Ikut Mudik, Apriyani Rahayu Bakal Jalani Tradisi Lebaran di Kampung Halaman
Senin, 31 Maret 2025 - 01:53 WIB
loading...
Ikut Mudik, Apriyani Rahayu Bakal Jalani Tradisi Lebaran di Kampung Halaman. Foto: Djarum Badminton
A
A
A
Pebulu tangkis ganda putri Indonesia, Apriyani Rahayu, mudik ke kampung halaman untuk merayakan hari raya Idul Fitri pada tahun ini. Ia terbang ke Konawe, Sulawesi Tenggara sejak akhir pekan ini.
Ini menjadi momen berharga bagi Apriyani karena bisa merayakan hari raya Idul Fitri 1446 H di Konawe. Peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengisi libur lebaran dengan berkumpul bersama keluarga.
"Mudik ke Lawulo, kampung halaman saya, Konawe. Alhamdulillah dikasih libur," ungkap Apriyani kepada media beberapa hari lalu di Pelatnas PBSI Cipayung, dikutip Minggu (30/3/2025).
Salah satu tradisi lebaran yang dirindukan Apriyani saat pulang ke kampung halaman adalah makan-makanan tradisional khas Sulawesi Tenggara. Makanan itu adalah sinonggi yang terbuat dari pati sagu seperti halnya papeda dari Papua.
"Makan-makan pasti. Makan sinonggi, papeda, trus makan ikan. Itu lah tradisinya. Makan opor pasti. Tapi kalau makanan harusnya papeda. Kalau di suku aku namanya sinonggi, kalah papeda itu kan bahasa Papua, kalau kita namanya sinonggi," tambah Apriyani.
Ini menjadi momen berharga bagi Apriyani karena bisa merayakan hari raya Idul Fitri 1446 H di Konawe. Peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengisi libur lebaran dengan berkumpul bersama keluarga.
"Mudik ke Lawulo, kampung halaman saya, Konawe. Alhamdulillah dikasih libur," ungkap Apriyani kepada media beberapa hari lalu di Pelatnas PBSI Cipayung, dikutip Minggu (30/3/2025).
Salah satu tradisi lebaran yang dirindukan Apriyani saat pulang ke kampung halaman adalah makan-makanan tradisional khas Sulawesi Tenggara. Makanan itu adalah sinonggi yang terbuat dari pati sagu seperti halnya papeda dari Papua.
"Makan-makan pasti. Makan sinonggi, papeda, trus makan ikan. Itu lah tradisinya. Makan opor pasti. Tapi kalau makanan harusnya papeda. Kalau di suku aku namanya sinonggi, kalah papeda itu kan bahasa Papua, kalau kita namanya sinonggi," tambah Apriyani.
Lihat Juga :