Limbang Tacik Ta’a 2025: Perpaduan Adrenalin dan Pesona Surga Bawah Laut di Labuan Bajo
Selasa, 23 September 2025 - 14:27 WIB
loading...
Ajang renang perairan terbuka, Limbang Tacik Ta’a, kembali mengguncang Labuan Bajo / Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Ajang renang perairan terbuka, Limbang Tacik Ta’a, kembali mengguncang Labuan Bajo. Berlangsung di surga tropis yang memukau, edisi kedua festival ini sukses besar, memadukan ketegangan kompetisi dan keindahan alam, menegaskan bahwa olahraga dan pariwisata dapat beriringan.
Diadakan di Ta’aktana, a Luxury Collection Resort & Spa, acara ini menarik perenang dari berbagai negara, termasuk Inggris, Belanda, Rusia, Jepang, dan Australia. Mereka bukan hanya datang untuk beradu cepat, tapi juga untuk menikmati jalur renang yang menantang, membentang dari Pantai Wae Rana hingga Pulau Bidadari.
Inisiator acara yang juga Direktur Utama Fortuna Paradiso Optima (FPO), Renaldus Iwan Sumarta, mengungkapkan kebanggaannya. "Limbang Tacik Ta’a bukan sekadar kompetisi, melainkan gerakan untuk merayakan laut sebagai ruang kehidupan," ujarnya dalam keterangan persnya, Selasa (23/9/2025).
Baca Juga: Hasil Korea Open 2025: Chico Aura Tembus Babak Utama usai Perang Saudara di Kualifikasi
"Kami ingin kembali terhubung dengan alam dan menemukan kedamaian di Labuan Bajo."
Tahun ini, Limbang Tacik Ta’a memperkenalkan kategori baru yang sangat menantang: 10.000 meter. Perenang asal Rusia, Elisei Stepanov, mencatat rekor impresif dengan waktu 02:17:21, mengungguli dua atlet muda berbakat Indonesia. Di kategori putri, peraih medali PON Papua 2021, Adinda Larasati Dewi Kirana, membuktikan dominasinya dengan waktu 02:35:34.
Di nomor 5.000 meter, Alexander Taraskin dan Bianca Marcon masing-masing mendominasi kelompok usia 30-39. Sementara itu, Colin Wilbhy, satu-satunya peserta di kategori usia 60+, mencuri perhatian dengan menyelesaikan lomba dalam waktu luar biasa: 01:58:41.
Baca Juga: Janice Tjen Menang 2 Kali, Lolos ke Babak Utama China Open 2025
Potensi atlet muda Indonesia terlihat jelas di kategori 2.000 meter. Satria Chandra dan Fiorenza Elysia Ngera menjadi juara junior, bahkan mencatatkan waktu tercepat di antara semua peserta. Prestasi ini menjadi sinyal kuat bahwa masa depan renang Indonesia cerah dan siap bersinar di panggung dunia.
Elisei, sang pemenang, sangat terkesan dengan penyelenggaraan acara ini. "Saya harap ini bisa terus diadakan setiap tahun. Tahun depan, saya pasti akan kembali dan mengajak teman-teman saya, terutama mereka yang suka triathlon dan renang air terbuka," ungkapnya.
Acara ditutup dengan kejutan Sunset Sprint Race di area Jetty Ta’aktana, yang dilanjutkan dengan penampilan Tari Caci dan upacara pemenang yang meriah di Amphitheater Ta’aktana.
Menurut Race Director Omar Suryaatmadja, kelancaran acara ini tak lepas dari kolaborasi kuat berbagai pihak, terutama Ta’aktana sebagai sponsor utama, serta pengamanan ketat dari Lanal, KSOP, KKP, Basarnas, dan Polairud. "Berkat kolaborasi solid ini, seluruh peserta berhasil menyelesaikan lomba dengan aman," jelasnya.
