Padang Gurun Utah Jadi Saksi Keberanian di Kompetisi Sepeda Gunung Paling Ekstrem Dunia
Sabtu, 08 November 2025 - 16:47 WIB
loading...
Jika MotoGP adalah panggung bagi para dewa kecepatan roda dua, maka bagi komunitas freeride sepeda gunung, Red Bull Rampage adalah ajang paling ekstrem dan bergengsi yang wajib disaksikan / Foto: Ist
A
A
A
Jika MotoGP adalah panggung bagi para dewa kecepatan roda dua, maka bagi komunitas freeride sepeda gunung, Red Bull Rampage adalah ajang paling ekstrem dan bergengsi yang wajib disaksikan. Pada 19 Oktober lalu, 18 freerider terbaik dunia sekali lagi menantang maut di padang gurun berbatu Utah, Amerika Serikat, dalam kompetisi yang menuntut kecepatan, trik udara liar, dan kendali sepeda sempurna di atas tebing curam.
Red Bull Rampage dikenal konsisten menghadirkan aksi paling gila di dunia sepeda gunung. Para peserta harus meraih poin dari kombinasi kecepatan tinggi, trik freestyle di udara, dan kemampuan bertahan di medan yang tak kenal ampun. Bahkan, salah satu fitur lompatan mencapai lebih dari 100 kaki, setara dengan melompat dari gedung 10 lantai.
Di medan seberat itu, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Kompetisi ini benar-benar menguji batas kemampuan, di mana setiap peserta mempertaruhkan segalanya demi mencetak sejarah.
Dalam kancah balap se-ekstrem ini, nama Indonesia pernah bersinar. Polygon, merek sepeda asal Sidoarjo, Jawa Timur, bahkan pernah menorehkan sejarah dengan memenangkan Red Bull Rampage sebanyak dua kali, yaitu pada 2015 dan 2017.
Tahun ini, Polygon kembali berpartisipasi untuk tahun kedua berturut-turut (2024 dan 2025) bersama rookie (pendatang baru) asal Amerika Serikat, Luke Whitlock. Red Bull Rampage selalu dipenuhi kejutan, seperti yang ditunjukkan oleh Hayden Zablotny, pendatang baru yang mencuri perhatian tahun ini.
Namun, kisah yang tak kalah heroik datang dari Luke Whitlock. Mengalami kecelakaan parah di putaran pertama akibat kehilangan kendali saat mendarat, Luke terjatuh di antara bebatuan curam. Meskipun terasa sakit, pembalap muda ini menolak menyerah. Ia bangkit dan kembali menuruni tebing di putaran kedua dengan keberanian yang lebih besar.
"Run pertama tidak berjalan sesuai rencana. Sedikit terasa nyeri setelah hari yang benar-benar berat di gunung, tapi saya bersyukur masih dalam keadaan sehat. Tangan saya tidak terasa baik untuk putaran kedua, jadi saya memilih bermain aman dan menuruni gunung untuk para penggemar. Begitulah seni dalam berkompetisi — dan saya sudah tidak sabar untuk kembali lagi!" tulis Luke di media sosialnya, Sabtu (8/11/2025).
Kisah Luke Whitlock ini adalah representasi sejati dari Red Bull Rampage: keberanian bukan berarti tidak takut jatuh, tetapi tahu kapan harus bangkit lagi. Filosofi keberanian dan pantang menyerah tersebut sejalan dengan DNA yang selalu disuarakan oleh Polygon, yaitu "Lead Your Own Path".
Hal ini tercermin dalam pengembangan inovasi sepeda, kegiatan yang mereka ikuti, hingga kerja sama dengan atlet. "Turunnya kami dalam Red Bull Rampage merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar bagi kami. Lebih dari sekadar sepeda, eksistensi Polygon di Rampage menjadi pembuktian bahwa dari semangat anak bangsa, Indonesia bisa berkontribusi di panggung tertinggi dunia dan semoga dapat terus menginspirasi banyak pihak untuk percaya pada kemampuan kita sendiri," ujar Veronica Vivin, Brand Marketing Polygon Bikes.
Kehadiran Polygon di ajang ini juga menjadi ajang uji coba. Luke Whitlock melakukan debutnya di Red Bull Rampage 2024 dengan menunggangi prototipe Polygon Collosus DH, yang kemudian resmi diluncurkan pada Maret 2025 setelah pengembangan intensif.
"Ada banyak pertimbangan dalam pengembangan lahirnya sepeda downhill kali ini. Kami ingin menemukan formula terbaik agar Collosus DH bisa kompetitif dengan brand internasional lain sekelas Red Bull Rampage," imbuh Zendy Meidyawan Renan, Polygon Chief Engineer.
Red Bull Rampage dikenal konsisten menghadirkan aksi paling gila di dunia sepeda gunung. Para peserta harus meraih poin dari kombinasi kecepatan tinggi, trik freestyle di udara, dan kemampuan bertahan di medan yang tak kenal ampun. Bahkan, salah satu fitur lompatan mencapai lebih dari 100 kaki, setara dengan melompat dari gedung 10 lantai.
Di medan seberat itu, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Kompetisi ini benar-benar menguji batas kemampuan, di mana setiap peserta mempertaruhkan segalanya demi mencetak sejarah.
Dalam kancah balap se-ekstrem ini, nama Indonesia pernah bersinar. Polygon, merek sepeda asal Sidoarjo, Jawa Timur, bahkan pernah menorehkan sejarah dengan memenangkan Red Bull Rampage sebanyak dua kali, yaitu pada 2015 dan 2017.
Tahun ini, Polygon kembali berpartisipasi untuk tahun kedua berturut-turut (2024 dan 2025) bersama rookie (pendatang baru) asal Amerika Serikat, Luke Whitlock. Red Bull Rampage selalu dipenuhi kejutan, seperti yang ditunjukkan oleh Hayden Zablotny, pendatang baru yang mencuri perhatian tahun ini.
Namun, kisah yang tak kalah heroik datang dari Luke Whitlock. Mengalami kecelakaan parah di putaran pertama akibat kehilangan kendali saat mendarat, Luke terjatuh di antara bebatuan curam. Meskipun terasa sakit, pembalap muda ini menolak menyerah. Ia bangkit dan kembali menuruni tebing di putaran kedua dengan keberanian yang lebih besar.
"Run pertama tidak berjalan sesuai rencana. Sedikit terasa nyeri setelah hari yang benar-benar berat di gunung, tapi saya bersyukur masih dalam keadaan sehat. Tangan saya tidak terasa baik untuk putaran kedua, jadi saya memilih bermain aman dan menuruni gunung untuk para penggemar. Begitulah seni dalam berkompetisi — dan saya sudah tidak sabar untuk kembali lagi!" tulis Luke di media sosialnya, Sabtu (8/11/2025).
Kisah Luke Whitlock ini adalah representasi sejati dari Red Bull Rampage: keberanian bukan berarti tidak takut jatuh, tetapi tahu kapan harus bangkit lagi. Filosofi keberanian dan pantang menyerah tersebut sejalan dengan DNA yang selalu disuarakan oleh Polygon, yaitu "Lead Your Own Path".
Hal ini tercermin dalam pengembangan inovasi sepeda, kegiatan yang mereka ikuti, hingga kerja sama dengan atlet. "Turunnya kami dalam Red Bull Rampage merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar bagi kami. Lebih dari sekadar sepeda, eksistensi Polygon di Rampage menjadi pembuktian bahwa dari semangat anak bangsa, Indonesia bisa berkontribusi di panggung tertinggi dunia dan semoga dapat terus menginspirasi banyak pihak untuk percaya pada kemampuan kita sendiri," ujar Veronica Vivin, Brand Marketing Polygon Bikes.
Kehadiran Polygon di ajang ini juga menjadi ajang uji coba. Luke Whitlock melakukan debutnya di Red Bull Rampage 2024 dengan menunggangi prototipe Polygon Collosus DH, yang kemudian resmi diluncurkan pada Maret 2025 setelah pengembangan intensif.
"Ada banyak pertimbangan dalam pengembangan lahirnya sepeda downhill kali ini. Kami ingin menemukan formula terbaik agar Collosus DH bisa kompetitif dengan brand internasional lain sekelas Red Bull Rampage," imbuh Zendy Meidyawan Renan, Polygon Chief Engineer.
(yov)
Lihat Juga :