Festival SenengMinton Jawa Tengah 2025 Jadi Upaya Lawan Gaya Hidup Kurang Gerak Anak
Rabu, 24 Desember 2025 - 18:22 WIB
loading...
Festival SenengMinton dirancang berbasis permainan untuk melatih koordinasi motorik, kecepatan, dan ketangkasan anak, sekaligus merangsang perkembangan kognitif / Foto: Ist
A
A
A
Ancaman gaya hidup sedenter atau kurang gerak pada anak-anak Indonesia kian mengkhawatirkan seiring meningkatnya durasi penggunaan gawai. Menjawab tantangan tersebut, Festival SenengMinton Jawa Tengah 2025 digelar sebagai upaya preventif untuk menumbuhkan kembali kebiasaan aktif bergerak sejak usia dini melalui pendekatan edukatif dan menyenangkan.
Festival hasil kolaborasi Bakti Olahraga Djarum Foundation, Pengprov PBSI Jawa Tengah, dan Aice Group ini diikuti 2.266 siswa sekolah dasar dari berbagai daerah. Kegiatan berlangsung beruntun di Solo (23 September), Purwokerto (8 November), Semarang (20 November), dan ditutup di Magelang (11 Desember).
Senior Brand Manager Aice Group, Sylvana Zhong, menyebut perilaku sedenter bukan sekadar persoalan kurang bergerak. Melainkan telah menjadi ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Lewat inisiatif ini, Aice berupaya mengubah paradigma anak-anak dari ketergantungan pada layar gadget menjadi kegemaran beraktivitas fisik di lapangan. Dengan memperkenalkan olahraga sebagai momen kebahagiaan dan kebersamaan, diharapkan muncul kesadaran intrinsik pada anak sekaligus orang tua, untuk mengadopsi pola hidup sehat secara berkelanjutan,” jelas Sylvana.
Festival SenengMinton dirancang berbasis permainan untuk melatih koordinasi motorik, kecepatan, dan ketangkasan anak, sekaligus merangsang perkembangan kognitif. Pendekatan bermain ini dinilai efektif untuk mengembalikan minat anak pada aktivitas fisik tanpa tekanan kompetisi berlebihan.
“Kehadiran ribuan anak di festival, menjadi bukti bahwa ruang untuk berolahraga yang dikemas secara ramah anak sangat ditunggu-tunggu. Di setiap kota, peserta diajak untuk melatih ketangkasan dasar bulutangkis tanpa tekanan kompetisi yang berat. Justru kita mengajaknya lewat pendekatan bermain yang menumbuhkan rasa cinta pada olahraga,” tambah Sylvana.
Antusiasme juga datang dari orang tua dan pihak sekolah yang menilai festival ini sebagai sarana edukatif sekaligus alternatif pengembangan kegiatan ekstrakurikuler. Wakil Ketua Umum Pengprov PBSI Jawa Tengah, Yuni Kartika, menyambut positif tingginya partisipasi anak-anak dalam ajang tersebut.
“Kami memandang pentingnya mengenalkan olahraga bulu tangkis sejak usia dini untuk kemudian dapat dibina lebih lanjut. Lewat Festival SenengMinton, kami ingin anak anak bisa menikmati proses belajar bulu tangkis dengan cara yang menyenangkan. Melihat antusiasme yang sangat tinggi pada seri Jawa Tengah ini, kami berharap minat terhadap bulu tangkis dapat semakin bergema sejak usia dini, sehingga kedepannya dapat mendorong terbentuknya kegiatan ekstrakurikuler bulu tangkis di sekolah sekolah, serta membuka jalan bagi anak anak berbakat untuk bergabung dengan klub,” ujar Yuni.
Rangkaian aktivitas seperti Shuttle Run, Zig Zag Run, hingga Service to Target dirancang sesuai tahapan usia anak untuk mengasah motorik dan ketangkasan dasar. Pendekatan berbasis kegembiraan ini diharapkan mampu memutus rantai perilaku sedenter sejak kelas awal sekolah dasar.
