Timnas Australia Diminta Mundur dari Piala Dunia 2026

Rabu, 11 Februari 2026 - 09:43 WIB
loading...
Timnas Australia Diminta...
Timnas Australia Diminta Mundur dari Piala Dunia 2026
A A A
Wacana boikot Piala Dunia 2026 mulai mencuat di Australia. Pengamat kebijakan publik dan olahraga internasional, John Frew, menilai pemerintah dan federasi sepak bola Australia perlu secara serius mempertimbangkan makna politik dari partisipasi dalam turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tersebut.

Menurut Frew, ajang seperti Piala Dunia tidak pernah sepenuhnya netral dari kepentingan politik. Ia menegaskan bahwa setiap negara yang menjadi tuan rumah memperoleh legitimasi global melalui turnamen tersebut.

“Piala Dunia bukan hanya kumpulan pertandingan. Ia adalah panggung global yang memberi pengakuan dan status. Ketika sebuah negara menjadi tuan rumah, dunia pada dasarnya menyatakan bahwa negara itu layak dirayakan,” ujar Frew dalam pandangannya yang dipublikasi jurnal kebijakan publik, Johnmenadue, pekan ini.

Frew menilai konteks politik Amerika Serikat menjelang 2026 membuat isu ini sulit diabaikan. Ia menyoroti kebijakan imigrasi yang keras, meningkatnya nasionalisme politik, serta kritik dari sejumlah kelompok masyarakat sipil internasional terhadap arah kebijakan Washington.

“Pertanyaannya bukan apakah olahraga itu politis. Olahraga internasional memang selalu berada dalam lanskap kekuasaan. Pertanyaannya adalah apakah Australia mau mengakui makna politik dari keikutsertaannya,” katanya.

Sorotan terhadap FIFA


Selain faktor tuan rumah, Frew juga mengkritisi peran FIFA sebagai penyelenggara. Ia menyebut badan sepak bola dunia tersebut kerap mengklaim netralitas, namun rekam jejaknya dalam penentuan tuan rumah dan relasi dengan elite politik menimbulkan tanda tanya.

Menurutnya, ketika FIFA menjalin kedekatan simbolik dengan pemimpin politik negara tuan rumah, sulit untuk tetap berargumen bahwa turnamen berdiri sepenuhnya terpisah dari kepentingan kekuasaan.

“Negara peserta bukan hanya menerima undangan bertanding. Mereka secara tidak langsung memberi legitimasi pada struktur politik dan institusional yang menyelenggarakan ajang itu,” ujar Frew.

Meski demikian, Frew mengakui bahwa seruan boikot membawa konsekuensi besar, terutama bagi para pemain. Piala Dunia merupakan puncak karier yang diperjuangkan selama bertahun-tahun, dan tidak semua atlet mendapat kesempatan kedua.

“Meminta atlet melewatkan Piala Dunia bukan permintaan simbolik. Itu pengorbanan nyata dan personal,” ucapnya.

Namun ia menambahkan, dalam sejarah olahraga internasional, boikot hanya memiliki bobot moral ketika ada harga yang benar-benar dibayar. Karena itu, menurut Frew, jika Australia mempertimbangkan langkah tersebut, keputusan harus diambil di tingkat nasional — bukan dibebankan kepada atlet semata.

Perdebatan Masih Terbuka

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Australia maupun Football Australia terkait kemungkinan boikot. Namun diskursus publik mulai berkembang, seiring munculnya perdebatan serupa di sejumlah negara lain. Bagi Frew, inti persoalan bukan sekadar hadir atau tidak hadir di turnamen.

“Partisipasi selalu mengirimkan pesan. Jika Australia memilih untuk tetap tampil, itu juga sebuah pernyataan. Jika memilih mundur, itu pun demikian,” katanya.

Dengan Piala Dunia 2026 yang semakin dekat, Australia kini dihadapkan pada pertanyaan yang lebih luas dari sekadar sepak bola: apakah olahraga bisa benar-benar dipisahkan dari politik global, atau justru selalu menjadi bagian darinya.
(sto)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Salah Umumkan Ayah Messi...
Salah Umumkan Ayah Messi Meninggal, Presenter Argentina Mundur
Gebuk Skotlandia, Gol...
Gebuk Skotlandia, Gol 71 Detik Ismael Saibari Antar Maroko ke Puncak Grup C
Pulisic Absen, Amerika...
Pulisic Absen, Amerika Serikat Bungkam Australia 2-0 di Piala Dunia 2026
Timnas Amerika Serikat...
Timnas Amerika Serikat Ungguli Australia 2-0 di Babak Pertama
Saudari Cristiano Ronaldo...
Saudari Cristiano Ronaldo Ngamuk usai Portugal Ditahan Kongo, Bruno Fernandes Ikut Disindir
Nyaris Telanjang, Ivana...
Nyaris Telanjang, Ivana Knoll Bikin Gempar Piala Dunia 2026
Semarak Piala Dunia...
Semarak Piala Dunia 2026 Hadir di KRL Commuter Line
Iran Kecam Perlakuan...
Iran Kecam Perlakuan Buruk AS di Piala Dunia: Tim yang Paling Ditindas
7 Fakta Unik Cape Verde,...
7 Fakta Unik Cape Verde, Negara Kecil yang Bikin Spanyol Frustrasi di Piala Dunia 2026
Special Bola
3 Pelatih dengan Partisipasi...
Bola Dunia
3 Pelatih dengan Partisipasi Terbanyak Sepanjang Sejarah Piala Dunia
Saddil Ramdani Banyak...
Liga Indonesia
Saddil Ramdani Banyak Belajar dari Pertandingan Piala Dunia 2026
Gelandang Timnas Kanada...
Bola Dunia
Gelandang Timnas Kanada Patah Kaki Akibat Tekel Horor Pemain Qatar
Rekomendasi
Program Ketahanan Pangan,...
Program Ketahanan Pangan, Puluhan Hektare Sawah di Batang Ditanami Padi Hasil Riset
Kurang dari 12 Jam,...
Kurang dari 12 Jam, Satreskrim Polres Pelalawan Tangkap Perampok Sadis
Warga Rawa Buaya Bersyukur...
Warga Rawa Buaya Bersyukur Terima Bantuan Kursi Roda dari Dina Masyusin dan Dinsos
Berita Terkini
Salah Umumkan Ayah Messi...
Salah Umumkan Ayah Messi Meninggal, Presenter Argentina Mundur
Gebuk Skotlandia, Gol...
Gebuk Skotlandia, Gol 71 Detik Ismael Saibari Antar Maroko ke Puncak Grup C
Pulisic Absen, Amerika...
Pulisic Absen, Amerika Serikat Bungkam Australia 2-0 di Piala Dunia 2026
Timnas Amerika Serikat...
Timnas Amerika Serikat Ungguli Australia 2-0 di Babak Pertama
Indonesia Perkuat Regenerasi...
Indonesia Perkuat Regenerasi Atlet demi Kuasai Panggung MMA Asia
Saudari Cristiano Ronaldo...
Saudari Cristiano Ronaldo Ngamuk usai Portugal Ditahan Kongo, Bruno Fernandes Ikut Disindir
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved