Malaysia Disanksi FIFA karena Naturalisasi Pemain: Fakta atau Sekadar Hoaks?
Rabu, 02 Juli 2025 - 08:22 WIB
loading...
A
A
A
Penelusuran ke situs resmi FIFA dan AFC tidak menunjukkan adanya informasi soal sanksi kepada Malaysia. Jadwal pertandingan Malaysia di Kualifikasi Piala Asia 2027 juga masih terpampang aktif. Bahkan, anggota Komite Disiplin PSSI, Hasani Abdulgani, turut angkat bicara. Ia menegaskan bahwa proses naturalisasi merupakan hal yang diperbolehkan FIFA, dengan syarat mengikuti regulasi yang berlaku.
“Setiap negara punya mekanisme sendiri soal naturalisasi. Selama tidak melanggar aturan FIFA, tidak ada yang salah,” kata Hasani.
Meskipun belum ada sanksi, program naturalisasi FAM memang sedang jadi bahan perbincangan. Dalam waktu singkat, Malaysia mendatangkan pemain-pemain asing seperti Facundo Garces, Imanol Machuca, Rodrigo Holgado, Joao Figueiredo, dan Jon Irazabal. Kecepatan proses ini memunculkan kecurigaan, terutama soal apakah para pemain tersebut memenuhi syarat residensi lima tahun atau memiliki hubungan darah dengan Malaysia.
Berbeda dengan Indonesia yang membuka proses naturalisasi secara transparan melalui sidang di DPR dan dokumen yang bisa diakses publik, Malaysia terkesan tertutup. Tak heran jika muncul pertanyaan: adakah sesuatu yang disembunyikan?
Di tengah kontroversi ini, pakar sepak bola Malaysia Raja Isa ikut berkomentar. Ia menilai program naturalisasi Malaysia masih jauh tertinggal dibanding Indonesia.
“Kalau kita bilang mereka (Vietnam dan Malaysia) bisa jadi pesaing Indonesia, saya rasa bisa. Tapi mereka bukan ancaman serius. Indonesia sudah lebih dulu jalan,” ujar mantan pelatih PSM Makassar itu.
“Setiap negara punya mekanisme sendiri soal naturalisasi. Selama tidak melanggar aturan FIFA, tidak ada yang salah,” kata Hasani.
Meskipun belum ada sanksi, program naturalisasi FAM memang sedang jadi bahan perbincangan. Dalam waktu singkat, Malaysia mendatangkan pemain-pemain asing seperti Facundo Garces, Imanol Machuca, Rodrigo Holgado, Joao Figueiredo, dan Jon Irazabal. Kecepatan proses ini memunculkan kecurigaan, terutama soal apakah para pemain tersebut memenuhi syarat residensi lima tahun atau memiliki hubungan darah dengan Malaysia.
Berbeda dengan Indonesia yang membuka proses naturalisasi secara transparan melalui sidang di DPR dan dokumen yang bisa diakses publik, Malaysia terkesan tertutup. Tak heran jika muncul pertanyaan: adakah sesuatu yang disembunyikan?
Di tengah kontroversi ini, pakar sepak bola Malaysia Raja Isa ikut berkomentar. Ia menilai program naturalisasi Malaysia masih jauh tertinggal dibanding Indonesia.
“Kalau kita bilang mereka (Vietnam dan Malaysia) bisa jadi pesaing Indonesia, saya rasa bisa. Tapi mereka bukan ancaman serius. Indonesia sudah lebih dulu jalan,” ujar mantan pelatih PSM Makassar itu.
Lihat Juga :