“Lewat dukungan di Festival ini, Aice ingin menegaskan komitmen jangka panjang untuk terus berkontribusi dalam menciptakan ekosistem olahraga nasional yang positif, di mana kesehatan dan kebahagiaan berjalan beriringan dalam mencetak generasi muda Indonesia yang lebih ceria dan bugar,” pungkas Sylvana
Festival hasil kolaborasi Bakti Olahraga Djarum Foundation, Pengprov PBSI Jawa Tengah, dan Aice Group ini diikuti 2.266 siswa sekolah dasar dari berbagai daerah. Kegiatan berlangsung beruntun di Solo (23 September), Purwokerto (8 November), Semarang (20 November), dan ditutup di Magelang (11 Desember).
Senior Brand Manager Aice Group, Sylvana Zhong, menyebut perilaku sedenter bukan sekadar persoalan kurang bergerak. Melainkan telah menjadi ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Lewat inisiatif ini, Aice berupaya mengubah paradigma anak-anak dari ketergantungan pada layar gadget menjadi kegemaran beraktivitas fisik di lapangan. Dengan memperkenalkan olahraga sebagai momen kebahagiaan dan kebersamaan, diharapkan muncul kesadaran intrinsik pada anak sekaligus orang tua, untuk mengadopsi pola hidup sehat secara berkelanjutan,” jelas Sylvana.
Festival SenengMinton dirancang berbasis permainan untuk melatih koordinasi motorik, kecepatan, dan ketangkasan anak, sekaligus merangsang perkembangan kognitif. Pendekatan bermain ini dinilai efektif untuk mengembalikan minat anak pada aktivitas fisik tanpa tekanan kompetisi berlebihan.
“Kehadiran ribuan anak di festival, menjadi bukti bahwa ruang untuk berolahraga yang dikemas secara ramah anak sangat ditunggu-tunggu. Di setiap kota, peserta diajak untuk melatih ketangkasan dasar bulutangkis tanpa tekanan kompetisi yang berat. Justru kita mengajaknya lewat pendekatan bermain yang menumbuhkan rasa cinta pada olahraga,” tambah Sylvana.
Antusiasme juga datang dari orang tua dan pihak sekolah yang menilai festival ini sebagai sarana edukatif sekaligus alternatif pengembangan kegiatan ekstrakurikuler. Wakil Ketua Umum Pengprov PBSI Jawa Tengah, Yuni Kartika, menyambut positif tingginya partisipasi anak-anak dalam ajang tersebut.
“Kami memandang pentingnya mengenalkan olahraga bulu tangkis sejak usia dini untuk kemudian dapat dibina lebih lanjut. Lewat Festival SenengMinton, kami ingin anak anak bisa menikmati proses belajar bulu tangkis dengan cara yang menyenangkan. Melihat antusiasme yang sangat tinggi pada seri Jawa Tengah ini, kami berharap minat terhadap bulu tangkis dapat semakin bergema sejak usia dini, sehingga kedepannya dapat mendorong terbentuknya kegiatan ekstrakurikuler bulu tangkis di sekolah sekolah, serta membuka jalan bagi anak anak berbakat untuk bergabung dengan klub,” ujar Yuni.
Rangkaian aktivitas seperti Shuttle Run, Zig Zag Run, hingga Service to Target dirancang sesuai tahapan usia anak untuk mengasah motorik dan ketangkasan dasar. Pendekatan berbasis kegembiraan ini diharapkan mampu memutus rantai perilaku sedenter sejak kelas awal sekolah dasar.
“Lewat dukungan di Festival ini, Aice ingin menegaskan komitmen jangka panjang untuk terus berkontribusi dalam menciptakan ekosistem olahraga nasional yang positif, di mana kesehatan dan kebahagiaan berjalan beriringan dalam mencetak generasi muda Indonesia yang lebih ceria dan bugar,” pungkas Sylvana
(yov)
Lihat Juga :