WBC Kutuk Hukuman Mati Petinju Iran Mohammad Javad Vafaei Sani
Rabu, 12 November 2025 - 12:01 WIB
loading...
WBC Kutuk Hukuman Mati Petinju Iran Mohammad Javad Vafaei Sani
A
A
A
JAKARTA - Federasi tinju dunia World Boxing Council (WBC) secara tegas mengecam keputusan pemerintah Iran yang menjatuhkan hukuman mati kepada juara tinju nasional Mohammad Javad Vafaei Sani.
Langkah WBC ini bergema di tengah dukungan dari komunitas olahraga global, termasuk lebih dari 20 peraih medali Olimpiade yang menandatangani surat terbuka memprotes hukuman tersebut. Di antara mereka terdapat legenda olahraga dunia seperti Martina Navratilova dan Sharron Davies.
Baca Juga: Profil Mohammad Javad Vafaei Sani, Petinju Iran yang Dijatuhi Hukuman Mati karena Ikut Demo
Presiden WBC, Mauricio Sulaimán Saldívar, menyebut eksekusi terhadap seorang atlet karena mengungkapkan pendapatnya merupakan pelanggaran berat terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan semangat olahraga.
“Tinju adalah olahraga yang menumbuhkan keberanian, rasa hormat, dan semangat memperbaiki diri — bukan alat untuk menghukum secara politik,” ujar Sulaimán dalam pernyataan resminya.
“Menjatuhkan hukuman mati kepada seorang petinju, seorang juara, hanya karena mengekspresikan pikirannya, merupakan serangan langsung terhadap nilai-nilai dasar olahraga dan martabat manusia.”
Mohammad Javad Vafaei Sani, 30 tahun, ditangkap setelah ikut serta dalam gelombang demonstrasi besar-besaran di Iran pada 2019. Selama lima tahun terakhir, ia dilaporkan mengalami penyiksaan dan kurungan isolasi.
Persidangan terhadap Sani disebut organisasi hak asasi manusia sebagai “sangat tidak adil” dan penuh pelanggaran prosedural. Kasus ini mengingatkan publik pada tragedi serupa tahun 2020, ketika juara gulat Iran Navid Afkari dieksekusi setelah dituduh terlibat dalam aksi protes anti-pemerintah.
WBC menyerukan PBB, Komite Olimpiade Internasional (IOC), federasi olahraga dunia, dan seluruh pemerintahan internasional agar turun tangan menyelamatkan nyawa sang petinju.
“Kami mendesak otoritas Iran untuk meninjau kembali dan membatalkan hukuman mati terhadap Mohammad Javad Vafaei Sani,” tegas Sulaiman.
Seruan ini mempertegas posisi WBC bahwa olahraga tidak boleh digunakan sebagai alat represi politik. Komunitas olahraga global kini menunggu langkah nyata dunia internasional untuk menekan Iran agar menghentikan praktik pelanggaran HAM terhadap atlet yang menyuarakan kebebasan berekspresi.
Langkah WBC ini bergema di tengah dukungan dari komunitas olahraga global, termasuk lebih dari 20 peraih medali Olimpiade yang menandatangani surat terbuka memprotes hukuman tersebut. Di antara mereka terdapat legenda olahraga dunia seperti Martina Navratilova dan Sharron Davies.
Baca Juga: Profil Mohammad Javad Vafaei Sani, Petinju Iran yang Dijatuhi Hukuman Mati karena Ikut Demo
Presiden WBC, Mauricio Sulaimán Saldívar, menyebut eksekusi terhadap seorang atlet karena mengungkapkan pendapatnya merupakan pelanggaran berat terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan semangat olahraga.
“Tinju adalah olahraga yang menumbuhkan keberanian, rasa hormat, dan semangat memperbaiki diri — bukan alat untuk menghukum secara politik,” ujar Sulaimán dalam pernyataan resminya.
“Menjatuhkan hukuman mati kepada seorang petinju, seorang juara, hanya karena mengekspresikan pikirannya, merupakan serangan langsung terhadap nilai-nilai dasar olahraga dan martabat manusia.”
Kasus yang Mengguncang Dunia Olahraga
Mohammad Javad Vafaei Sani, 30 tahun, ditangkap setelah ikut serta dalam gelombang demonstrasi besar-besaran di Iran pada 2019. Selama lima tahun terakhir, ia dilaporkan mengalami penyiksaan dan kurungan isolasi.
Persidangan terhadap Sani disebut organisasi hak asasi manusia sebagai “sangat tidak adil” dan penuh pelanggaran prosedural. Kasus ini mengingatkan publik pada tragedi serupa tahun 2020, ketika juara gulat Iran Navid Afkari dieksekusi setelah dituduh terlibat dalam aksi protes anti-pemerintah.
WBC menyerukan PBB, Komite Olimpiade Internasional (IOC), federasi olahraga dunia, dan seluruh pemerintahan internasional agar turun tangan menyelamatkan nyawa sang petinju.
“Kami mendesak otoritas Iran untuk meninjau kembali dan membatalkan hukuman mati terhadap Mohammad Javad Vafaei Sani,” tegas Sulaiman.
Seruan ini mempertegas posisi WBC bahwa olahraga tidak boleh digunakan sebagai alat represi politik. Komunitas olahraga global kini menunggu langkah nyata dunia internasional untuk menekan Iran agar menghentikan praktik pelanggaran HAM terhadap atlet yang menyuarakan kebebasan berekspresi.
(sto)
Lihat Juga :