuka telinga terkait kritik yang menganggap bahwa memainkan Jorginho sebagai gelandang bertahan atau deep-laying playmaker di belakang Ngolo Kante dan Mateo Kovacic memunculkan kerawanan.

Kante memang mencetak gol, sesuatu yang tidak pernah dilakukan di era pelatih sebelumnya, tapi itu memunculkan kerapuhan di belakang. Sarri tak segera sadar bahkan pada level pergantian pemain yang dilakukan juga sudah terbaca.

Seperti mengganti Kovacic dengan Ross Barkley atau Callum Hudson-Odoi menggantikan Pedro. Seperti catatan Opta, Sarri mengganti pemain pada kisaran menit 60-70, dengan komposisi pemain belakang dengan pemain belakang sekali, gelandang untuk gelandang (11 kali), menarik penyerang memasukkan penyerang (11), dan gelandang untuk penyerang (1).

Semua catatan itu tak membuat Sarri mulai mengerti bahwa dirinya butuh berubah. Mantan pelatih Napoli itu hanya tahu jika pemain Chelsea terlalu individualistis. “Jika mendapatkan ruang, tentu bisa melakukan aksi individu. Tapi, jika situasinya tidak memungkinkan, dibutuhkan lebih banyak perputaran bola yang lebih cepat dan pergerakan tanpa bola untuk membuka kesempatan lainnya membuat gol,” tandasnya.

Sarri juga cukup percaya diri mengatakan tak takut digusur dari kursi pelatih The Blues. Padahal, beberapa nama calon penggantinya mulai beredar. Paling santer adalah mantan Pelatih Real Madrid Zinedine Zidane. “Tidak ada khawatir, karena kekhawatiran terbesarku adalah saat berada di Liga 2 Italia,” ujarnya.

Jika sudah begitu keras kepala, tentu semua tergantung Sarri. Apakah dia mau berubah atau tidak. Jika tidak, melihat tradisi Abramovich, masa depan Sarri sebenarnya tinggal hitungan hari. Setidaknya, kinerjanya akan dilihat sampai laga melawan Man City di final Piala Liga.

Jika menghadapi The Citizens bisa mendapatkan kemenangan, karier Sarri bisa lebih lama di Stamford Bridge. Tapi, jika tidak, media Inggris sudah meramal bahwa Sarri harus mengepak kopernya untuk kembali ke Italia.

Sebelum itu, Sarri berkesempatan memperlihatkan perbaikan timnya pada saat pertandingan melawan Malmo di leg kedua babak 32 besar Liga Europa di Stamford Bridge, dini hari nanti. The Blues memiliki modal bagus karena menang 2-1 pada leg pertama. Chelsea boleh kalah asal tidak lebih dari satu gol atau imbang.

“Kami tahu akan menghadapi pertandingan Liga Europa. Kami kemudian akan bermain di Wembley setelah final Piala FA tahun lalu dan sekarang Community Shield. Kami terbiasa berjuang untuk piala sehingga mudah-mudahan bisa tetap tenang dan memenangkan piala hari Minggu nanti,” kata center back Chelsea Azpilicueta, dikutip situs resmi.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak