Viral Pemain Timnas Indonesia Fadly Alberto Lepaskan Tendangan Kungfu Brutal di Laga EPA U-20
Senin, 20 April 2026 - 12:26 WIB
loading...
Viral Pemain Timnas Indonesia Fadly Alberto Lepaskan Tendangan Kungfu Brutal di Laga EPA U-20
A
A
A
Dunia sepak bola usia muda Indonesia kembali jadi sorotan. Bukan karena prestasi, melainkan insiden kontroversial yang melibatkan nama Fadly Alberto dalam ajang Elite Pro Academy (EPA) U-20 2025/2026.
Peristiwa itu terjadi dalam laga antara Bhayangkara FC U-20 kontra Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4/2026). Pertandingan berlangsung ketat dan berakhir dengan kemenangan Dewa United 2-1. Dua gol tim tamu dicetak Abu Thalib dan Kelvin Ananda Hairulis, sementara Bhayangkara hanya membalas lewat Aqilah Lissunah.
Namun, sorotan utama justru muncul setelah pertandingan usai.
Ketegangan antar pemain yang semula hanya adu mulut di pinggir lapangan berubah menjadi kericuhan. Situasi memanas dan sulit dikendalikan. Di tengah kekacauan itu, terjadi momen yang langsung memicu reaksi luas.
Seorang pemain Bhayangkara U-20 berlari ke arah lawan dan melayangkan tendangan keras bergaya “kungfu” yang mengenai bagian belakang kepala pemain Dewa United. Korban langsung terjatuh dan tampak kesakitan sebelum mendapat penanganan. Rekan setimnya sempat bereaksi dengan mencoba mengejar pelaku, membuat situasi semakin ricuh.
Rekaman insiden tersebut cepat menyebar di media sosial dan memicu kecaman publik. Warganet kemudian mengaitkan aksi itu dengan Fadly Alberto.
Nama Fadly bukan sosok asing. Ia dikenal sebagai salah satu pemain muda potensial Indonesia, pernah memperkuat timnas U-16, serta masuk skuad Piala Dunia U-17 2025. Penampilannya saat itu sempat menuai pujian dan membuatnya digadang-gadang sebagai salah satu prospek cerah sepak bola nasional.
Karena itu, tindakan emosional yang terjadi dalam laga ini menuai kritik tajam. Banyak pihak menilai aksi tersebut berbahaya dan jauh dari nilai sportivitas.
Tak lama setelah insiden viral, akun media sosial Fadly diketahui membatasi interaksi dengan menutup kolom komentar. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi darinya terkait kejadian tersebut.
Perhatian kini tertuju pada PSSI, khususnya Komite Disiplin (Komdis), yang akan menentukan sanksi. Dalam regulasi sepak bola, tindakan kekerasan seperti ini bisa berujung hukuman berat—mulai dari larangan bermain dalam periode tertentu hingga sanksi paling ekstrem berupa larangan beraktivitas di dunia sepak bola.
Di sisi lain, Bhayangkara FC juga berpotensi melakukan evaluasi internal terhadap pemainnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pengendalian emosi adalah bagian penting dalam karier pesepak bola, terutama bagi pemain muda yang sedang berkembang. Banyak contoh menunjukkan bahwa pelanggaran disiplin bisa berdampak panjang, bahkan menghentikan karier sebelum mencapai puncaknya.
Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi dari klub maupun federasi. Publik menanti langkah tegas untuk menjaga integritas kompetisi usia muda.
Lebih dari sekadar insiden, peristiwa ini membuka kembali pertanyaan tentang pembinaan karakter dalam sepak bola Indonesia. Tanpa penanganan serius, kejadian serupa berisiko terulang dan mencoreng masa depan kompetisi yang seharusnya menjadi fondasi lahirnya talenta-talenta terbaik.
Peristiwa itu terjadi dalam laga antara Bhayangkara FC U-20 kontra Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4/2026). Pertandingan berlangsung ketat dan berakhir dengan kemenangan Dewa United 2-1. Dua gol tim tamu dicetak Abu Thalib dan Kelvin Ananda Hairulis, sementara Bhayangkara hanya membalas lewat Aqilah Lissunah.
Namun, sorotan utama justru muncul setelah pertandingan usai.
Ketegangan antar pemain yang semula hanya adu mulut di pinggir lapangan berubah menjadi kericuhan. Situasi memanas dan sulit dikendalikan. Di tengah kekacauan itu, terjadi momen yang langsung memicu reaksi luas.
Seorang pemain Bhayangkara U-20 berlari ke arah lawan dan melayangkan tendangan keras bergaya “kungfu” yang mengenai bagian belakang kepala pemain Dewa United. Korban langsung terjatuh dan tampak kesakitan sebelum mendapat penanganan. Rekan setimnya sempat bereaksi dengan mencoba mengejar pelaku, membuat situasi semakin ricuh.
Rekaman insiden tersebut cepat menyebar di media sosial dan memicu kecaman publik. Warganet kemudian mengaitkan aksi itu dengan Fadly Alberto.
Nama Fadly bukan sosok asing. Ia dikenal sebagai salah satu pemain muda potensial Indonesia, pernah memperkuat timnas U-16, serta masuk skuad Piala Dunia U-17 2025. Penampilannya saat itu sempat menuai pujian dan membuatnya digadang-gadang sebagai salah satu prospek cerah sepak bola nasional.
Karena itu, tindakan emosional yang terjadi dalam laga ini menuai kritik tajam. Banyak pihak menilai aksi tersebut berbahaya dan jauh dari nilai sportivitas.
Tak lama setelah insiden viral, akun media sosial Fadly diketahui membatasi interaksi dengan menutup kolom komentar. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi darinya terkait kejadian tersebut.
Perhatian kini tertuju pada PSSI, khususnya Komite Disiplin (Komdis), yang akan menentukan sanksi. Dalam regulasi sepak bola, tindakan kekerasan seperti ini bisa berujung hukuman berat—mulai dari larangan bermain dalam periode tertentu hingga sanksi paling ekstrem berupa larangan beraktivitas di dunia sepak bola.
Di sisi lain, Bhayangkara FC juga berpotensi melakukan evaluasi internal terhadap pemainnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pengendalian emosi adalah bagian penting dalam karier pesepak bola, terutama bagi pemain muda yang sedang berkembang. Banyak contoh menunjukkan bahwa pelanggaran disiplin bisa berdampak panjang, bahkan menghentikan karier sebelum mencapai puncaknya.
Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi dari klub maupun federasi. Publik menanti langkah tegas untuk menjaga integritas kompetisi usia muda.
Lebih dari sekadar insiden, peristiwa ini membuka kembali pertanyaan tentang pembinaan karakter dalam sepak bola Indonesia. Tanpa penanganan serius, kejadian serupa berisiko terulang dan mencoreng masa depan kompetisi yang seharusnya menjadi fondasi lahirnya talenta-talenta terbaik.
(sto)
Lihat Juga :