alexametrics

Misi Ganda Pemain-pemain Wanita dalam Piala Dunia 2019

loading...
Misi Ganda Pemain-pemain Wanita dalam Piala Dunia 2019
Misi Ganda Pemain-pemain Wanita dalam Piala Dunia 2019
A+ A-
MONTPELLIER - “Tomboi. Baiklah, panggil aku tomboi. Tomboi (yang) mendapatkan medali. Tomboi (yang) memenangkan kejuaraan. Tomboi (yang) bisa terbang. Oh iya tomboi bukan anak laki-laki.” Di kalangan pencinta dan pejuang sepak bola wanita, kalimat tersebut sangatlah populer. Kalimat yang dikatakan salah satu legenda sepak bola wanita Julie Foudy.

Pemain tengah tim nasional Amerika Serikat (AS) yang bermain dari 1987 sampai 2004 itu mendapatkan dua gelar Piala Dunia Wanita, medali emas Olim piade, dengan 274 kali penampilan. Foudy menjadi pemain pertama asal Amerika yang mendapatkan FIFA Fair Play Award. Sampai sekarang stigma bahwa sepak bola adalah olahraga pria masih melekat.

Sejak digelar pertama kali di China pada 1991, para pemain sepak bola wanita dianggap anak-anak tomboi yang berusaha melawan “kodrat”. Mereka tetap berada di bawah bayang-bayang sepak bola pria dengan segala dominasi dan semua keglamorannya. Perspektif ini tidak saja di benak masyarakat, tapi juga pemangku olah raga, baik di level federasi maupun pemerintah.



Sepak bola wanita seperti tak pernah mendapat ruang untuk bisa sejajar dengan pria. Pelatih Italia Milena Bertolini sampai perlu mengatakan bahwa timnya sedang dalam “misi” membantu negaranya” menemukan dan menghargai sepak bola wanita. “Saya tahu perubahan budaya membutuhkan banyak waktu. Tapi, tim ini mampu menghancurkan beberapa prasangka itu dan mereka membuat beberapa perubahan karena itulah misi mereka,” kata Bertolini, setelah memastikan kemenangan atas China dikutip BBC.

Italia kembali ke panggung terbesar setelah absen 20 tahun dan kemenangan atas Belanda di babak 8 besar pada hari Sabtu di Valenciennes akan mewakili kinerja terbaik mereka di tingkat internasional. Penampilan Italia terbilang menjanjikan bukan saja karena menyingkirkan China yang telah merasakan perempat final dalam tiga dari lima Piala Dunia terakhir, tapi juga selalu membuat gol di setiap pertandingan.

Pelatih wanita berusia 53 tahun ini melihat bagaimana respons di negara mereka sangat positif, baik dari sisi jumlah penonton, pemberitaan di media, serta pesan-pesan dukungan dari masyarakat dan keluarga. “Permainan kami berbeda dari permainan yang biasa dilihat (sepak bola pria). Ini permainan penuh sportivitas dan nilai-nilai yang terlihat di masyarakat sehari-hari,” katanya.

Bicara statistik, BBC mengungkap kan data yang memberikan indikasi bahwa persaingan di sepak bola wanita dan pria di atas lapangan tidak bisa menjadi lebih baik. Sejauh ini di turnamen tahun ini Piala Dunia Wanita telah tercipta 2,69 gol per pertandingan. Torehan ini lebih baik dari Piala Dunia 2018 yang mencetak 2,64 gol per laga.

Di Inggris, liga wanita dalam tiga musim terakhir tercipta 3,05 gol per pertandingan, lebih banyak dari Liga Primer, yakni 2,76 gol. Sementara bicara nilai, para pemain wanita lebih jarang melakukan pelanggaran dibandingkan pria. Dari data yang disediakan Opta Sports untuk FA, pada musim 2018/2019, para pemain (pria) Liga Primer tiga kali lebih banyak mendapatkan kartu dibandingkan Liga Wanita.

Tiga musim terakhir, ada 3.777 kartu kuning yang diberikan kepada para pemain Liga Primer (3,3 per pertandingan) dibandingkan 399 yang diberikan kepada para pemain Liga Super Wanita (1,5 perpertandingan).Tingginya pelanggaran di sepak bola pria, menurut Janie Frampton, yang menjadi wasit dalam pertandingan internasional, baik pria maupun wanita dalam 30 tahun kariernya, menganggap karena banyaknya ego dan uang di sepak bola pria.

Uang memang menjadi salah satu isu indikasi stigma di sepak bola wanita. Meski FIFA telah meningkatkan hadiah dua kali lipat total hadiah uang turnamen ini menjadi USD30 juta, jumlah tersebut masih terpaut jauh dari Piala Dunia Rusia 2018 yang mencapai angka USD400 juta.

Bahkan, Prancis, sang juara Piala Dunia 2018, membawa pulang hadiah USD38 juta, lebih banyak dari total hadiah di turnamen. Masalahnya, besaran hadiah yang diterima kemudian menjadi kewenangan dari federasi soal pembagiannya. Situasi ini memunculkan masalah baru karena gaji dan uang saku yang diterima para pemain wanita di timnas jumlahnya lebih sedikit dari pria.

Imbasnya, sempat ada beberapa protes yang dilakukan tim wanita terhadap federasi mereka. Seperti di AS, tim wanita mengambil tindakan hukum terhadap asosiasi sepak bola nasional atas masalah upah. Serikat pemain Australia telah meminta FIFA memberikan penghargaan kepada pemain pria dan wanita secara setara.

Di Nigeria, timnas wanita melakukan aksi protes di sebuah hotel pada 2016 atas pembayaran yang belum dibayar, setelah memenangkan Piala Afrika Wanita. Kesepakatan pada 2018 di Selandia Baru menyebabkan tim pria dan wanita me nerima pembayaran yang sama dan hadiah uang setara sambil mewakili timnas.

Terbaru, Federasi Belanda barubaru ini mencapai kesepakatan yang akan melihat kompensasi komersial untuk pemain tumbuh yang tujuan akhirnya bisa sederajat dengan pemain pria pada 2021 dan 2023. “Kami harus memenangkan Piala Dunia untuk mendukung perjuangan kami dalam situasi seperti ini. Tapi, jika kami bisa terus mengembangkan permainan, baik di lapangan maupun luar lapangan, argumen tersebut bisa menjadi titik awal perjuangan,” kata pemain Inggris Fran Kirby.

Misi Kirby tersebut mendapatkan titik terang setelah Inggris melaju ke perdelapan final Piala Dunia Wanita. Mereka akan menghadapi Norwegia. Selain Inggris, ada Prancis meng hadapi AS, Italia melawan Belanda, dan Jerman ditantang Swedia.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak