Pejabat Federasi Sepak Bola Jerman Setuju Boikot Piala Dunia 2026 Amerika Serikat
Senin, 26 Januari 2026 - 11:29 WIB
loading...
Pemain timnas Jerman tutup mulut saat foto tim jelang lawan Jepang di Piala Dunia 2022. Foto: Politico
A
A
A
JERMAN - Kabar mengejutkan datang dari Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) sekaligus Presiden klub St. Pauli, Oke Gottlich. Setelah beredar wacana boikot Piala Dunia 2026 , untuk kali pertama insan federasi sepak bola akhirnya menyerukan agar Jerman dan komunitas sepak bola internasional mulai membahas serius kemungkinan mundur dari pesta sepak bola tahun ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Gottlich kepada harian Hamburger Morgenpost, 24 Januari 2026 menyusul meningkatnya ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Eropa, termasuk pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Greenland serta ancaman tarif baru terhadap negara-negara Uni Eropa.
“Saya benar-benar bertanya-tanya kapan momen untuk mempertimbangkan dan mendebatkan ini secara serius. Bagi saya, momen itu (boikot) sudah tiba,” ujar Gottlich.
Baca Juga: 8 Negara Eropa Favorit Juara Diminta Mundur dari Piala Dunia 2026
Ia menilai dunia olahraga tidak bisa sepenuhnya menutup mata dari dinamika geopolitik. Gottlich bahkan mengingatkan preseden boikot Olimpiade pada era Perang Dingin, seperti boikot Olimpiade Moskow 1980 oleh Amerika Serikat dan balasan Uni Soviet yang absen dari Olimpiade Los Angeles 1984.
“Jika melihat alasan boikot Olimpiade pada 1980-an, menurut saya ancaman yang kita hadapi saat ini justru lebih besar. Diskusi ini wajib dilakukan,” tegasnya.
Piala Dunia 2026 sendiri akan menjadi turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan melibatkan 48 negara peserta. Dari total 104 pertandingan, sebanyak 78 laga dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat, sementara sisanya dibagi antara Meksiko dan Kanada.
Gottlich juga menyinggung inkonsistensi sikap dunia sepak bola terhadap isu politik. Ia menilai kritik keras terhadap Piala Dunia Qatar beberapa tahun lalu bertolak belakang dengan sikap permisif terhadap situasi politik saat ini.
“Qatar dianggap terlalu politis oleh semua orang. Sekarang kita tiba-tiba bersikap sepenuhnya apolitis? Itu sangat mengganggu saya,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia mempertanyakan batas nilai dan prinsip yang seharusnya dijaga oleh organisasi sepak bola global. Göttlich secara terbuka meminta kejelasan sikap dari Presiden DFB Bernd Neuendorf dan Presiden FIFA Gianni Infantino terkait isu tersebut.
“Sebagai organisasi dan sebagai masyarakat, kita perlahan lupa menetapkan batas dan membela nilai. Kapan batas itu dilanggar?” pungkasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Gottlich kepada harian Hamburger Morgenpost, 24 Januari 2026 menyusul meningkatnya ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Eropa, termasuk pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Greenland serta ancaman tarif baru terhadap negara-negara Uni Eropa.
“Saya benar-benar bertanya-tanya kapan momen untuk mempertimbangkan dan mendebatkan ini secara serius. Bagi saya, momen itu (boikot) sudah tiba,” ujar Gottlich.
Baca Juga: 8 Negara Eropa Favorit Juara Diminta Mundur dari Piala Dunia 2026
Ia menilai dunia olahraga tidak bisa sepenuhnya menutup mata dari dinamika geopolitik. Gottlich bahkan mengingatkan preseden boikot Olimpiade pada era Perang Dingin, seperti boikot Olimpiade Moskow 1980 oleh Amerika Serikat dan balasan Uni Soviet yang absen dari Olimpiade Los Angeles 1984.
“Jika melihat alasan boikot Olimpiade pada 1980-an, menurut saya ancaman yang kita hadapi saat ini justru lebih besar. Diskusi ini wajib dilakukan,” tegasnya.
Piala Dunia 2026 sendiri akan menjadi turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan melibatkan 48 negara peserta. Dari total 104 pertandingan, sebanyak 78 laga dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat, sementara sisanya dibagi antara Meksiko dan Kanada.
Gottlich juga menyinggung inkonsistensi sikap dunia sepak bola terhadap isu politik. Ia menilai kritik keras terhadap Piala Dunia Qatar beberapa tahun lalu bertolak belakang dengan sikap permisif terhadap situasi politik saat ini.
“Qatar dianggap terlalu politis oleh semua orang. Sekarang kita tiba-tiba bersikap sepenuhnya apolitis? Itu sangat mengganggu saya,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia mempertanyakan batas nilai dan prinsip yang seharusnya dijaga oleh organisasi sepak bola global. Göttlich secara terbuka meminta kejelasan sikap dari Presiden DFB Bernd Neuendorf dan Presiden FIFA Gianni Infantino terkait isu tersebut.
“Sebagai organisasi dan sebagai masyarakat, kita perlahan lupa menetapkan batas dan membela nilai. Kapan batas itu dilanggar?” pungkasnya.
(sto)
Lihat Juga :