Jepang Ajak Indonesia Cabut dari AFC, Bikin Blok Sepak Bola Asia Timur?
Senin, 20 Oktober 2025 - 13:52 WIB
loading...
Jepang Ajak Indonesia Cabut dari AFC, Bikin Blok Sepak Bola Asia Timur?
A
A
A
Gejolak besar tengah mengguncang dunia sepak bola Asia. Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) dikabarkan sedang menyiapkan langkah paling berani dalam sejarah olahraga kawasan ini: keluar dari Konfederasi Sepak Bola Asia ( AFC ) dan membentuk federasi tandingan bernama East Asian Football Confederation (EAFC).
Rumor ini muncul dari sejumlah media Asia Timur seperti IFTWC (India) dan Mehr News Agency (Iran), yang menyebut JFA tengah menjajaki aliansi baru bersama negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara. Jika benar terjadi, langkah tersebut bisa menjadi bentuk perlawanan terang-terangan terhadap dominasi politik dan finansial negara-negara Teluk di tubuh AFC.
“Ini bukan sekadar soal sepak bola, tetapi soal keadilan dan integritas,” tulis salah satu laporan yang dikutip media Iran.
Dominasi finansial negara-negara Teluk, yang banyak menggelontorkan dana besar untuk proyek-proyek sepak bola Asia, dianggap membuat AFC kehilangan netralitas. Negara-negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan merasa kontribusi prestasi mereka diabaikan, sementara kekuatan politik justru berpihak ke barat.
Tak bisa dipungkiri, Jepang saat ini merupakan negara Asia dengan peringkat FIFA tertinggi — peringkat 19 dunia — jauh di atas negara-negara Teluk. Namun di level konfederasi, suara mereka sering tak berdaya menghadapi blok Arab yang lebih kompak dan berpengaruh secara ekonomi.
Federasi baru ini kabarnya akan beranggotakan Jepang, Korea Selatan, China, Korea Utara, Hong Kong, Makau, Taiwan, dan Mongolia, serta membuka pintu bagi negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura.
Jika Indonesia turut serta, blok sepak bola Asia Timur–Tenggara ini akan menjadi kekuatan besar baru dengan potensi pasar dan basis suporter yang masif.
Selain menciptakan kompetisi yang lebih seimbang dan bersih, EAFC juga berpeluang menjadi tandingan nyata terhadap pengaruh politik Arab di sepak bola Asia.
Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari JFA mengenai rencana keluar dari AFC. Secara hukum, pembentukan konfederasi baru yang diakui FIFA memerlukan proses panjang, diplomasi rumit, dan tentu saja, restu politik dari badan sepak bola dunia.
Hambatan utamanya: pengaruh besar negara Teluk di dalam FIFA. Presiden FIFA Gianni Infantino dikenal memiliki hubungan erat dengan para pemimpin Arab, termasuk Qatar dan Arab Saudi—dua negara yang kini menjadi pusat gravitasi politik dan finansial sepak bola dunia.
Artinya, jika Jepang benar-benar melangkah, mereka bukan hanya menantang AFC, tetapi juga tatanan kekuasaan global sepak bola modern.
Bagi banyak pengamat, rumor keluarnya Jepang adalah cerminan ketegangan lama antara Asia Timur dan Asia Barat.
Selama dua dekade terakhir, sepak bola Asia seolah terpecah menjadi dua dunia:
Timur, yang unggul dalam prestasi dan pengelolaan profesional; dan Barat, yang mendominasi politik dan kekuasaan finansial.
Isu ini mengingatkan publik pada era ketika Jepang dan Korea Selatan harus berjuang keras untuk mendapat pengakuan dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2002, di tengah kuatnya pengaruh negara Teluk di AFC. Kini, dua dekade kemudian, situasi serupa muncul kembali — hanya saja Jepang tampak siap mengambil langkah ekstrem.
Di satu sisi, Indonesia selama ini juga kerap mengeluhkan ketimpangan kebijakan AFC dan kontroversi wasit yang merugikan tim Asia Tenggara. Namun di sisi lain, keputusan untuk “boikot” AFC tentu membawa risiko besar terhadap hubungan diplomatik dan keanggotaan resmi di FIFA .
Meski begitu, gagasan untuk membentuk aliansi Asia Timur bisa menjadi momentum reflektif bagi sepak bola Indonesia — apakah tetap nyaman di bawah bayang-bayang kekuasaan Arab, atau ikut mendorong tata kelola sepak bola Asia yang lebih adil dan profesional.
Untuk saat ini, rumor keluarnya Jepang dari AFC masih sebatas spekulasi. Namun, jika langkah itu benar-benar diwujudkan, dampaknya akan mengguncang peta kekuatan olahraga paling populer di Asia.
Rumor ini muncul dari sejumlah media Asia Timur seperti IFTWC (India) dan Mehr News Agency (Iran), yang menyebut JFA tengah menjajaki aliansi baru bersama negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara. Jika benar terjadi, langkah tersebut bisa menjadi bentuk perlawanan terang-terangan terhadap dominasi politik dan finansial negara-negara Teluk di tubuh AFC.
Muak dengan Dominasi Asia Barat
Menurut laporan yang beredar, Jepang sudah lama merasa frustrasi terhadap tata kelola AFC yang dinilai tidak transparan dan sarat kepentingan politik. Sejumlah sumber di lingkaran sepak bola Asia menyebut, keputusan strategis di AFC—mulai dari penunjukan wasit, pembagian grup, hingga pemilihan tuan rumah turnamen—sering kali dipengaruhi oleh kekuatan uang dan lobi politik negara-negara seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA).“Ini bukan sekadar soal sepak bola, tetapi soal keadilan dan integritas,” tulis salah satu laporan yang dikutip media Iran.
Dominasi finansial negara-negara Teluk, yang banyak menggelontorkan dana besar untuk proyek-proyek sepak bola Asia, dianggap membuat AFC kehilangan netralitas. Negara-negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan merasa kontribusi prestasi mereka diabaikan, sementara kekuatan politik justru berpihak ke barat.
Tak bisa dipungkiri, Jepang saat ini merupakan negara Asia dengan peringkat FIFA tertinggi — peringkat 19 dunia — jauh di atas negara-negara Teluk. Namun di level konfederasi, suara mereka sering tak berdaya menghadapi blok Arab yang lebih kompak dan berpengaruh secara ekonomi.
Indonesia Masuk Radar, Potensi Blok Timur Baru
Dalam wacana pembentukan East Asian Football Confederation (EAFC), Jepang disebut telah mengajak sejumlah negara kawasan Timur dan Tenggara Asia untuk bergabung.Federasi baru ini kabarnya akan beranggotakan Jepang, Korea Selatan, China, Korea Utara, Hong Kong, Makau, Taiwan, dan Mongolia, serta membuka pintu bagi negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura.
Jika Indonesia turut serta, blok sepak bola Asia Timur–Tenggara ini akan menjadi kekuatan besar baru dengan potensi pasar dan basis suporter yang masif.
Selain menciptakan kompetisi yang lebih seimbang dan bersih, EAFC juga berpeluang menjadi tandingan nyata terhadap pengaruh politik Arab di sepak bola Asia.
Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari JFA mengenai rencana keluar dari AFC. Secara hukum, pembentukan konfederasi baru yang diakui FIFA memerlukan proses panjang, diplomasi rumit, dan tentu saja, restu politik dari badan sepak bola dunia.
Hambatan utamanya: pengaruh besar negara Teluk di dalam FIFA. Presiden FIFA Gianni Infantino dikenal memiliki hubungan erat dengan para pemimpin Arab, termasuk Qatar dan Arab Saudi—dua negara yang kini menjadi pusat gravitasi politik dan finansial sepak bola dunia.
Artinya, jika Jepang benar-benar melangkah, mereka bukan hanya menantang AFC, tetapi juga tatanan kekuasaan global sepak bola modern.
Bagi banyak pengamat, rumor keluarnya Jepang adalah cerminan ketegangan lama antara Asia Timur dan Asia Barat.
Selama dua dekade terakhir, sepak bola Asia seolah terpecah menjadi dua dunia:
Timur, yang unggul dalam prestasi dan pengelolaan profesional; dan Barat, yang mendominasi politik dan kekuasaan finansial.
Isu ini mengingatkan publik pada era ketika Jepang dan Korea Selatan harus berjuang keras untuk mendapat pengakuan dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2002, di tengah kuatnya pengaruh negara Teluk di AFC. Kini, dua dekade kemudian, situasi serupa muncul kembali — hanya saja Jepang tampak siap mengambil langkah ekstrem.
Apakah Indonesia Akan Ikut Boikot?
Indonesia berada di posisi menarik dalam wacana ini. Sebagai bagian dari ASEAN dan mitra strategis Jepang di banyak sektor, undangan bergabung dalam blok EAFC bisa menjadi peluang sekaligus dilema.Di satu sisi, Indonesia selama ini juga kerap mengeluhkan ketimpangan kebijakan AFC dan kontroversi wasit yang merugikan tim Asia Tenggara. Namun di sisi lain, keputusan untuk “boikot” AFC tentu membawa risiko besar terhadap hubungan diplomatik dan keanggotaan resmi di FIFA .
Meski begitu, gagasan untuk membentuk aliansi Asia Timur bisa menjadi momentum reflektif bagi sepak bola Indonesia — apakah tetap nyaman di bawah bayang-bayang kekuasaan Arab, atau ikut mendorong tata kelola sepak bola Asia yang lebih adil dan profesional.
Untuk saat ini, rumor keluarnya Jepang dari AFC masih sebatas spekulasi. Namun, jika langkah itu benar-benar diwujudkan, dampaknya akan mengguncang peta kekuatan olahraga paling populer di Asia.
(sto)
Lihat Juga :