8 Negara Eropa Favorit Juara Diminta Mundur dari Piala Dunia 2026
Jum'at, 23 Januari 2026 - 11:16 WIB
loading...
8 Negara Eropa Favorit Juara Diminta Mundur dari Piala Dunia 2026. Foto: Facebook/The18
A
A
A
Wacana mundurnya delapan negara Eropa dari Piala Dunia 2026 mencuat di tengah memanasnya situasi politik global. Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman, Portugal, Belanda, Norwegia, dan Italia disebut-sebut mempertimbangkan langkah ekstrem tersebut sebagai respons atas berbagai kebijakan dan sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjelang turnamen akbar itu.
Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung lima bulan lagi dengan Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama, bersama Kanada dan Meksiko. Namun alih-alih fokus pada persiapan teknis dan sepak bola, turnamen ini justru dibayangi polemik politik, mulai dari kebijakan luar negeri hingga isu imigrasi yang dinilai berpotensi mengganggu kelancaran kompetisi.
Sorotan tajam datang setelah jurnalis Inggris, Piers Morgan , melontarkan gagasan agar delapan negara Eropa tersebut menghentikan sementara partisipasi mereka. Melalui unggahan di media sosial X, Morgan menilai absennya delapan tim unggulan Piala Dunia dapat menjadi tekanan serius bagi pemerintahan Trump di tengah negosiasi tarif dan ketegangan diplomatik yang berlangsung.
Baca Juga: 5 Negara Besar Berpotensi Boikot Piala Dunia 2026, Buntut Kebijakan Luar Negeri AS
Morgan menyebut delapan negara tersebut sebagai mayoritas favorit juara Piala Dunia 2026. Dari daftar itu, Italia memang belum mengamankan tiket ke putaran final, tetapi masih memiliki peluang lolos melalui babak play-off. Menurut Morgan, potensi penarikan diri tim-tim elite Eropa bisa memengaruhi legitimasi dan daya tarik turnamen.
Kontroversi juga diperparah oleh kebijakan larangan perjalanan yang diperluas oleh pemerintahan Trump sejak 2025. Kebijakan ini memicu kekhawatiran soal akses masuk bagi pemain, ofisial, dan suporter. Laporan terbaru menyebutkan otoritas Amerika Serikat telah menginstruksikan penolakan visa terhadap warga dari 75 negara, termasuk 15 negara yang sudah memastikan lolos ke Piala Dunia 2026 seperti Brasil, Kolombia, dan Mesir.
Di Eropa, reaksi keras turut datang dari kalangan politik. Politikus Jerman, Jurgen Hardt, menyebut boikot Piala Dunia sebagai opsi terakhir untuk menekan Amerika Serikat agar mengubah kebijakannya, khususnya terkait isu geopolitik dan ancaman tarif. Bahkan, muncul pula wacana agar status tuan rumah Amerika Serikat ditinjau ulang, meski FIFA hingga kini belum memberikan pernyataan resmi.
Dengan akumulasi isu politik, diplomasi, dan kebijakan imigrasi tersebut, Piala Dunia 2026 menghadapi tantangan besar sebelum peluit pertama dibunyikan. Turnamen yang diharapkan menjadi perayaan sepak bola global kini berada di bawah bayang-bayang konflik kepī¸ politik internasional yang berpotensi memengaruhi partisipasi negara-negara besar dunia.
Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung lima bulan lagi dengan Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama, bersama Kanada dan Meksiko. Namun alih-alih fokus pada persiapan teknis dan sepak bola, turnamen ini justru dibayangi polemik politik, mulai dari kebijakan luar negeri hingga isu imigrasi yang dinilai berpotensi mengganggu kelancaran kompetisi.
Sorotan tajam datang setelah jurnalis Inggris, Piers Morgan , melontarkan gagasan agar delapan negara Eropa tersebut menghentikan sementara partisipasi mereka. Melalui unggahan di media sosial X, Morgan menilai absennya delapan tim unggulan Piala Dunia dapat menjadi tekanan serius bagi pemerintahan Trump di tengah negosiasi tarif dan ketegangan diplomatik yang berlangsung.
Baca Juga: 5 Negara Besar Berpotensi Boikot Piala Dunia 2026, Buntut Kebijakan Luar Negeri AS
Morgan menyebut delapan negara tersebut sebagai mayoritas favorit juara Piala Dunia 2026. Dari daftar itu, Italia memang belum mengamankan tiket ke putaran final, tetapi masih memiliki peluang lolos melalui babak play-off. Menurut Morgan, potensi penarikan diri tim-tim elite Eropa bisa memengaruhi legitimasi dan daya tarik turnamen.
Kontroversi juga diperparah oleh kebijakan larangan perjalanan yang diperluas oleh pemerintahan Trump sejak 2025. Kebijakan ini memicu kekhawatiran soal akses masuk bagi pemain, ofisial, dan suporter. Laporan terbaru menyebutkan otoritas Amerika Serikat telah menginstruksikan penolakan visa terhadap warga dari 75 negara, termasuk 15 negara yang sudah memastikan lolos ke Piala Dunia 2026 seperti Brasil, Kolombia, dan Mesir.
Di Eropa, reaksi keras turut datang dari kalangan politik. Politikus Jerman, Jurgen Hardt, menyebut boikot Piala Dunia sebagai opsi terakhir untuk menekan Amerika Serikat agar mengubah kebijakannya, khususnya terkait isu geopolitik dan ancaman tarif. Bahkan, muncul pula wacana agar status tuan rumah Amerika Serikat ditinjau ulang, meski FIFA hingga kini belum memberikan pernyataan resmi.
Dengan akumulasi isu politik, diplomasi, dan kebijakan imigrasi tersebut, Piala Dunia 2026 menghadapi tantangan besar sebelum peluit pertama dibunyikan. Turnamen yang diharapkan menjadi perayaan sepak bola global kini berada di bawah bayang-bayang konflik kepī¸ politik internasional yang berpotensi memengaruhi partisipasi negara-negara besar dunia.
(sto)
Lihat Juga :