Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Senin, 22 Juni 2026 - 23:53 WIB
loading...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
A
A
A
LOS ANGELES - Timnas Iran mencuri perhatian di Piala Dunia 2026 bukan hanya karena performanya di lapangan, tetapi juga lewat sebuah pesan emosional yang mereka tinggalkan di ruang ganti Stadion SoFi, Los Angeles, setelah bermain imbang 0-0 melawan Belgia padaSenin (22/6/2026).
Di tengah berbagai tekanan yang mengiringi perjalanan mereka sepanjang turnamen, Team Melli meninggalkan catatan tulisan tangan berisi 74 kata sebelum meninggalkan Amerika Serikat. Pesan tersebut menjadi simbol rasa terima kasih sekaligus seruan perdamaian dari skuad asuhan Amir Ghalenoei.
Dalam pesan itu, Iran menulis:
"Dari Persia kuno ribuan tahun lalu hingga Iran modern saat ini, semangat Iran tetap hidup dan teguh. Kami datang ke Los Angeles dengan kebanggaan, bertanding dengan kehormatan, dan pergi dengan martabat. Terima kasih Los Angeles atas keramahan Anda. Terima kasih kepada setiap warga Iran yang memberikan hati, suara, dan jiwanya untuk Iran selama 180 menit ini. Semoga perdamaian, rasa hormat, dan persahabatan berlaku di antara semua bangsa."
Pesan tersebut menjadi semakin bermakna karena ditulis di tengah situasi sulit yang dihadapi Iran selama Piala Dunia 2026. Ketegangan geopolitik di negara asal turut membayangi perjalanan mereka di Amerika Utara. Selain itu, regulasi perjalanan yang diberlakukan pemerintah Amerika Serikat membuat Iran harus segera meninggalkan wilayah AS setelah setiap pertandingan dan kembali ke markas latihan mereka di Meksiko.
Meski menghadapi tantangan fisik dan mental yang tidak ringan, Iran tetap menunjukkan daya juang tinggi. Setelah bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru pada laga pembuka dan menahan Belgia tanpa gol, mereka masih menjaga peluang lolos ke babak gugur menjelang laga terakhir Grup G menghadapi Mesir.
Ada pula simbol khusus dalam catatan tersebut. Angka "168" yang tertera merujuk pada 168 korban tewas dalam serangan udara yang menghantam Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Iran selatan pada 28 Februari lalu. Mayoritas korban dilaporkan merupakan anak-anak, menjadikan tragedi itu salah satu insiden sipil paling mematikan sejak konflik pecah dan menuai kecaman luas dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta berbagai organisasi hak asasi manusia.
Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengaku bangga dengan respons anak asuhnya di tengah situasi yang serba sulit.
"Kami datang ke Piala Dunia dalam kondisi yang sangat berat. Namun kami tetap mampu meraih hasil melawan tim hebat dan pelatih hebat. Kami memainkan sepak bola yang bagus dan melalui dua pertandingan tanpa kekalahan. Malam ini kami merayakannya, lalu besok fokus menghadapi Mesir," kata Ghalenoei.
Dengan dua hasil imbang dari dua pertandingan, Iran masih berpeluang mencatat sejarah dengan lolos ke fase gugur. Namun di luar hasil di lapangan, pesan yang mereka tinggalkan di Los Angeles menunjukkan bahwa sepak bola juga bisa menjadi medium untuk menyuarakan kemanusiaan, perdamaian, dan harapan di tengah masa-masa sulit.
Di tengah berbagai tekanan yang mengiringi perjalanan mereka sepanjang turnamen, Team Melli meninggalkan catatan tulisan tangan berisi 74 kata sebelum meninggalkan Amerika Serikat. Pesan tersebut menjadi simbol rasa terima kasih sekaligus seruan perdamaian dari skuad asuhan Amir Ghalenoei.
Dalam pesan itu, Iran menulis:
"Dari Persia kuno ribuan tahun lalu hingga Iran modern saat ini, semangat Iran tetap hidup dan teguh. Kami datang ke Los Angeles dengan kebanggaan, bertanding dengan kehormatan, dan pergi dengan martabat. Terima kasih Los Angeles atas keramahan Anda. Terima kasih kepada setiap warga Iran yang memberikan hati, suara, dan jiwanya untuk Iran selama 180 menit ini. Semoga perdamaian, rasa hormat, dan persahabatan berlaku di antara semua bangsa."
Pesan tersebut menjadi semakin bermakna karena ditulis di tengah situasi sulit yang dihadapi Iran selama Piala Dunia 2026. Ketegangan geopolitik di negara asal turut membayangi perjalanan mereka di Amerika Utara. Selain itu, regulasi perjalanan yang diberlakukan pemerintah Amerika Serikat membuat Iran harus segera meninggalkan wilayah AS setelah setiap pertandingan dan kembali ke markas latihan mereka di Meksiko.
A note from the Iran national football team in SoFi Stadium's locker room. These athletes have faced discrimination by their World Cup hosts for representing a nation that was attacked in an unprovoked war. Imagine how they'd have been treated if they had invaded another country pic.twitter.com/xfwxM8cQid
— Kourosh Ziabari (@KZiabari) June 22, 2026
Meski menghadapi tantangan fisik dan mental yang tidak ringan, Iran tetap menunjukkan daya juang tinggi. Setelah bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru pada laga pembuka dan menahan Belgia tanpa gol, mereka masih menjaga peluang lolos ke babak gugur menjelang laga terakhir Grup G menghadapi Mesir.
Ada pula simbol khusus dalam catatan tersebut. Angka "168" yang tertera merujuk pada 168 korban tewas dalam serangan udara yang menghantam Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Iran selatan pada 28 Februari lalu. Mayoritas korban dilaporkan merupakan anak-anak, menjadikan tragedi itu salah satu insiden sipil paling mematikan sejak konflik pecah dan menuai kecaman luas dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta berbagai organisasi hak asasi manusia.
Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengaku bangga dengan respons anak asuhnya di tengah situasi yang serba sulit.
"Kami datang ke Piala Dunia dalam kondisi yang sangat berat. Namun kami tetap mampu meraih hasil melawan tim hebat dan pelatih hebat. Kami memainkan sepak bola yang bagus dan melalui dua pertandingan tanpa kekalahan. Malam ini kami merayakannya, lalu besok fokus menghadapi Mesir," kata Ghalenoei.
Dengan dua hasil imbang dari dua pertandingan, Iran masih berpeluang mencatat sejarah dengan lolos ke fase gugur. Namun di luar hasil di lapangan, pesan yang mereka tinggalkan di Los Angeles menunjukkan bahwa sepak bola juga bisa menjadi medium untuk menyuarakan kemanusiaan, perdamaian, dan harapan di tengah masa-masa sulit.
(sto)
Lihat Juga :