Profil Varo Mario, Pembalap Muda Calon Bintang Yamaha Cup Race 2025
Sabtu, 29 November 2025 - 22:38 WIB
loading...
Profil Varo Mario, Pembalap Muda Calon Bintang Yamaha Cup Race 2025. Foto: SINDOnews/Susanto
A
A
A
JAKARTA - Setiap anak membawa mimpi yang ingin diwujudkan, dan untuk mencapainya tentu diperlukan usaha serta tekad yang kuat. Hal tersebut juga tergambar jelas dalam perjalanan seorang bocah bernama Varo Mario, yang sejak dini sudah menapaki jalan panjang untuk menjadi pembalap profesional dan bermaksud mengharumkan nama Indonesia.
Memiliki nama lengkap Alvaro Hamizan Mario, bocah keturunan Yogyakarta ini baru berusia 7 tahun. Meski masih sangat belia, Varo telah menetapkan tujuan besar: menjadi pembalap motor profesional. Di usia seusianya, banyak anak masih mencari jati diri, tetapi Varo sudah mulai membangun pondasinya di dunia balap.
Varo sudah pernah sekolah balap di Tavullia Italia dan ikut ajang Yamaha Cup Race kelas beginner. Di luar jam sekolah, ia menyisihkan waktu mengikuti program latihan fisik dan teknik balap. Akhir pekan sering ia habiskan di sirkuit, mempelajari teknik balap sambil terus mengasah refleks, stamina, dan mental bertanding.
Kesibukan ini membuat Varo harus pintar mengatur waktu. Ada kalanya ia berangkat sekolah langsung dari area latihan, menunjukkan betapa seriusnya ia mengejar impian.
Perjuangan Varo tidak ringan. Melalui unggahan di Instagram pribadinya (@varomario_23), terlihat berbagai jenis latihan yang ia jalani, mulai dari latihan fisik seperti lari mengelilingi lintasan, treadmill, push-up, hingga latihan teknik balap dengan motor mini di sirkuit.
Cedera, memar, bahkan pingsan pernah ia alami saat latihan. Meski begitu, semangatnya tidak luntur. Ia tetap berlatih dengan antusias dan menikmati proses meskipun penuh tantangan.
Perjalanan Varo semakin serius ketika ia berkesempatan menimba ilmu di Italia. Di sana, ia mengikuti pelatihan di Luca Fabrizio Riders Academy, tempat yang sama di mana juara dunia Ohvale 2023, Gabriel Vuono, ditempa.
Tidak mudah bagi anak seumurannya karena ia harus bersaing dengan peserta lain dari berbagai negara dengan usia jauh lebih tua. Varo menjadi satu-satunya anak berusia 7 tahun di antara para remaja belasan tahun. Namun, ia tetap percaya diri dan bangga bisa mewakili Indonesia dan menularkan minat balap ke anak usia dini.
"Latihan dulu (untuk anak seusia Varo, red). Harus bisa naik sepeda dulu. Kalau mau naik motor harus punya peralatan safety, terus latihan motornya juga harus bagus," kata Varo di sela-sela Yamaha Cup Race 2025 di Sirkuit Bukit Peusar, Tasikmalaya, Sabtu (29/11/2025)
Di balik usaha Varo, ada sosok ayah yang memberikan dukungan luar biasa. Meski memahami risiko besar di dunia balap, ayahnya tetap memberi restu. Ia bahkan rela mengorbankan tabungan masa tua demi membiayai pendidikan balap Varo di Italia.
Keyakinan sang ayah muncul dari ketekunan yang diperlihatkan Varo sejak awal. Menurutnya, selama Varo konsisten dan mau terus belajar, ia pasti bisa berkembang menuju level yang lebih tinggi.
Memiliki nama lengkap Alvaro Hamizan Mario, bocah keturunan Yogyakarta ini baru berusia 7 tahun. Meski masih sangat belia, Varo telah menetapkan tujuan besar: menjadi pembalap motor profesional. Di usia seusianya, banyak anak masih mencari jati diri, tetapi Varo sudah mulai membangun pondasinya di dunia balap.
Varo sudah pernah sekolah balap di Tavullia Italia dan ikut ajang Yamaha Cup Race kelas beginner. Di luar jam sekolah, ia menyisihkan waktu mengikuti program latihan fisik dan teknik balap. Akhir pekan sering ia habiskan di sirkuit, mempelajari teknik balap sambil terus mengasah refleks, stamina, dan mental bertanding.
Kesibukan ini membuat Varo harus pintar mengatur waktu. Ada kalanya ia berangkat sekolah langsung dari area latihan, menunjukkan betapa seriusnya ia mengejar impian.
Perjuangan Varo tidak ringan. Melalui unggahan di Instagram pribadinya (@varomario_23), terlihat berbagai jenis latihan yang ia jalani, mulai dari latihan fisik seperti lari mengelilingi lintasan, treadmill, push-up, hingga latihan teknik balap dengan motor mini di sirkuit.
Cedera, memar, bahkan pingsan pernah ia alami saat latihan. Meski begitu, semangatnya tidak luntur. Ia tetap berlatih dengan antusias dan menikmati proses meskipun penuh tantangan.
Perjalanan Varo semakin serius ketika ia berkesempatan menimba ilmu di Italia. Di sana, ia mengikuti pelatihan di Luca Fabrizio Riders Academy, tempat yang sama di mana juara dunia Ohvale 2023, Gabriel Vuono, ditempa.
Tidak mudah bagi anak seumurannya karena ia harus bersaing dengan peserta lain dari berbagai negara dengan usia jauh lebih tua. Varo menjadi satu-satunya anak berusia 7 tahun di antara para remaja belasan tahun. Namun, ia tetap percaya diri dan bangga bisa mewakili Indonesia dan menularkan minat balap ke anak usia dini.
"Latihan dulu (untuk anak seusia Varo, red). Harus bisa naik sepeda dulu. Kalau mau naik motor harus punya peralatan safety, terus latihan motornya juga harus bagus," kata Varo di sela-sela Yamaha Cup Race 2025 di Sirkuit Bukit Peusar, Tasikmalaya, Sabtu (29/11/2025)
Di balik usaha Varo, ada sosok ayah yang memberikan dukungan luar biasa. Meski memahami risiko besar di dunia balap, ayahnya tetap memberi restu. Ia bahkan rela mengorbankan tabungan masa tua demi membiayai pendidikan balap Varo di Italia.
Keyakinan sang ayah muncul dari ketekunan yang diperlihatkan Varo sejak awal. Menurutnya, selama Varo konsisten dan mau terus belajar, ia pasti bisa berkembang menuju level yang lebih tinggi.
(sto)
Lihat Juga :