Biaggio Ali Walsh Cucu Muhammad Ali: Kakek Saya Pasti Terhibur Nonton Mike Tyson vs Jake Paul
Jum'at, 30 Mei 2025 - 18:24 WIB
loading...
Biaggio Ali Walsh Cucu Muhammad Ali: Kakek Saya Pasti Terhibur Nonton Mike Tyson vs Jake Paul
A
A
A
Biaggio Ali Walsh, cucu dari legenda tinju dunia Muhammad Ali , buka suara soal arah baru dunia tinju yang kini makin dipenuhi pertarungan bertema hiburan. Dalam wawancara eksklusif dengan Mirror Fighting, pria berusia 26 tahun itu mengungkapkan bahwa sang kakek tak akan marah, melainkan justru akan menikmati tontonan seperti duel Mike Tyson melawan Jake Paul.
Di tengah kritik dari para pecinta tinju klasik soal pertarungan Mike Tyson vs Jake Paul yang dinilai mencederai sportivitas karena hanya mengejar sensasi dan uang, Biaggio justru punya pandangan berbeda. Ia yakin Ali, sang legenda yang wafat pada 2016, justru akan melihatnya sebagai bentuk evolusi hiburan dalam olahraga.
"Menurut saya, dia akan merasa terhibur," kata Biaggio. "Ali dulu menciptakan sensasi lewat trash talk dan kepribadiannya yang flamboyan demi menarik perhatian publik. Jadi, kalau ada petarung yang bisa membuat jutaan orang nonton, itu berarti mereka melakukan hal yang benar."
Baca Juga: Duel Mike Tyson vs Fedor Emelianenko Digelar Akhir Tahun Ini?
Biaggio mengingat momen ketika kakeknya tercengang mendengar bayaran yang diterima Floyd Mayweather Jr di era 2000-an. "Waktu itu kami bilang ke kakek, 'Floyd dibayar lebih dari 100 juta dolar.' Dia kaget bukan main," ujarnya sambil tertawa. "Bayaran kakek saat bertarung di era 60-70an jelas jauh lebih kecil."
Terkait Tyson vs Paul, yang berlangsung di Texas dan disiarkan secara global lewat Netflix, hasil akhirnya memang tak mengejutkan: Jake Paul menang angka mutlak atas mantan juara dunia kelas berat itu. Dengan keunggulan usia, kecepatan, dan stamina, Paul memperbaiki rekornya menjadi 11-1.
Meski begitu, pertarungan tersebut memicu debat panjang soal arah masa depan tinju profesional. Banyak yang menyayangkan tren baru ini, di mana pertarungan dinilai lebih menonjolkan popularitas ketimbang kualitas teknik. Namun bagi Biaggio, ini hanyalah bagian dari perubahan zaman.
"Saya menyebutnya 'pertarungan sirkus'. Sekarang, ini soal nama besar lawan nama besar, bukan lagi soal teknik atau ranking," jelasnya. "Tapi saya yakin, kakek saya tidak akan mempermasalahkan itu. Dia akan penasaran, siapa lagi nama besar berikutnya yang akan bertarung?"
Biaggio sendiri saat ini tengah meniti karier di dunia seni bela diri campuran (MMA). Ia mengusung rekor tak terkalahkan 2-0 di ajang Professional Fighters League (PFL), dengan kemenangan TKO pada laga terakhirnya. Selanjutnya, ia dijadwalkan menghadapi Ronnie Gibbs pada 27 Juni di Chicago.
Langkah Biaggio menandai babak baru dalam warisan Ali, membawa nama besar keluarganya ke dalam arena pertarungan yang lebih modern dan beragam—dari ring tinju ke oktagon, dari masa lalu yang klasik ke era digital penuh sensasi.
Di tengah kritik dari para pecinta tinju klasik soal pertarungan Mike Tyson vs Jake Paul yang dinilai mencederai sportivitas karena hanya mengejar sensasi dan uang, Biaggio justru punya pandangan berbeda. Ia yakin Ali, sang legenda yang wafat pada 2016, justru akan melihatnya sebagai bentuk evolusi hiburan dalam olahraga.
"Menurut saya, dia akan merasa terhibur," kata Biaggio. "Ali dulu menciptakan sensasi lewat trash talk dan kepribadiannya yang flamboyan demi menarik perhatian publik. Jadi, kalau ada petarung yang bisa membuat jutaan orang nonton, itu berarti mereka melakukan hal yang benar."
Baca Juga: Duel Mike Tyson vs Fedor Emelianenko Digelar Akhir Tahun Ini?
Biaggio mengingat momen ketika kakeknya tercengang mendengar bayaran yang diterima Floyd Mayweather Jr di era 2000-an. "Waktu itu kami bilang ke kakek, 'Floyd dibayar lebih dari 100 juta dolar.' Dia kaget bukan main," ujarnya sambil tertawa. "Bayaran kakek saat bertarung di era 60-70an jelas jauh lebih kecil."
Terkait Tyson vs Paul, yang berlangsung di Texas dan disiarkan secara global lewat Netflix, hasil akhirnya memang tak mengejutkan: Jake Paul menang angka mutlak atas mantan juara dunia kelas berat itu. Dengan keunggulan usia, kecepatan, dan stamina, Paul memperbaiki rekornya menjadi 11-1.
Meski begitu, pertarungan tersebut memicu debat panjang soal arah masa depan tinju profesional. Banyak yang menyayangkan tren baru ini, di mana pertarungan dinilai lebih menonjolkan popularitas ketimbang kualitas teknik. Namun bagi Biaggio, ini hanyalah bagian dari perubahan zaman.
"Saya menyebutnya 'pertarungan sirkus'. Sekarang, ini soal nama besar lawan nama besar, bukan lagi soal teknik atau ranking," jelasnya. "Tapi saya yakin, kakek saya tidak akan mempermasalahkan itu. Dia akan penasaran, siapa lagi nama besar berikutnya yang akan bertarung?"
Biaggio sendiri saat ini tengah meniti karier di dunia seni bela diri campuran (MMA). Ia mengusung rekor tak terkalahkan 2-0 di ajang Professional Fighters League (PFL), dengan kemenangan TKO pada laga terakhirnya. Selanjutnya, ia dijadwalkan menghadapi Ronnie Gibbs pada 27 Juni di Chicago.
Langkah Biaggio menandai babak baru dalam warisan Ali, membawa nama besar keluarganya ke dalam arena pertarungan yang lebih modern dan beragam—dari ring tinju ke oktagon, dari masa lalu yang klasik ke era digital penuh sensasi.
(sto)
Lihat Juga :