Nasib Timnas Iran di Piala Dunia 2026: Pemain Dapat Izin Masuk AS, Suporternya Tidak
Rabu, 02 Juli 2025 - 12:12 WIB
loading...
Nasib Timnas Iran di Piala Dunia 2026: Pemain Dapat Izin Masuk AS, Suporternya Tidak
A
A
A
JAKARTA — - Jelang Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, muncul situasi yang memantik kontroversi. Tim nasional Iran memang diperbolehkan masuk ke AS untuk bertanding, tetapi ribuan pendukungnya harus menerima kenyataan pahit: mereka dilarang masuk ke negeri Paman Sam.
Keputusan ini merupakan imbas dari perintah eksekutif terbaru Presiden AS Donald Trump yang memperketat larangan masuk bagi warga dari 12 negara, termasuk Iran. Meski begitu, peraturan tersebut memberikan pengecualian khusus bagi atlet, pelatih, dan staf pendukung tim olahraga yang berpartisipasi dalam ajang internasional seperti Piala Dunia dan Olimpiade.
Artinya, pemain, pelatih, dan ofisial Timnas Iran tetap bisa memperoleh visa. Tapi tidak demikian bagi warga sipil, termasuk pendukung, kerabat pemain, dan masyarakat Iran biasa. Mereka tetap masuk daftar larangan, dan itu membuat ribuan penggemar harus mengubur impian menyaksikan langsung aksi “Team Melli” di stadion-stadion Amerika.
“Saya dan teman-teman sudah menanti bertahun-tahun untuk melihat Timnas bermain di tanah Amerika,” ujar Sohrab Naderi, penggemar dari Teheran yang pernah menonton Piala Dunia 2022 di Qatar. “Sekarang mimpi itu pupus karena politik yang tak bisa kami kendalikan.”
Baca Juga: Bursa Transfer Pemain Timnas Indonesia: Jay Idzes Digoda Udinese, Calvin Verdonk Gabung FC Utrecht?
Ketiadaan suporter Iran jelas akan memengaruhi atmosfer pertandingan. FIFA selama ini mengusung semangat inklusivitas dan sportivitas global, namun kini harus menghadapi kenyataan bahwa turnamen terbesar di dunia ini kembali diwarnai tensi geopolitik.
Kebijakan larangan perjalanan itu dikeluarkan tak lama setelah serangan udara AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran. Serangan tersebut terjadi di tengah konflik antara Iran dan Israel, yang kemudian Amerika Serikat ikut campur.
Hingga saat ini, FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait larangan akses bagi suporter Iran. Padahal, persoalan ini memunculkan tanda tanya besar: apakah FIFA bisa menjamin penyelenggaraan yang adil, netral, dan terbuka bagi semua pihak?
Secara teknis, satu-satunya cara agar Iran tidak bermain di tanah AS adalah jika mereka tergabung di Grup A — satu-satunya grup yang seluruh pertandingannya digelar di Meksiko. Jika Iran keluar sebagai juara grup, maka pertandingan babak 32 besar dan 16 besar juga tetap bisa dimainkan di Meksiko.
Namun jika Iran lolos lebih jauh hingga perempat final, mereka hampir pasti harus bertanding di AS. Ini membuka potensi gesekan diplomatik baru, terutama soal keamanan dan kemungkinan kericuhan di luar lapangan.
Menurut regulasi FIFA, tidak ada larangan bagi pemain Iran tampil di AS. Tetapi dengan konteks politik dan pelarangan warga Iran masuk AS, situasi ini menjadi semakin rumit.
FIFA dijadwalkan akan melakukan konsultasi internal sebelum pengundian grup pada Desember mendatang. Keputusan akhir akan ditentukan oleh Dewan FIFA yang dipimpin oleh Gianni Infantino — tokoh yang dikenal dekat dengan Trump.
Keputusan ini merupakan imbas dari perintah eksekutif terbaru Presiden AS Donald Trump yang memperketat larangan masuk bagi warga dari 12 negara, termasuk Iran. Meski begitu, peraturan tersebut memberikan pengecualian khusus bagi atlet, pelatih, dan staf pendukung tim olahraga yang berpartisipasi dalam ajang internasional seperti Piala Dunia dan Olimpiade.
Artinya, pemain, pelatih, dan ofisial Timnas Iran tetap bisa memperoleh visa. Tapi tidak demikian bagi warga sipil, termasuk pendukung, kerabat pemain, dan masyarakat Iran biasa. Mereka tetap masuk daftar larangan, dan itu membuat ribuan penggemar harus mengubur impian menyaksikan langsung aksi “Team Melli” di stadion-stadion Amerika.
“Saya dan teman-teman sudah menanti bertahun-tahun untuk melihat Timnas bermain di tanah Amerika,” ujar Sohrab Naderi, penggemar dari Teheran yang pernah menonton Piala Dunia 2022 di Qatar. “Sekarang mimpi itu pupus karena politik yang tak bisa kami kendalikan.”
Baca Juga: Bursa Transfer Pemain Timnas Indonesia: Jay Idzes Digoda Udinese, Calvin Verdonk Gabung FC Utrecht?
Ketiadaan suporter Iran jelas akan memengaruhi atmosfer pertandingan. FIFA selama ini mengusung semangat inklusivitas dan sportivitas global, namun kini harus menghadapi kenyataan bahwa turnamen terbesar di dunia ini kembali diwarnai tensi geopolitik.
Kebijakan larangan perjalanan itu dikeluarkan tak lama setelah serangan udara AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran. Serangan tersebut terjadi di tengah konflik antara Iran dan Israel, yang kemudian Amerika Serikat ikut campur.
FIFA Bungkam, Muncul Skenario Iran Main di Meksiko
Hingga saat ini, FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait larangan akses bagi suporter Iran. Padahal, persoalan ini memunculkan tanda tanya besar: apakah FIFA bisa menjamin penyelenggaraan yang adil, netral, dan terbuka bagi semua pihak?
Secara teknis, satu-satunya cara agar Iran tidak bermain di tanah AS adalah jika mereka tergabung di Grup A — satu-satunya grup yang seluruh pertandingannya digelar di Meksiko. Jika Iran keluar sebagai juara grup, maka pertandingan babak 32 besar dan 16 besar juga tetap bisa dimainkan di Meksiko.
Namun jika Iran lolos lebih jauh hingga perempat final, mereka hampir pasti harus bertanding di AS. Ini membuka potensi gesekan diplomatik baru, terutama soal keamanan dan kemungkinan kericuhan di luar lapangan.
Menurut regulasi FIFA, tidak ada larangan bagi pemain Iran tampil di AS. Tetapi dengan konteks politik dan pelarangan warga Iran masuk AS, situasi ini menjadi semakin rumit.
FIFA dijadwalkan akan melakukan konsultasi internal sebelum pengundian grup pada Desember mendatang. Keputusan akhir akan ditentukan oleh Dewan FIFA yang dipimpin oleh Gianni Infantino — tokoh yang dikenal dekat dengan Trump.
(sto)
Lihat Juga :