alexametrics

Mengenang Kembali Kisah Tjun Tjun dan Johan Wahjudi di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis (Seri 2 - Habis)

Magnificent Seven Indonesia Yang Sulit Terkalahkan di Eranya

loading...
Magnificent Seven Indonesia Yang Sulit Terkalahkan di Eranya
Magnificent Seven Indonesia Yang Sulit Terkalahkan di Eranya/BWF
A+ A-
Sosok Tjun Tjun dan Johan Wahyudi memang fenomenal di era kejayannya pada 1970an. Siapakah Tjun Tjun dan Johan Wahyudi yang menghebohkan dunia bulu tangkis saat itu?



Jawa, sebuah pulau dengan populasi terbanyak di dunia yang dihuni lebih dari 145 juta jiwa sungguh beruntung dianugerahi dua anak lelaki yang mendominasi bulu tangkis dunia. Liang Chunsheng lahir di Jawa Tengah pada 4 Oktober 1952, anak paling bontot dari lima bersaudara yang merupakan keluarga keturunan Indonesia-China.





Pada 10 Februari 1953, Ang Yu Liang lahir di Jawa Timur, anak keempat dari tujuh bersaudara yang juga berasal dari orang tua keturunan China-Indonesia. Dan, sesuai aturan hukum di Indonesia, keturunan etnis China yang tinggal di Indonesia harus mengganti namanya sesuai nama Indonesia. Liang Chunseng mengubah namanya Tjun Tjun dan Ang Yu Liang menjadi Johan Wahjudi.



Tjun Tjun bermain bulu tangkis mulai usia 14 tahun dan Wahjudi mengenal olahraga teplok bulu itu di usia enam tahun. Wahjudi kemudian berlatih di klub bulu tangkis paling terkenal di Surabaya, PB Rajawali. Klub Rajawali ini juga tempat berlatih juara dunia 8 kali All England, Rudy Hartono (nama aslinya Nio Hap Liang).



Tjun Tjun dikenal bisa bermain di tunggal dan ganda saat di klub dan training center atau pemusatan latihan nasional (Pelatnas). Di kemudian hari dia disatukan dengan Wahjudi oleh pelatih Stanley Gouw. Gouw kemudian dikenal sebagai pencetak ’’Magnificent Seven” bulu tangkis Indonesia di eranya, yakni Rudy Hartono, Liem Swie King, Iie Sumirat, Tjun Tjun, Johan Wahjudi, Christian Hadinata, dan Ade Chandra. Ketujuh seniman bulu tangkis hebat Indonesia itu sangat mendominasi bulu tangkis dunia kala itu. Baca juga: Kami Bermain untuk Negara Bukan karena Uang Atau Diri Kami



Di bawah tangan dingin Gouw, Tjun Tjun dan Wahjudi menjelmas menjadi ganda utama di Indonesia setelah memenangi kejuaraan nasional pada 1972. Di tahun tersebut, mereka memenangi gelar internasional pertama dalam turnamen invitasi dunia di Jakarta. Mereka mampu mengalahkan juara All England, Christian Hadinata dan Ade Chandra dengan skor 15-10 15-10. (saat ini sistem poin bulu tangkis memakai kemenangan 21)



Kemenangan Tjun Tjun dan Wahjudi menjadi pembuka rivalitas mereka dengan Christian dan Ade Chandra di eranya. Mereka pun bertemu di All England 1973 setelah menunaikan tugas membawa Tim Piala Thomas Indonesia menghancurkan Denmark 8-1 dalam final di Jakarta. Nah, saat bertemu di final All England 1973, Tjun Tjun/Wahjudi kalah dari Chriatian/Ade Chandra dalam dua set 1-15, 7-15.



Setelah itu, mereka giliran membalas kekalahannya di Denmark Open, German Open dan Singapore Open. Di Singapura, mereka hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk mengalahkan Christian Hadinata/Ade Chandra. Tahun berikutnya, mereka saling berkejaran dalam memburu gelar.



Mereka memenangi lima gelar internasional di ganda putra, All England, Denmark Open, Asian Games Teheran 1974, dan dua turnamen invitasi dunia. Setelah itu, mereka sepert mengalami paceklik gelar pada 1975. Tjun Tjun dan Wahjudi mengakhiri paceklik gelar saat mereka naik podium juara di kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 1977 di Malmo, Swedia.
(aww)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak