Seperempat Laga Piala Dunia 2026 Berisiko Tinggi
Kamis, 11 Juni 2026 - 12:38 WIB
loading...
Piala Dunia 2026 belum resmi bergulir, tetapi ancaman besar sudah membayangi turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut / Foto: Newsweek
A
A
A
JAKARTA - Piala Dunia 2026 belum resmi bergulir, tetapi ancaman besar sudah membayangi turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut. Bukan soal persaingan di lapangan, melainkan cuaca ekstrem yang diperkirakan dapat memengaruhi performa pemain hingga keselamatan penonton.
Turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu diprediksi berlangsung di tengah suhu tinggi, kelembapan ekstrem, serta potensi badai petir yang dapat mengganggu jalannya pertandingan kapan saja. Prakiraan cuaca musiman menunjukkan sebagian besar wilayah Amerika Serikat akan mengalami suhu di atas normal.
Kondisi tersebut diperparah oleh aliran udara lembap dari Teluk Meksiko yang berpotensi memicu cuaca buruk selama fase awal turnamen. Mengutip laporan Independent, Kamis (11/6/2026), para ilmuwan olahraga mengingatkan bahwa ancaman terbesar bukan hanya suhu udara, melainkan tingkat "suhu bola basah" atau wet-bulb temperature.
Baca Juga: Data Jagokan Meksiko Menang Atas Afsel dengan 66,3 Persen
Indikator ini mengukur kombinasi suhu, kelembapan, intensitas sinar matahari, dan kecepatan angin untuk menentukan tingkat tekanan panas yang diterima tubuh manusia. Kelompok peneliti World Weather Attribution bahkan memperkirakan sekitar seperempat dari total pertandingan Piala Dunia 2026 berpotensi dimainkan dalam kondisi yang melampaui batas aman yang direkomendasikan.
Profesor fisiologi dari Universitas Oregon, Chris Minson, menjelaskan bahwa tubuh atlet sebenarnya sudah menghasilkan panas dalam jumlah besar saat bertanding, bahkan tanpa pengaruh cuaca panas. "Sekitar 75 persen energi yang digunakan saat berolahraga berubah menjadi panas. Hanya 25 persen yang benar-benar digunakan untuk aktivitas fisik," ujarnya.
Dalam kondisi panas dan lembap, sistem pendingin alami tubuh akan bekerja lebih keras. Masalah semakin serius ketika kelembapan udara tinggi karena keringat menjadi sulit menguap, sehingga kemampuan tubuh untuk menurunkan suhu ikut menurun.
Baca Juga: Kontroversi Piala Dunia 2026 dan Sikap Santai Infantino: Kenapa Dulu Coret Indonesia?
Sejumlah kota tuan rumah yang diperkirakan menghadapi tantangan tersebut antara lain Houston, Miami, Dallas, dan Monterrey. "Kelembapan tinggi adalah salah satu kondisi paling sulit bagi tubuh manusia," kata Minson.
Peneliti memperkirakan peluang penurunan performa akibat panas mencapai 70 persen, atau meningkat 37 poin persentase dibandingkan kondisi tanpa pengaruh perubahan iklim. Sementara itu, Profesor ilmu biologi dari Dartmouth College, Ryan Calsbeek, menilai panas dan kelembapan tidak hanya berdampak pada kesehatan pemain, tetapi juga dapat mengubah ritme pertandingan.
"Suhu dan kelembapan yang lebih tinggi kemungkinan akan memperlambat permainan. Pemain akan kesulitan mempertahankan kombinasi antara kekuatan eksplosif dan daya tahan aerobik selama lebih dari 90 menit," jelasnya.
Data menunjukkan hampir separuh pertandingan memiliki peluang minimal 50 persen untuk dimainkan pada suhu di atas 28 derajat Celsius, angka yang diketahui dapat menurunkan kecepatan lari, jarak tempuh, serta memperlambat proses pemulihan fisik pemain. Selain panas, faktor ketinggian juga menjadi perhatian.
Kota Meksiko yang berada sekitar 2.240 meter di atas permukaan laut diperkirakan memberikan tantangan tambahan, terutama bagi tim yang berasal dari daerah dataran rendah dan tidak memiliki cukup waktu untuk beradaptasi. Menghadapi ancaman tersebut, FIFA telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi.
Setiap pertandingan akan disertai jeda hidrasi selama tiga menit di masing-masing babak untuk membantu pemain menjaga kondisi tubuh. Selain itu, beberapa stadion telah dilengkapi atap yang dapat dibuka-tutup dan sistem pengatur suhu.
Regulasi turnamen juga memungkinkan pertandingan ditunda, dihentikan sementara, dijadwal ulang, atau dipindahkan apabila cuaca dinilai membahayakan kesehatan dan keselamatan. Meski demikian, sejumlah ahli menilai langkah tersebut belum cukup.
Minson menyarankan FIFA menerapkan protokol yang lebih ketat, termasuk memperpanjang jeda pendinginan hingga enam menit, menyediakan area pendingin yang teduh, fasilitas rendaman es darurat, serta waktu istirahat babak pertama yang lebih panjang ketika suhu mencapai tingkat berbahaya. "Jika ada pemain yang mulai kehilangan kesadaran, kebingungan, atau pingsan di lapangan, pendinginan harus dilakukan secepat mungkin," tegasnya.
Bagi FIFA, Piala Dunia 2026 merupakan ajang pembuktian kemampuan menggelar turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan 48 peserta. Namun bagi para pemain, pelatih, dan ilmuwan olahraga, kompetisi ini juga akan menjadi ujian besar tentang bagaimana sepak bola mampu beradaptasi dengan dunia yang semakin panas akibat perubahan iklim.
Turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu diprediksi berlangsung di tengah suhu tinggi, kelembapan ekstrem, serta potensi badai petir yang dapat mengganggu jalannya pertandingan kapan saja. Prakiraan cuaca musiman menunjukkan sebagian besar wilayah Amerika Serikat akan mengalami suhu di atas normal.
Kondisi tersebut diperparah oleh aliran udara lembap dari Teluk Meksiko yang berpotensi memicu cuaca buruk selama fase awal turnamen. Mengutip laporan Independent, Kamis (11/6/2026), para ilmuwan olahraga mengingatkan bahwa ancaman terbesar bukan hanya suhu udara, melainkan tingkat "suhu bola basah" atau wet-bulb temperature.
Baca Juga: Data Jagokan Meksiko Menang Atas Afsel dengan 66,3 Persen
Indikator ini mengukur kombinasi suhu, kelembapan, intensitas sinar matahari, dan kecepatan angin untuk menentukan tingkat tekanan panas yang diterima tubuh manusia. Kelompok peneliti World Weather Attribution bahkan memperkirakan sekitar seperempat dari total pertandingan Piala Dunia 2026 berpotensi dimainkan dalam kondisi yang melampaui batas aman yang direkomendasikan.
Profesor fisiologi dari Universitas Oregon, Chris Minson, menjelaskan bahwa tubuh atlet sebenarnya sudah menghasilkan panas dalam jumlah besar saat bertanding, bahkan tanpa pengaruh cuaca panas. "Sekitar 75 persen energi yang digunakan saat berolahraga berubah menjadi panas. Hanya 25 persen yang benar-benar digunakan untuk aktivitas fisik," ujarnya.
Dalam kondisi panas dan lembap, sistem pendingin alami tubuh akan bekerja lebih keras. Masalah semakin serius ketika kelembapan udara tinggi karena keringat menjadi sulit menguap, sehingga kemampuan tubuh untuk menurunkan suhu ikut menurun.
Baca Juga: Kontroversi Piala Dunia 2026 dan Sikap Santai Infantino: Kenapa Dulu Coret Indonesia?
Sejumlah kota tuan rumah yang diperkirakan menghadapi tantangan tersebut antara lain Houston, Miami, Dallas, dan Monterrey. "Kelembapan tinggi adalah salah satu kondisi paling sulit bagi tubuh manusia," kata Minson.
Perubahan Iklim Pengaruhi Performa
Penelitian terbaru dari Climate Central menunjukkan perubahan iklim telah meningkatkan peluang terjadinya suhu yang cukup tinggi untuk memengaruhi performa pemain dalam 97 dari 104 pertandingan Piala Dunia 2026. Salah satu pertandingan yang diperkirakan paling terdampak adalah laga Grup A antara Uruguay dan Spanyol di Guadalajara pada 26 Juni.Peneliti memperkirakan peluang penurunan performa akibat panas mencapai 70 persen, atau meningkat 37 poin persentase dibandingkan kondisi tanpa pengaruh perubahan iklim. Sementara itu, Profesor ilmu biologi dari Dartmouth College, Ryan Calsbeek, menilai panas dan kelembapan tidak hanya berdampak pada kesehatan pemain, tetapi juga dapat mengubah ritme pertandingan.
"Suhu dan kelembapan yang lebih tinggi kemungkinan akan memperlambat permainan. Pemain akan kesulitan mempertahankan kombinasi antara kekuatan eksplosif dan daya tahan aerobik selama lebih dari 90 menit," jelasnya.
Data menunjukkan hampir separuh pertandingan memiliki peluang minimal 50 persen untuk dimainkan pada suhu di atas 28 derajat Celsius, angka yang diketahui dapat menurunkan kecepatan lari, jarak tempuh, serta memperlambat proses pemulihan fisik pemain. Selain panas, faktor ketinggian juga menjadi perhatian.
Kota Meksiko yang berada sekitar 2.240 meter di atas permukaan laut diperkirakan memberikan tantangan tambahan, terutama bagi tim yang berasal dari daerah dataran rendah dan tidak memiliki cukup waktu untuk beradaptasi. Menghadapi ancaman tersebut, FIFA telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi.
Setiap pertandingan akan disertai jeda hidrasi selama tiga menit di masing-masing babak untuk membantu pemain menjaga kondisi tubuh. Selain itu, beberapa stadion telah dilengkapi atap yang dapat dibuka-tutup dan sistem pengatur suhu.
Regulasi turnamen juga memungkinkan pertandingan ditunda, dihentikan sementara, dijadwal ulang, atau dipindahkan apabila cuaca dinilai membahayakan kesehatan dan keselamatan. Meski demikian, sejumlah ahli menilai langkah tersebut belum cukup.
Minson menyarankan FIFA menerapkan protokol yang lebih ketat, termasuk memperpanjang jeda pendinginan hingga enam menit, menyediakan area pendingin yang teduh, fasilitas rendaman es darurat, serta waktu istirahat babak pertama yang lebih panjang ketika suhu mencapai tingkat berbahaya. "Jika ada pemain yang mulai kehilangan kesadaran, kebingungan, atau pingsan di lapangan, pendinginan harus dilakukan secepat mungkin," tegasnya.
Bagi FIFA, Piala Dunia 2026 merupakan ajang pembuktian kemampuan menggelar turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan 48 peserta. Namun bagi para pemain, pelatih, dan ilmuwan olahraga, kompetisi ini juga akan menjadi ujian besar tentang bagaimana sepak bola mampu beradaptasi dengan dunia yang semakin panas akibat perubahan iklim.
(yov)
Lihat Juga :