Omar juga menegaskan komitmen untuk mengembangkan Limbang Tacik Ta’a sebagai ajang tahunan yang mengangkat Labuan Bajo sebagai destinasi wisata olahraga (sports tourism) unggulan. Ia mengakhiri dengan pesan, "Kami ingin menjadikan laut sebagai panggung prestasi dan pengalaman tak terlupakan. Laut, budaya, dan semangat kompetisi berpadu dalam satu narasi: Dilaokku Kallumangku – My Ocean, My Life.”
Diadakan di Ta’aktana, a Luxury Collection Resort & Spa, acara ini menarik perenang dari berbagai negara, termasuk Inggris, Belanda, Rusia, Jepang, dan Australia. Mereka bukan hanya datang untuk beradu cepat, tapi juga untuk menikmati jalur renang yang menantang, membentang dari Pantai Wae Rana hingga Pulau Bidadari.
Inisiator acara yang juga Direktur Utama Fortuna Paradiso Optima (FPO), Renaldus Iwan Sumarta, mengungkapkan kebanggaannya. "Limbang Tacik Ta’a bukan sekadar kompetisi, melainkan gerakan untuk merayakan laut sebagai ruang kehidupan," ujarnya dalam keterangan persnya, Selasa (23/9/2025).
Baca Juga: Hasil Korea Open 2025: Chico Aura Tembus Babak Utama usai Perang Saudara di Kualifikasi
"Kami ingin kembali terhubung dengan alam dan menemukan kedamaian di Labuan Bajo."
Tahun ini, Limbang Tacik Ta’a memperkenalkan kategori baru yang sangat menantang: 10.000 meter. Perenang asal Rusia, Elisei Stepanov, mencatat rekor impresif dengan waktu 02:17:21, mengungguli dua atlet muda berbakat Indonesia. Di kategori putri, peraih medali PON Papua 2021, Adinda Larasati Dewi Kirana, membuktikan dominasinya dengan waktu 02:35:34.
Di nomor 5.000 meter, Alexander Taraskin dan Bianca Marcon masing-masing mendominasi kelompok usia 30-39. Sementara itu, Colin Wilbhy, satu-satunya peserta di kategori usia 60+, mencuri perhatian dengan menyelesaikan lomba dalam waktu luar biasa: 01:58:41.
Baca Juga: Janice Tjen Menang 2 Kali, Lolos ke Babak Utama China Open 2025
Potensi atlet muda Indonesia terlihat jelas di kategori 2.000 meter. Satria Chandra dan Fiorenza Elysia Ngera menjadi juara junior, bahkan mencatatkan waktu tercepat di antara semua peserta. Prestasi ini menjadi sinyal kuat bahwa masa depan renang Indonesia cerah dan siap bersinar di panggung dunia.
Elisei, sang pemenang, sangat terkesan dengan penyelenggaraan acara ini. "Saya harap ini bisa terus diadakan setiap tahun. Tahun depan, saya pasti akan kembali dan mengajak teman-teman saya, terutama mereka yang suka triathlon dan renang air terbuka," ungkapnya.
Acara ditutup dengan kejutan Sunset Sprint Race di area Jetty Ta’aktana, yang dilanjutkan dengan penampilan Tari Caci dan upacara pemenang yang meriah di Amphitheater Ta’aktana.
Menurut Race Director Omar Suryaatmadja, kelancaran acara ini tak lepas dari kolaborasi kuat berbagai pihak, terutama Ta’aktana sebagai sponsor utama, serta pengamanan ketat dari Lanal, KSOP, KKP, Basarnas, dan Polairud. "Berkat kolaborasi solid ini, seluruh peserta berhasil menyelesaikan lomba dengan aman," jelasnya.
Omar juga menegaskan komitmen untuk mengembangkan Limbang Tacik Ta’a sebagai ajang tahunan yang mengangkat Labuan Bajo sebagai destinasi wisata olahraga (sports tourism) unggulan. Ia mengakhiri dengan pesan, "Kami ingin menjadikan laut sebagai panggung prestasi dan pengalaman tak terlupakan. Laut, budaya, dan semangat kompetisi berpadu dalam satu narasi: Dilaokku Kallumangku – My Ocean, My Life.”
(yov)
Lihat Juga :