Lembah Harau Jadi Saksi Sejarah: FPTI Gelar Rock Climbing Festival Nasional Pertama
Sabtu, 04 Oktober 2025 - 15:34 WIB
loading...
Kawasan ikonik Lembah Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, resmi menjadi tuan rumah perhelatan akbar olahraga panjat tebing / Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Kawasan ikonik Lembah Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, resmi menjadi tuan rumah perhelatan akbar olahraga panjat tebing . Rock Climbing Festival 2025 dibuka, Rabu (1/10/2025), menandai momentum penting kebangkitan olahraga ini sekaligus mencetak sejarah baru bagi Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI).
Ini adalah kali pertama FPTI menggelar festival berskala nasional di surga wisata alam unggulan Sumatera Barat tersebut. Ketua Umum PP FPTI, Yenny Wahid, mengungkapkan rasa bahagia dan bangganya dapat berada di Lembah Harau.
Menurutnya, tebing-tebing tinggi di kawasan ini memiliki tempat istimewa dan menyimpan sejarah panjang yang membentuk tradisi panjat tebing Indonesia. "Sungguh saya merasa bahagia dan bangga bisa berada di tebing Lembah Harau yang menjadi surga bagi para pemanjat," ujar putri Presiden ke-4 RI tersebut.
Yenny menyebut, Rock Climbing Festival Harau 2025 merupakan cita-cita lama FPTI yang akhirnya terwujud. Tujuan kegiatan ini tak hanya mempertemukan para pemanjat, tetapi juga menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap alam dan menjaga kelestariannya.
"Festival ini adalah yang pertama, tapi tidak boleh menjadi yang terakhir. Kita ingin menjadikannya agenda tahunan agar olahraga panjat tebing makin berkembang sekaligus menjadi cara kita menjaga rahim bumi," tegas Yenny.
Antusiasme terhadap festival yang berlangsung hingga 4 Oktober ini terbilang luar biasa. Lebih dari 180 peserta dari berbagai provinsi—mulai dari seluruh Sumatera, Jawa, Bali, hingga Kalimantan Selatan—turut ambil bagian.
Dalam sambutannya, Ketua Bidang Panjat Tebing Alam dan Rekreasi FPTI, Prof Robertus Robet, menekankan bahwa olahraga harus senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Sportivitas dan kejujuran, menurutnya, adalah fondasi utama agar olahraga menjadi ruang pembelajaran yang sehat.
"Olahraga mengandalkan sportivitas dan kejujuran, itu basis moralnya. Segala bentuk kekerasan atau pemaksaan justru bertentangan dengan metode maupun cita-cita olahraga apa pun," jelas Robet.
Selama empat hari, peserta tidak hanya beradu ketangkasan memanjat, tetapi juga mengikuti serangkaian kegiatan edukatif dan pelestarian alam, seperti pelatihan vertical rescue, simulasi penanganan korban di medan terjal, talkshow bersama budayawan, serta aksi penanaman pohon.
Rock Climbing Festival Harau 2025 diharapkan menjadi titik temu komunitas, memperkuat sinergi antara atlet, penggiat alam, dan FPTI dalam mengembangkan olahraga ekstrem sekaligus menjaga keindahan alam Lembah Harau.
Ini adalah kali pertama FPTI menggelar festival berskala nasional di surga wisata alam unggulan Sumatera Barat tersebut. Ketua Umum PP FPTI, Yenny Wahid, mengungkapkan rasa bahagia dan bangganya dapat berada di Lembah Harau.
Menurutnya, tebing-tebing tinggi di kawasan ini memiliki tempat istimewa dan menyimpan sejarah panjang yang membentuk tradisi panjat tebing Indonesia. "Sungguh saya merasa bahagia dan bangga bisa berada di tebing Lembah Harau yang menjadi surga bagi para pemanjat," ujar putri Presiden ke-4 RI tersebut.
Yenny menyebut, Rock Climbing Festival Harau 2025 merupakan cita-cita lama FPTI yang akhirnya terwujud. Tujuan kegiatan ini tak hanya mempertemukan para pemanjat, tetapi juga menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap alam dan menjaga kelestariannya.
"Festival ini adalah yang pertama, tapi tidak boleh menjadi yang terakhir. Kita ingin menjadikannya agenda tahunan agar olahraga panjat tebing makin berkembang sekaligus menjadi cara kita menjaga rahim bumi," tegas Yenny.
Antusiasme terhadap festival yang berlangsung hingga 4 Oktober ini terbilang luar biasa. Lebih dari 180 peserta dari berbagai provinsi—mulai dari seluruh Sumatera, Jawa, Bali, hingga Kalimantan Selatan—turut ambil bagian.
Dalam sambutannya, Ketua Bidang Panjat Tebing Alam dan Rekreasi FPTI, Prof Robertus Robet, menekankan bahwa olahraga harus senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Sportivitas dan kejujuran, menurutnya, adalah fondasi utama agar olahraga menjadi ruang pembelajaran yang sehat.
"Olahraga mengandalkan sportivitas dan kejujuran, itu basis moralnya. Segala bentuk kekerasan atau pemaksaan justru bertentangan dengan metode maupun cita-cita olahraga apa pun," jelas Robet.
Selama empat hari, peserta tidak hanya beradu ketangkasan memanjat, tetapi juga mengikuti serangkaian kegiatan edukatif dan pelestarian alam, seperti pelatihan vertical rescue, simulasi penanganan korban di medan terjal, talkshow bersama budayawan, serta aksi penanaman pohon.
Rock Climbing Festival Harau 2025 diharapkan menjadi titik temu komunitas, memperkuat sinergi antara atlet, penggiat alam, dan FPTI dalam mengembangkan olahraga ekstrem sekaligus menjaga keindahan alam Lembah Harau.
(yov)
Lihat Juga :