Perubahan Target Timnas Indonesia di Piala Dunia 2026, Bung Harpa: Mana yang Benar?
Sabtu, 18 Januari 2025 - 14:08 WIB
loading...
Pengamat sepak bola nasional, Haris Pardede atau dikenal dengan panggilan Bung Harpa dibuat bingung dengan perubahan narasi mengenai target Timnas Indonesia di Piala Dunia 2026 / Foto: Aldhi Chandra Setiawan
A
A
A
Pengamat sepak bola nasional, Haris Pardede atau dikenal dengan panggilan Bung Harpa menyebut bahwa situasi Timnas Indonesia semakin menarik dalam mempersiapkan laga lanjutan fase Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Tinggal dua bulan lagi, penggemar akan melihat bagaimana kinerja pelatih Patrick Kluivert dalam membentuk permainan Skuad Garuda.
Ada dua laga krusial yang bakal dilakoni Timnas Indonesia. Pertama, melawan Australia di Sydney Football Stadium, 20 Maret 2025.
Berikutnya, Timnas Indonesia bakal bermain di depan pendukungnya, saat menjamu Bahrain di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), 25 Maret mendatang. Kluivert telah mematok empat poin di dua laga tersebut dan mencoba untuk membawa Skuad Garuda lolos ke Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Jeje Mengungsi ke Malaysia usai Visa Diberhentikan Mendadak, Netizen: Je, Ini Sepak Bola Bukan Drakor!
Bung Harpa menilai bahwa transisi pergantian pelatih ini bagus untuk menyelesaikan konflik di ruang ganti dan memjembatani komunikasi dengan pemain diaspora. Dia menuturkan bahwa argumen ini cukup bagus dan dapat diterima.
Ada dua laga krusial yang bakal dilakoni Timnas Indonesia. Pertama, melawan Australia di Sydney Football Stadium, 20 Maret 2025.
Berikutnya, Timnas Indonesia bakal bermain di depan pendukungnya, saat menjamu Bahrain di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), 25 Maret mendatang. Kluivert telah mematok empat poin di dua laga tersebut dan mencoba untuk membawa Skuad Garuda lolos ke Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Jeje Mengungsi ke Malaysia usai Visa Diberhentikan Mendadak, Netizen: Je, Ini Sepak Bola Bukan Drakor!
Bung Harpa menilai bahwa transisi pergantian pelatih ini bagus untuk menyelesaikan konflik di ruang ganti dan memjembatani komunikasi dengan pemain diaspora. Dia menuturkan bahwa argumen ini cukup bagus dan dapat diterima.
Lihat Juga :