alexametrics

Bintang NBA Enes Kanter Kembali Kritik Kebijakan Erdogan

loading...
Bintang NBA Enes Kanter Kembali Kritik Kebijakan Erdogan
Pebasket NBA asal Turki, Enes Kanter, mengecam pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan atas iklim demokrasi yang berjalan di negeri asalnya tersebut. Foto: Dok
A+ A-
NEW YORK - Pebasket NBA asal Turki, Enes Kanter, mengecam pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan atas iklim demokrasi yang berjalan di negeri asalnya tersebut. Kanter menyebut banyak hakim, jaksa, dan wartawan dipenjara, media massa dibungkam dan juga sekolah ditutup setelah kegagalan aksi kudeta pada Juli 2016 silam.

Pemain tengah Bolton Celtic ini menjuluki Erdogan sebagai 'Hitler Abad Ini' merujuk langkah represif pemerintahannya dan situasi terkini yang terjadi di negeri itu.

"Saat ini, 17 ribu wanita tak bersalah berada di penjara bersama bayinya" kata Kanter seperti dikutip Wall Street Journal.



"Turki memenjarakan lebih banyak jurnalis daripada negara lain. Yang itu membuat saya sangat kesal. Tidak ada kebebasan berbicara. Lebih dari 6.000 akademisi telah kehilangan pekerjaan mereka. Salah satunya adalah ayah saya. "tambahnya.

Karena kritikan-kritikan yang dilontarkan kepada Erdogan, membuat Enes Kanter (27) menjadi buronan pemerintah Turki. Dia berkali-kali menerima ancaman pembunuhan. (Baca juga: Enes Kanter Kehilangan Keluarga karena Sikap Politik)

Jaksa penuntut di Istanbul juga menuduh atlet berbakat ini masuk dalam gerakan Hizmet Fethullah Gulen, seorang ulama dan mantan sekutu Erdogan yang kini tinggal di pengasingan Amerika. Gulen mendukung versi Islam modern dan moderat dan mengkritik pemerintah Turki yang dianggap semakin otokratis. Gerakannya memiliki pengikut yang signifikan di Turki.

Erdogan dan sekutunya menuduh Gulen berencana mengambil alih negara dan menyalahkan mereka karena menyulut kudeta tahun 2016.

Awal tahun ini, Turki mengeluarkan red notice ke Interpol untuk Kanter, memasukkannya dalam daftar "teroris." Namun, AS dan negara lainnya memilih untuk mengabaikan pemberitahuan tersebut.

Anggota keluarga Kanter bernasib lebih tragis dan dicekal bepergian ke luar negeri. Keluarga besar Kanter juga harus menjauhkan diri dari atlet NBA itu demi keselamatan mereka sendiri.

Pada Agustus 2016, muncul surat terbuka mengatas-namakan Ayah Kanter yang menyatakan tidak mengakui Enes Kanter sebagai anak karena tindakannya mengecam Erdogan. Surat ini muncul di media massa pro pemerintah.

Namun, sebulan setelahnya atau September 2016, ayah Kanter, yang menjadi profesor histologi dan genetika, diberhentikan dari jabatannya di Universitas Istanbul. Sedangkan saudara perempuannya yang juga seorang dokter, hingga kini tidak diterima bekerja di instansi manapun.

Ayah Kanter kini menjadi pesakitan di pengadilan, ia didakwa atas tuduhan ikut kelompok teror dan menghadapi ancaman hukuman 5 hingga 10 tahun jika terbukti bersalah. Komunikasi keluarga juga dipantau dengan ketat oleh dinas intelijen Turki.

"Jika [pemerintah] melihat ada pesan dari saya, mereka semua akan langsung dipenjara. Saya hampir tidak ingat kapan terakhir kali berbicara dengan mereka," kata Enes Kanter.
(bbk)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak