Dari Warnet ke Panggung Esports, Jalan Sunyi Lipay Xia Menggapai Mimpi
Jum'at, 20 Februari 2026 - 11:54 WIB
loading...
Dari Warnet ke Panggung Esports, Jalan Sunyi Lipay Xia Menggapai Mimpi. Foto: Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Nama Lipay Xia tak lahir dari gemerlap panggung besar. Ia tumbuh dari sudut-sudut warnet, dari layar monitor yang menyala semalaman, dari kegemaran masa remaja yang kerap dipandang sebelah mata. Di sanalah, perlahan, ia merakit mimpinya.
Perempuan kelahiran Tangerang, 25 Agustus 2000 ini mengenal kultur pop Jepang sejak akhir 2015. Berawal dari pengaruh sang kakak, ia jatuh hati pada karakter Roronoa Zoro dan Portgas D. Ace dalam anime One Piece. Kegemaran itu tak berhenti sebagai tontonan; ia menjelma menjadi keseriusan. Cosplay menjadi pintu masuknya.
Namun perjalanan Lipay tak sepenuhnya mulus. Sebelum dikenal di dunia cosplay dan esports, ia lebih dulu mengetuk pintu industri hiburan arus utama. Pada 2018, ia mengikuti audisi JKT48 dan berhasil menembus 100 besar dari sekitar 1.000 pendaftar.
Pengalaman itu menjadi fondasi kepercayaan diri. Ia belajar berdiri di depan publik, menghadapi sorotan, menerima penilaian. Setahun berselang, namanya mulai diperhitungkan di komunitas cosplay. Ia meraih Juara Favorit Predator League Cosplay Competition 2019 dan peringkat ketiga Pemm’z Cosplay Competition 2019. Pada 2024, ia bahkan dipercaya menjadi juri Cosplay Mukashi Festival.
“Setiap panggung itu melatih mental. Entah itu audisi, lomba cosplay, atau live streaming. Semua butuh keberanian untuk tampil apa adanya,” ujar Lipay saat ditemui, Kamis (19/2/2026).
Jika cosplay membentuk panggungnya, warnet membentuk daya tahannya. Sejak duduk di bangku SMK, Lipay terbiasa menghabiskan waktu bermain gim di warung internet. Bahkan, setelah lulus sekolah, ia pernah beraktivitas penuh di warnet selama sebulan. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar ekstrem. Bagi Lipay, itu adalah fase pencarian arah.
Dari sana ia masuk ke ranah kompetitif dan sempat bergabung dalam divisi wanita untuk gim Counter-Strike: Global Offensive (CS:GO). Dunia esports bukan lagi sekadar hobi; ia berubah menjadi kemungkinan.
“Dari warnet saya belajar konsistensi. Kalau mau jago, ya harus latihan terus. Tidak ada jalan pintas,” tuturnya.
Membangun Persona di Era Live Streaming
Tahun 2019 menjadi titik balik. Ia menerima kontrak siaran dari platform live streaming. Bukan sekadar bermain gim, Lipay merancang interaksi. Ia mempopulerkan format virtual girlfriend—sebuah pendekatan yang menuntut spontanitas, empati, dan kemampuan membaca suasana.
Format itu membesarkan namanya. Organisasi esports raksasa Rex Regum Qeon kemudian merekrutnya sebagai Exclusive Talent Streamer pada 2020. Selama tiga tahun bernaung di sana, ia mematangkan teknik siaran sekaligus membangun komunitas yang loyal.
“Live streaming itu bukan cuma soal main game. Kita membangun hubungan. Penonton datang bukan hanya untuk konten, tapi untuk merasa didengar,” katanya.
Perjalanannya bersama RRQ berakhir pada awal 2023. Namun kariernya tak berhenti. Pada 2024, ia dipercaya menjadi Brand Ambassador BFAUNNDATION (BFN Esports), menandai fase baru dalam karier profesionalnya.
Kehilangan dan Memulai Lagi
Di tahun yang sama, ujian datang. Ia kehilangan akses permanen ke akun Instagram utamanya-akun yang dibangun sejak 2019, yang menyimpan dokumentasi perjalanan dan portofolio digitalnya.
Bagi kreator konten, itu bukan sekadar kehilangan akun; itu kehilangan arsip, jejaring, dan jejak kerja keras bertahun-tahun.
“Saya sempat turun motivasi. Rasanya seperti mulai dari nol lagi,” ungkapnya.
Namun ia memilih bertahan. Ia membuka akun baru, mengumpulkan pengikut satu per satu, membangun kembali ritme. Adaptasi itu justru berbuah kepercayaan baru dari industri.
“Di industri digital, yang paling penting bukan seberapa besar kita jatuh, tapi seberapa cepat kita bangkit dan menata ulang langkah.”
Kini, di luar kesibukan depan kamera, Lipay rutin berolahraga-GYM dan bulu tangkis menjadi penyeimbang. Ia lebih selektif memilih lingkungan, menjaga stabilitas mental, dan menata ekosistem kerja yang sehat.
Perjalanan Lipay Xia mungkin dimulai dari warnet sederhana. Namun dari sana, ia belajar bahwa mimpi tak selalu lahir dari panggung megah. Kadang, ia tumbuh dari layar kecil, dari konsistensi yang tak terlihat, dari keberanian untuk terus memulai ulang.
“Selama kita mau belajar dan beradaptasi, selalu ada ruang untuk berkembang. Dunia digital itu cepat berubah, tapi kerja keras tetap relevan,” tutupnya.
Perempuan kelahiran Tangerang, 25 Agustus 2000 ini mengenal kultur pop Jepang sejak akhir 2015. Berawal dari pengaruh sang kakak, ia jatuh hati pada karakter Roronoa Zoro dan Portgas D. Ace dalam anime One Piece. Kegemaran itu tak berhenti sebagai tontonan; ia menjelma menjadi keseriusan. Cosplay menjadi pintu masuknya.
Namun perjalanan Lipay tak sepenuhnya mulus. Sebelum dikenal di dunia cosplay dan esports, ia lebih dulu mengetuk pintu industri hiburan arus utama. Pada 2018, ia mengikuti audisi JKT48 dan berhasil menembus 100 besar dari sekitar 1.000 pendaftar.
Pengalaman itu menjadi fondasi kepercayaan diri. Ia belajar berdiri di depan publik, menghadapi sorotan, menerima penilaian. Setahun berselang, namanya mulai diperhitungkan di komunitas cosplay. Ia meraih Juara Favorit Predator League Cosplay Competition 2019 dan peringkat ketiga Pemm’z Cosplay Competition 2019. Pada 2024, ia bahkan dipercaya menjadi juri Cosplay Mukashi Festival.
“Setiap panggung itu melatih mental. Entah itu audisi, lomba cosplay, atau live streaming. Semua butuh keberanian untuk tampil apa adanya,” ujar Lipay saat ditemui, Kamis (19/2/2026).
Sebulan Tinggal di Warnet
Jika cosplay membentuk panggungnya, warnet membentuk daya tahannya. Sejak duduk di bangku SMK, Lipay terbiasa menghabiskan waktu bermain gim di warung internet. Bahkan, setelah lulus sekolah, ia pernah beraktivitas penuh di warnet selama sebulan. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar ekstrem. Bagi Lipay, itu adalah fase pencarian arah.
Dari sana ia masuk ke ranah kompetitif dan sempat bergabung dalam divisi wanita untuk gim Counter-Strike: Global Offensive (CS:GO). Dunia esports bukan lagi sekadar hobi; ia berubah menjadi kemungkinan.
“Dari warnet saya belajar konsistensi. Kalau mau jago, ya harus latihan terus. Tidak ada jalan pintas,” tuturnya.
Membangun Persona di Era Live Streaming
Tahun 2019 menjadi titik balik. Ia menerima kontrak siaran dari platform live streaming. Bukan sekadar bermain gim, Lipay merancang interaksi. Ia mempopulerkan format virtual girlfriend—sebuah pendekatan yang menuntut spontanitas, empati, dan kemampuan membaca suasana.
Format itu membesarkan namanya. Organisasi esports raksasa Rex Regum Qeon kemudian merekrutnya sebagai Exclusive Talent Streamer pada 2020. Selama tiga tahun bernaung di sana, ia mematangkan teknik siaran sekaligus membangun komunitas yang loyal.
“Live streaming itu bukan cuma soal main game. Kita membangun hubungan. Penonton datang bukan hanya untuk konten, tapi untuk merasa didengar,” katanya.
Perjalanannya bersama RRQ berakhir pada awal 2023. Namun kariernya tak berhenti. Pada 2024, ia dipercaya menjadi Brand Ambassador BFAUNNDATION (BFN Esports), menandai fase baru dalam karier profesionalnya.
Kehilangan dan Memulai Lagi
Di tahun yang sama, ujian datang. Ia kehilangan akses permanen ke akun Instagram utamanya-akun yang dibangun sejak 2019, yang menyimpan dokumentasi perjalanan dan portofolio digitalnya.
Bagi kreator konten, itu bukan sekadar kehilangan akun; itu kehilangan arsip, jejaring, dan jejak kerja keras bertahun-tahun.
“Saya sempat turun motivasi. Rasanya seperti mulai dari nol lagi,” ungkapnya.
Namun ia memilih bertahan. Ia membuka akun baru, mengumpulkan pengikut satu per satu, membangun kembali ritme. Adaptasi itu justru berbuah kepercayaan baru dari industri.
“Di industri digital, yang paling penting bukan seberapa besar kita jatuh, tapi seberapa cepat kita bangkit dan menata ulang langkah.”
Kini, di luar kesibukan depan kamera, Lipay rutin berolahraga-GYM dan bulu tangkis menjadi penyeimbang. Ia lebih selektif memilih lingkungan, menjaga stabilitas mental, dan menata ekosistem kerja yang sehat.
Perjalanan Lipay Xia mungkin dimulai dari warnet sederhana. Namun dari sana, ia belajar bahwa mimpi tak selalu lahir dari panggung megah. Kadang, ia tumbuh dari layar kecil, dari konsistensi yang tak terlihat, dari keberanian untuk terus memulai ulang.
“Selama kita mau belajar dan beradaptasi, selalu ada ruang untuk berkembang. Dunia digital itu cepat berubah, tapi kerja keras tetap relevan,” tutupnya.
(sto)
Lihat Juga :