Benarkah Komunitas Suporter Arab Saudi Monopoli Penjualan Tiket Timnas Indonesia?
Senin, 10 November 2025 - 18:06 WIB
loading...
Benarkah Komunitas Suporter Arab Saudi Monopoli Penjualan Tiket Timnas Indonesia? Foto: SINDOnews-Aldhi Chandra
A
A
A
Komunitas resmi suporter Timnas Indonesia di Arab Saudi, Garuda Saudi dituduh memonopoli penjualan tiket laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia antara Timnas Indonesia vs Arab Saudi yang digelar di Jeddah, 8 Oktober lalu. Mereka memberikan klarifikasi soal tuduhan itu.
Isu tersebut muncul setelah penggiat sepak bola Indonesia, Haris Pardede atau Bung Harpa yang menyoroti dugaan monopoli distribusi tiket bagi suporter Timnas Indonesia. Pernyataan itu dalam dalam podcast Peluit Akhir yang tayang di kanal YouTube DensTV, Jumat (7/11) malam.
“Kami ingin menegaskan, tuduhan monopoli itu sama sekali tidak benar. Proses penjualan tiket suporter Indonesia sepenuhnya diserahkan oleh Federasi Sepak Bola Arab Saudi (SAFF) kepada PSSI dan Garuda Saudi,” tulis Garuda Saudi dalam keterangannya.
Baca Juga: WBA Perintahkan Duel Moses Itauma vs Kubrat Pulev Batal: Murat Gassiev Jadi Penantang Gelar
Garuda Saudi menjelaskan dari total 4.000 tiket yang dialokasikan untuk suporter Indonesia, hanya sebagian kecil dikelola oleh Garuda Saudi. Sementara itu, mayoritas tiket dibeli secara resmi melalui platform KitaGaruda.id, yang memang disiapkan federasi untuk memfasilitasi pembelian tiket bagi WNI di luar negeri.
“Prioritas utamanya adalah WNI yang tinggal di Arab Saudi dan sekitarnya, bukan kelompok tertentu. Kalau itu disebut monopoli, maka definisinya perlu diperjelas lagi,” tegas mereka.
Garuda Saudi juga menepis isu hilangnya tiket akibat ulah pihak internal. Menurut mereka, kasus tiket hilang justru terjadi pada tiket jatah Arab Saudi yang diperjualbelikan ulang melalui aplikasi pihak ketiga.
“Tiket yang hilang bukan karena IP atau sistem Garuda Saudi. Itu akibat pindah tangan atau praktik calo di luar kendali kami. Tiket yang dibeli langsung lewat Garuda Saudi dan Kita Garuda tidak ada masalah,” jelas mereka.
Garuda Saudi menambahkan, mereka telah menginformasikan mekanisme pembelian dan risiko tiket ilegal melalui berbagai kanal komunikasi sebelum pertandingan berlangsung.
Garuda Saudi mengakui, sistem distribusi tiket untuk laga melawan Arab Saudi belum sepenuhnya sempurna. Akan tetapi, langkah itu diambil untuk memenuhi permintaan SAFF agar mencegah praktik calo yang sempat marak pada tahun 2024.
“Kita memang mencoba sistem baru agar penjualan lebih terkontrol dan mencegah percaloan. Namun, karena sistem ini masih dalam tahap uji coba, hasilnya memang belum ideal,” tulis mereka.
“Kami hanya ingin meluruskan kesan monopoli. Faktanya, semua dilakukan secara terbuka dan berdasarkan arahan resmi. Kami tidak punya kepentingan selain mendukung timnas di luar negeri,” tegas Garuda Saudi.
Garuda Saudi menyampaikan undangan terbuka kepada Bung Harpa untuk melakukan klarifikasi secara langsung. Tentunya demi berbagai isu tersebut diselesaikan.
“Silahkan japri kami, Bung Harpa. Nomor kontak admin kami sudah Anda miliki. Kalau ingin konfirmasi data atau fakta, kami siap menjelaskan langsung. Jangan sampai publik tersesat oleh informasi yang tidak benar,” bunyi pesan mereka.
