Iran Tuduh AS Bermain Politik Jelang Piala Dunia 2026, Sejumlah Pejabat Tim Belum Kantongi Visa
Minggu, 07 Juni 2026 - 11:25 WIB
loading...
A
A
A
Presiden Asosiasi Pers Olahraga Internasional (AIPS), Gianni Merlo, mengirim surat kepada FIFA untuk menyuarakan kekhawatiran tersebut.
Dalam suratnya, Merlo menyebut banyak wartawan yang telah memperoleh akreditasi resmi justru gagal mendapatkan visa atau hanya menerima visa sekali masuk. Kondisi itu berpotensi menghambat peliputan karena Piala Dunia 2026 digelar di tiga negara berbeda.
"Politisi sering mengatakan olahraga menyatukan dan membangun jembatan di antara negara-negara yang berkonflik. Namun dalam kasus ini, yang terjadi justru sebaliknya," tulis Merlo.
Ia juga mengingatkan bahwa kebebasan pers merupakan nilai penting yang seharusnya dijunjung tinggi oleh negara tuan rumah.
Persoalan ini menambah daftar kontroversi yang mengiringi persiapan Piala Dunia 2026. Di tengah semangat menyambut turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola dengan 48 peserta, isu politik dan kebijakan imigrasi kembali menjadi bayang-bayang yang mengancam kelancaran ajang tersebut.
Dalam suratnya, Merlo menyebut banyak wartawan yang telah memperoleh akreditasi resmi justru gagal mendapatkan visa atau hanya menerima visa sekali masuk. Kondisi itu berpotensi menghambat peliputan karena Piala Dunia 2026 digelar di tiga negara berbeda.
"Politisi sering mengatakan olahraga menyatukan dan membangun jembatan di antara negara-negara yang berkonflik. Namun dalam kasus ini, yang terjadi justru sebaliknya," tulis Merlo.
Ia juga mengingatkan bahwa kebebasan pers merupakan nilai penting yang seharusnya dijunjung tinggi oleh negara tuan rumah.
FIFA Angkat Tangan
Menanggapi polemik tersebut, FIFA mengonfirmasi telah menerima surat dari AIPS. Namun, badan sepak bola dunia itu menegaskan bahwa urusan visa berada di bawah kewenangan pemerintah negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.Persoalan ini menambah daftar kontroversi yang mengiringi persiapan Piala Dunia 2026. Di tengah semangat menyambut turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola dengan 48 peserta, isu politik dan kebijakan imigrasi kembali menjadi bayang-bayang yang mengancam kelancaran ajang tersebut.
(sto)
Lihat Juga :