Kisah Janice Tjen Berkarier di Tenis, Kuliah, dan Sulitnya Cari Pelatih
Sabtu, 08 November 2025 - 09:20 WIB
loading...
Kisah Janice Tjen Berkarier di Tenis, Kuliah, dan Sulitnya Cari Pelatih
A
A
A
Janice Tjen tengah menjadi sorotan dunia tenis. Dalam kurun waktu hanya satu tahun, petenis berusia 23 tahun asal Indonesia itu melesat dari peringkat 500-an dunia ke posisi 53 besar WTA. Lompatan luar biasa tersebut diraihnya usai menjuarai turnamen WTA Chennai Open 2025 dan menambah gelar ganda hanya beberapa jam setelah kemenangan di nomor tunggal.
Kemenangan di Chennai menjadi sejarah tersendiri. Janice menjadi petenis Indonesia pertama dalam 23 tahun terakhir yang menjuarai turnamen tunggal WTA. Peringkatnya kini merupakan yang tertinggi kedua sepanjang sejarah tenis Indonesia, hanya kalah dari Yayuk Basuki yang sempat menempati posisi ke-19 dunia.
Baca Juga: Tahun Gila Janice Tjen! Dari Peringkat 400 ke 53 Dunia
Perjalanan menuju puncak itu tidak mudah. Janice sempat mengalami kekalahan menyakitkan di final WTA Sao Paulo pada September lalu dari petenis Prancis Tiantsoa Rakotomanga Rajaonah. Kekalahan itu disebutnya sebagai pengalaman paling berat dalam kariernya, namun justru menjadi titik balik kebangkitannya.
“Saya sangat bahagia bisa menang kali ini, karena kekalahan sebelumnya benar-benar membuat hati saya hancur,” ujar Janice seusai menjuarai Chennai Open.
Ia mengaku tidak memiliki rahasia khusus di balik lonjakan prestasinya. Semua ia raih lewat disiplin dan kerja keras. “Saya hanya terus bekerja keras setiap minggu, mencoba memperbaiki setiap aspek permainan, dan belajar dari kekalahan maupun kemenangan,” katanya.
Lahir dari keluarga sederhana di Indonesia, Janice sempat menghadapi kendala biaya dalam meniti karier tenis profesional. Besarnya biaya latihan, perjalanan, dan pendampingan pelatih membuat keluarganya memutuskan agar Janice menempuh jalur tenis universitas di Amerika Serikat. Ia sempat memperkuat Universitas Oregon sebelum pindah ke Pepperdine University untuk menyelesaikan karier kuliahnya sekaligus mengasah kemampuan bermain.
“Tenis itu olahraga mahal. Untungnya ada jalur kuliah di AS yang memberi saya kesempatan untuk tetap berkembang dan menyiapkan diri menjadi profesional,” tutur Janice.
Kesuksesannya juga tidak lepas dari sosok pelatih asal Selandia Baru, Christopher Bint. Janice mengaku sempat kesulitan menemukan pelatih yang cocok hingga akhirnya bertemu Bint pada akhir tahun lalu. Setelah menjalani masa uji coba, keduanya memutuskan untuk bekerja sama penuh sejak pertengahan 2024.
“Saya sempat kesulitan menemukan pelatih yang benar-benar nyambung dengan saya. Tapi sejak bertemu Coach Chris, semuanya terasa pas,” ujarnya.
Kini, dengan dua gelar WTA dan peringkat dunia yang terus menanjak, Janice ingin menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Ia berharap kisahnya bisa membangkitkan semangat bagi para petenis muda Tanah Air untuk berani bermimpi dan berjuang lebih jauh.
“Jangan pernah kehilangan harapan. Terus berusaha menempatkan diri di posisi terbaik untuk bersaing di level tertinggi. Jika terus bekerja keras, jalannya akan terbuka,” ucapnya.
Setelah lebih dari dua dekade tanpa petenis Indonesia yang bersinar di level dunia, Janice Tjen hadir membawa harapan baru bagi tenis Indonesia. Dari perjuangan di jalur kuliah hingga kerja keras mencari pelatih yang tepat, perjalanannya menjadi bukti bahwa tekad dan ketekunan mampu mengantarkan seseorang menembus batas yang dulu tampak mustahil.
Kemenangan di Chennai menjadi sejarah tersendiri. Janice menjadi petenis Indonesia pertama dalam 23 tahun terakhir yang menjuarai turnamen tunggal WTA. Peringkatnya kini merupakan yang tertinggi kedua sepanjang sejarah tenis Indonesia, hanya kalah dari Yayuk Basuki yang sempat menempati posisi ke-19 dunia.
Baca Juga: Tahun Gila Janice Tjen! Dari Peringkat 400 ke 53 Dunia
Perjalanan menuju puncak itu tidak mudah. Janice sempat mengalami kekalahan menyakitkan di final WTA Sao Paulo pada September lalu dari petenis Prancis Tiantsoa Rakotomanga Rajaonah. Kekalahan itu disebutnya sebagai pengalaman paling berat dalam kariernya, namun justru menjadi titik balik kebangkitannya.
“Saya sangat bahagia bisa menang kali ini, karena kekalahan sebelumnya benar-benar membuat hati saya hancur,” ujar Janice seusai menjuarai Chennai Open.
View this post on Instagram
Ia mengaku tidak memiliki rahasia khusus di balik lonjakan prestasinya. Semua ia raih lewat disiplin dan kerja keras. “Saya hanya terus bekerja keras setiap minggu, mencoba memperbaiki setiap aspek permainan, dan belajar dari kekalahan maupun kemenangan,” katanya.
Lahir dari keluarga sederhana di Indonesia, Janice sempat menghadapi kendala biaya dalam meniti karier tenis profesional. Besarnya biaya latihan, perjalanan, dan pendampingan pelatih membuat keluarganya memutuskan agar Janice menempuh jalur tenis universitas di Amerika Serikat. Ia sempat memperkuat Universitas Oregon sebelum pindah ke Pepperdine University untuk menyelesaikan karier kuliahnya sekaligus mengasah kemampuan bermain.
“Tenis itu olahraga mahal. Untungnya ada jalur kuliah di AS yang memberi saya kesempatan untuk tetap berkembang dan menyiapkan diri menjadi profesional,” tutur Janice.
Kesuksesannya juga tidak lepas dari sosok pelatih asal Selandia Baru, Christopher Bint. Janice mengaku sempat kesulitan menemukan pelatih yang cocok hingga akhirnya bertemu Bint pada akhir tahun lalu. Setelah menjalani masa uji coba, keduanya memutuskan untuk bekerja sama penuh sejak pertengahan 2024.
“Saya sempat kesulitan menemukan pelatih yang benar-benar nyambung dengan saya. Tapi sejak bertemu Coach Chris, semuanya terasa pas,” ujarnya.
Kini, dengan dua gelar WTA dan peringkat dunia yang terus menanjak, Janice ingin menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Ia berharap kisahnya bisa membangkitkan semangat bagi para petenis muda Tanah Air untuk berani bermimpi dan berjuang lebih jauh.
“Jangan pernah kehilangan harapan. Terus berusaha menempatkan diri di posisi terbaik untuk bersaing di level tertinggi. Jika terus bekerja keras, jalannya akan terbuka,” ucapnya.
Setelah lebih dari dua dekade tanpa petenis Indonesia yang bersinar di level dunia, Janice Tjen hadir membawa harapan baru bagi tenis Indonesia. Dari perjuangan di jalur kuliah hingga kerja keras mencari pelatih yang tepat, perjalanannya menjadi bukti bahwa tekad dan ketekunan mampu mengantarkan seseorang menembus batas yang dulu tampak mustahil.
(sto)
Lihat Juga :