"Kami bicara bukan untuk membela siapa-siapa, tapi untuk menjaga nama baik suporter Indonesia di luar negeri. Jangan ada lagi tudingan tanpa dasar. Kami tegaskan, isu monopoli tiket itu hoaks,” tutup pernyataan mereka.
Isu tersebut muncul setelah penggiat sepak bola Indonesia, Haris Pardede atau Bung Harpa yang menyoroti dugaan monopoli distribusi tiket bagi suporter Timnas Indonesia. Pernyataan itu dalam dalam podcast Peluit Akhir yang tayang di kanal YouTube DensTV, Jumat (7/11) malam.
“Kami ingin menegaskan, tuduhan monopoli itu sama sekali tidak benar. Proses penjualan tiket suporter Indonesia sepenuhnya diserahkan oleh Federasi Sepak Bola Arab Saudi (SAFF) kepada PSSI dan Garuda Saudi,” tulis Garuda Saudi dalam keterangannya.
Baca Juga: WBA Perintahkan Duel Moses Itauma vs Kubrat Pulev Batal: Murat Gassiev Jadi Penantang Gelar
Garuda Saudi menjelaskan dari total 4.000 tiket yang dialokasikan untuk suporter Indonesia, hanya sebagian kecil dikelola oleh Garuda Saudi. Sementara itu, mayoritas tiket dibeli secara resmi melalui platform KitaGaruda.id, yang memang disiapkan federasi untuk memfasilitasi pembelian tiket bagi WNI di luar negeri.
“Prioritas utamanya adalah WNI yang tinggal di Arab Saudi dan sekitarnya, bukan kelompok tertentu. Kalau itu disebut monopoli, maka definisinya perlu diperjelas lagi,” tegas mereka.
Garuda Saudi juga menepis isu hilangnya tiket akibat ulah pihak internal. Menurut mereka, kasus tiket hilang justru terjadi pada tiket jatah Arab Saudi yang diperjualbelikan ulang melalui aplikasi pihak ketiga.
“Tiket yang hilang bukan karena IP atau sistem Garuda Saudi. Itu akibat pindah tangan atau praktik calo di luar kendali kami. Tiket yang dibeli langsung lewat Garuda Saudi dan Kita Garuda tidak ada masalah,” jelas mereka.
Garuda Saudi menambahkan, mereka telah menginformasikan mekanisme pembelian dan risiko tiket ilegal melalui berbagai kanal komunikasi sebelum pertandingan berlangsung.
Garuda Saudi mengakui, sistem distribusi tiket untuk laga melawan Arab Saudi belum sepenuhnya sempurna. Akan tetapi, langkah itu diambil untuk memenuhi permintaan SAFF agar mencegah praktik calo yang sempat marak pada tahun 2024.
“Kita memang mencoba sistem baru agar penjualan lebih terkontrol dan mencegah percaloan. Namun, karena sistem ini masih dalam tahap uji coba, hasilnya memang belum ideal,” tulis mereka.
“Kami hanya ingin meluruskan kesan monopoli. Faktanya, semua dilakukan secara terbuka dan berdasarkan arahan resmi. Kami tidak punya kepentingan selain mendukung timnas di luar negeri,” tegas Garuda Saudi.
Garuda Saudi menyampaikan undangan terbuka kepada Bung Harpa untuk melakukan klarifikasi secara langsung. Tentunya demi berbagai isu tersebut diselesaikan.
“Silahkan japri kami, Bung Harpa. Nomor kontak admin kami sudah Anda miliki. Kalau ingin konfirmasi data atau fakta, kami siap menjelaskan langsung. Jangan sampai publik tersesat oleh informasi yang tidak benar,” bunyi pesan mereka.
"Kami bicara bukan untuk membela siapa-siapa, tapi untuk menjaga nama baik suporter Indonesia di luar negeri. Jangan ada lagi tudingan tanpa dasar. Kami tegaskan, isu monopoli tiket itu hoaks,” tutup pernyataan mereka.
(sto)
Lihat Juga :