76 Indonesian Downhill 2025: Ternadi Bike Park Jadi Arena Pertempuran Para Downhiller Elite Indonesia
Kamis, 24 April 2025 - 17:24 WIB
loading...
A
A
A
Wadah Prestasi Urban DH dan XC, Dorong Sport Tourism!
Agnes Wuisan menyayangkan minimnya kompetisi profesional untuk Urban Downhill dan Cross Country di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, padahal potensi dan prestasi atletnya cukup membanggakan. Ia yakin kembalinya kedua disiplin ini di 76 IDH akan mendapat respons positif dan diikuti banyak atlet, termasuk dari mancanegara.
"Kita ingin menghadirkan kompetisi yang profesional untuk para pebalap sepeda gunung di Indonesia. Sebagai wadah prestasi bagi atlet-atlet urban downhill dan XC yang antusiasme dan peminatnya sangat tinggi. Semuanya juga dikemas dengan unsur sportainment yang kuat, sebagai tontonan yang seru dan menarik, sekaligus mendorong sports tourism," imbuhnya.
Ternadi Bike Park: Lintasan Ekstrem Berstandar UCI Siap Menguji Nyali
Event Director 76 Indonesian Downhill, Aditya Nugraha, menjelaskan bahwa Ternadi Bike Park di Kudus adalah pilihan venue yang tepat untuk membuka musim 2025. Dengan kualifikasi Union Cycliste Internationale (UCI) level C1, lintasan di lereng Gunung Muria ini diakui secara global memiliki karakteristik ekstrem yang dibutuhkan untuk kompetisi downhill tingkat tinggi.
Dengan panjang sekitar 2,3 kilometer dan lebar 1,5 meter, lintasan Ternadi menyajikan beragam rintangan menantang dari sisi elevasi maupun karakter lintasan. Status C1 juga berarti para juara di Ternadi akan mengamankan 40 poin ranking UCI, diikuti 30 poin untuk posisi kedua dan 20 poin untuk posisi ketiga.
"Ternadi selalu menyajikan tantangan dan kesulitan yang berbeda. Meskipun secara teknis tidak ada perubahan yang kami lakukan di lintasan dan obstacle, tapi alam dan cuaca kerap jadi faktor penentu. Di alam terbuka selalu ada perubahan-perubahan alami di lintasan seperti bebatuan, akar pohon, atau lubang. Ini yang menjadi tantangan buat para downhiller melakukan antisipasi dan strategi yang lebih baik," ungkap Aditya.
Agnes Wuisan menyayangkan minimnya kompetisi profesional untuk Urban Downhill dan Cross Country di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, padahal potensi dan prestasi atletnya cukup membanggakan. Ia yakin kembalinya kedua disiplin ini di 76 IDH akan mendapat respons positif dan diikuti banyak atlet, termasuk dari mancanegara.
"Kita ingin menghadirkan kompetisi yang profesional untuk para pebalap sepeda gunung di Indonesia. Sebagai wadah prestasi bagi atlet-atlet urban downhill dan XC yang antusiasme dan peminatnya sangat tinggi. Semuanya juga dikemas dengan unsur sportainment yang kuat, sebagai tontonan yang seru dan menarik, sekaligus mendorong sports tourism," imbuhnya.
Ternadi Bike Park: Lintasan Ekstrem Berstandar UCI Siap Menguji Nyali
Event Director 76 Indonesian Downhill, Aditya Nugraha, menjelaskan bahwa Ternadi Bike Park di Kudus adalah pilihan venue yang tepat untuk membuka musim 2025. Dengan kualifikasi Union Cycliste Internationale (UCI) level C1, lintasan di lereng Gunung Muria ini diakui secara global memiliki karakteristik ekstrem yang dibutuhkan untuk kompetisi downhill tingkat tinggi.
Dengan panjang sekitar 2,3 kilometer dan lebar 1,5 meter, lintasan Ternadi menyajikan beragam rintangan menantang dari sisi elevasi maupun karakter lintasan. Status C1 juga berarti para juara di Ternadi akan mengamankan 40 poin ranking UCI, diikuti 30 poin untuk posisi kedua dan 20 poin untuk posisi ketiga.
"Ternadi selalu menyajikan tantangan dan kesulitan yang berbeda. Meskipun secara teknis tidak ada perubahan yang kami lakukan di lintasan dan obstacle, tapi alam dan cuaca kerap jadi faktor penentu. Di alam terbuka selalu ada perubahan-perubahan alami di lintasan seperti bebatuan, akar pohon, atau lubang. Ini yang menjadi tantangan buat para downhiller melakukan antisipasi dan strategi yang lebih baik," ungkap Aditya.
Lihat Juga :