Kiper Muda Bandung Rizki Nur Fadhilah Korban TPPO? Kemlu: Ia Sengaja Berangkat ke Kamboja
Kamis, 20 November 2025 - 07:33 WIB
loading...
Kiper Muda Bandung Rizki Nur Fadhilah Korban TPPO? Kemlu: Ia Sengaja Berangkat ke Kamboja
A
A
A
Kasus yang sempat menyedot perhatian publik terkait dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) terhadap kiper muda asal Bandung, Rizki Nur Fadhilah (RNF), akhirnya menemukan titik terang.
Kementerian Luar Negeri RI memastikan bahwa Rizki bukan korban perdagangan manusia, melainkan pekerja migran yang secara sadar berangkat ke Kamboja setelah menerima tawaran kerja dari media sosial.
Dalam keterangan resmi“Bukan Korban TPPO: KBRI Phnom Penh Tangani WNI Pemain Bola yang Menyasar ke Kamboja” yang dirilis Rabu (19/11/2025), Kemlu meluruskan beragam narasi liar yang sebelumnya beredar luas.
“Di media sosial sempat muncul cerita bahwa RNF menerima tawaran bermain bola di Medan, lalu entah bagaimana bisa berakhir di Kamboja,” tulis Kemlu, menegaskan bahwa versi tersebut tidak sejalan dengan hasil pemeriksaan di lapangan.
Rizki dilaporkan muncul secara mandiri di KBRI Phnom Penh pada pukul 06.00 waktu setempat. Ia datang dalam kondisi sehat, tanpa didampingi siapa pun. Pihak kedutaan kemudian melakukan pendalaman untuk memastikan kronologi keberangkatannya.
Hasil pemeriksaan KBRI menunjukkan fakta penting: Rizki mengetahui sejak awal bahwa tujuan kerjanya adalah Kamboja, bukan Medan atau kota lain di Indonesia. Ia hanya tidak memberi tahu keluarga mengenai rencana tersebut.
Rizki—yang pernah menimba ilmu sepak bola di SSB Hesebah dan program diklat Persib—mengaku mendapatkan lowongan kerja melalui media sosial, tanpa ada tekanan selama proses perekrutan.
Kemlu juga memastikan bahwa Rizki memang direkrut ke sebuah operasi penipuan online (scam) di kawasan Sihanoukville, tetapi proses awal keberangkatan tidak mengandung unsur paksaan, sehingga ia tidak masuk kategori korban TPPO.
“Dari rangkaian informasi yang diperoleh, RNF tidak memenuhi unsur sebagai korban perdagangan orang,” tulis Kemlu.
Pernyataan Kemlu ini berbeda dari keterangan ayah Rizki, Dedi Solehudin. Menurutnya, sang anak awalnya dijanjikan bermain bola di Medan oleh seseorang yang dikenal lewat Facebook. Perjalanan Rizki kemudian disebut melewati Medan–Jakarta–Malaysia sebelum akhirnya masuk ke Kamboja.
Dedi juga mengaku bahwa putranya mengalami penyiksaan karena gagal memenuhi target mencari nomor telepon warga China untuk dijadikan sasaran penipuan. Kesaksian keluarga ini yang kemudian memicu laporan awal ke Hotline Perlindungan WNI KBRI Phnom Penh pada 10 November 2025.
Setelah berhasil keluar dari jaringan scam, Rizki sendiri yang menuju KBRI. Kini pihak kedutaan sedang memproses dokumen perjalanan dan berkoordinasi dengan otoritas Kamboja agar ia bisa segera dipulangkan ke Bandung.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa tawaran kerja dari media sosial—apa pun bentuknya—harus diteliti dengan serius. Banyak sindikat penipuan internasional memanfaatkan celah tersebut untuk merekrut anak muda dengan janji pekerjaan yang tampak meyakinkan.
Kementerian Luar Negeri RI memastikan bahwa Rizki bukan korban perdagangan manusia, melainkan pekerja migran yang secara sadar berangkat ke Kamboja setelah menerima tawaran kerja dari media sosial.
Dalam keterangan resmi“Bukan Korban TPPO: KBRI Phnom Penh Tangani WNI Pemain Bola yang Menyasar ke Kamboja” yang dirilis Rabu (19/11/2025), Kemlu meluruskan beragam narasi liar yang sebelumnya beredar luas.
“Di media sosial sempat muncul cerita bahwa RNF menerima tawaran bermain bola di Medan, lalu entah bagaimana bisa berakhir di Kamboja,” tulis Kemlu, menegaskan bahwa versi tersebut tidak sejalan dengan hasil pemeriksaan di lapangan.
Rizki dilaporkan muncul secara mandiri di KBRI Phnom Penh pada pukul 06.00 waktu setempat. Ia datang dalam kondisi sehat, tanpa didampingi siapa pun. Pihak kedutaan kemudian melakukan pendalaman untuk memastikan kronologi keberangkatannya.
Sejak Awal Tahu Akan Bekerja di Kamboja
Hasil pemeriksaan KBRI menunjukkan fakta penting: Rizki mengetahui sejak awal bahwa tujuan kerjanya adalah Kamboja, bukan Medan atau kota lain di Indonesia. Ia hanya tidak memberi tahu keluarga mengenai rencana tersebut.
Rizki—yang pernah menimba ilmu sepak bola di SSB Hesebah dan program diklat Persib—mengaku mendapatkan lowongan kerja melalui media sosial, tanpa ada tekanan selama proses perekrutan.
Kemlu juga memastikan bahwa Rizki memang direkrut ke sebuah operasi penipuan online (scam) di kawasan Sihanoukville, tetapi proses awal keberangkatan tidak mengandung unsur paksaan, sehingga ia tidak masuk kategori korban TPPO.
“Dari rangkaian informasi yang diperoleh, RNF tidak memenuhi unsur sebagai korban perdagangan orang,” tulis Kemlu.
Versi Keluarga Berbeda
Pernyataan Kemlu ini berbeda dari keterangan ayah Rizki, Dedi Solehudin. Menurutnya, sang anak awalnya dijanjikan bermain bola di Medan oleh seseorang yang dikenal lewat Facebook. Perjalanan Rizki kemudian disebut melewati Medan–Jakarta–Malaysia sebelum akhirnya masuk ke Kamboja.
Dedi juga mengaku bahwa putranya mengalami penyiksaan karena gagal memenuhi target mencari nomor telepon warga China untuk dijadikan sasaran penipuan. Kesaksian keluarga ini yang kemudian memicu laporan awal ke Hotline Perlindungan WNI KBRI Phnom Penh pada 10 November 2025.
Setelah berhasil keluar dari jaringan scam, Rizki sendiri yang menuju KBRI. Kini pihak kedutaan sedang memproses dokumen perjalanan dan berkoordinasi dengan otoritas Kamboja agar ia bisa segera dipulangkan ke Bandung.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa tawaran kerja dari media sosial—apa pun bentuknya—harus diteliti dengan serius. Banyak sindikat penipuan internasional memanfaatkan celah tersebut untuk merekrut anak muda dengan janji pekerjaan yang tampak meyakinkan.
(sto)
Lihat Juga :