Presiden FIFA Dicecar Jurnalis soal Kekacauan Piala Dunia 2026, Jawaban Infantino Terkesan Meremehkan
Minggu, 28 Juni 2026 - 09:56 WIB
loading...
Presiden FIFA Dicecar Jurnalis soal Kekacauan Piala Dunia 2026, Jawaban Infantino Terkesan Meremehkan.
A
A
A
Presiden FIFA Gianni Infantino menjadi sasaran pertanyaan tajam dari media internasional terkait berbagai persoalan yang membayangi penyelenggaraan Piala Dunia 2026 . Dalam konferensi pers sehari sebelum laga pembuka, Infantino dinilai gagal memberikan jawaban memuaskan atas kisruh visa, imigrasi, hingga harga tiket yang mencoreng persiapan turnamen.
Alih-alih menyampaikan langkah konkret, Infantino justru meminta semua pihak untuk tetap tenang.
"Tenang saja, santai. Kita tidak bisa mengendalikan semuanya," kata Infantino saat menjawab pertanyaan wartawan.
Pernyataan tersebut memicu kritik karena dianggap mengabaikan berbagai persoalan serius yang dialami peserta, ofisial, wasit, hingga suporter menjelang bergulirnya Piala Dunia di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah nasib wasit asal Somalia, Omar Artan. Ia ditolak masuk ke Amerika Serikat setelah menjalani pemeriksaan selama sekitar 11 jam di Bandara Internasional Miami. Artan bahkan dituduh memiliki kaitan dengan organisasi teroris sebelum akhirnya dipulangkan ke negaranya, sehingga gagal menjalankan tugas di Piala Dunia.
Tak hanya itu, penyerang Irak Aymen Hussein juga sempat ditahan selama beberapa jam saat tiba di Bandara Chicago sebelum akhirnya diizinkan masuk ke Amerika Serikat.
Timnas Iran pun mengalami kendala yang tak kalah pelik. Karena persoalan kebijakan imigrasi, mereka dipaksa memindahkan markas tim ke Meksiko. Selain itu, sejumlah anggota delegasi gagal memperoleh visa, sementara tiket para pendukung Iran yang ingin menyaksikan pertandingan di Amerika Serikat juga dibatalkan.
Saat ditanya mengenai berbagai persoalan tersebut, Infantino mengakui FIFA tidak memiliki kewenangan atas keputusan pemerintah suatu negara.
"Kami bukan penguasa dunia yang bisa mengatur pemerintah atau aparat keamanan. Kami adalah organisasi olahraga yang berusaha melakukan yang terbaik dengan kemampuan yang kami miliki," ujarnya.
Jawaban tersebut dinilai tidak menjawab inti persoalan. Banyak pihak menilai FIFA seharusnya mampu memberikan perlindungan lebih kepada peserta dan perangkat pertandingan dalam ajang sepak bola terbesar di dunia.
Infantino juga mendapat pertanyaan mengenai Iran yang harus bermarkas di Meksiko selama turnamen. Namun, ia justru menyebut keberhasilan Iran tetap bisa tampil di Piala Dunia sebagai pencapaian FIFA.
"Ketika banyak orang mengatakan Iran tidak mungkin datang ke Piala Dunia, saya berjanji mereka akan bisa bermain. Saya tidak tahu siapa lagi yang bisa memastikan itu terjadi dalam situasi seperti ini," katanya.
Sorotan terhadap FIFA tidak berhenti pada persoalan visa. Organisasi tersebut juga menghadapi kritik terkait harga tiket pertandingan yang dianggap terlalu mahal. Sejumlah jaksa agung di beberapa negara bagian Amerika Serikat bahkan telah membuka penyelidikan atas dugaan praktik penjualan tiket yang dinilai merugikan konsumen.
Namun, Infantino kembali membela kebijakan FIFA.
"Kami memeriksa seluruh prosedur bersama para ahli hukum terbaik. Permintaan tiket sangat tinggi, bahkan lebih dari sepuluh kali lipat kapasitas yang tersedia," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Infantino juga menunjukkan dukungannya kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurutnya, hubungan baik dengan Trump menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan Piala Dunia 2026 dapat digelar di Amerika Serikat.
"Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Presiden Trump. Tanpa keterlibatan dan dukungannya, saya rasa penyelenggaraan Piala Dunia di Amerika Serikat akan sangat sulit diwujudkan," ucap Infantino.
Berbagai jawaban Infantino justru memunculkan penilaian bahwa FIFA belum mampu mengatasi persoalan yang muncul menjelang turnamen. Mulai dari kisruh visa, penolakan masuk terhadap wasit dan pemain, hingga polemik harga tiket, seluruhnya menambah tekanan terhadap badan sepak bola dunia itu untuk memastikan penyelenggaraan Piala Dunia berjalan adil bagi semua peserta.
Alih-alih menyampaikan langkah konkret, Infantino justru meminta semua pihak untuk tetap tenang.
"Tenang saja, santai. Kita tidak bisa mengendalikan semuanya," kata Infantino saat menjawab pertanyaan wartawan.
Pernyataan tersebut memicu kritik karena dianggap mengabaikan berbagai persoalan serius yang dialami peserta, ofisial, wasit, hingga suporter menjelang bergulirnya Piala Dunia di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah nasib wasit asal Somalia, Omar Artan. Ia ditolak masuk ke Amerika Serikat setelah menjalani pemeriksaan selama sekitar 11 jam di Bandara Internasional Miami. Artan bahkan dituduh memiliki kaitan dengan organisasi teroris sebelum akhirnya dipulangkan ke negaranya, sehingga gagal menjalankan tugas di Piala Dunia.
Tak hanya itu, penyerang Irak Aymen Hussein juga sempat ditahan selama beberapa jam saat tiba di Bandara Chicago sebelum akhirnya diizinkan masuk ke Amerika Serikat.
Timnas Iran pun mengalami kendala yang tak kalah pelik. Karena persoalan kebijakan imigrasi, mereka dipaksa memindahkan markas tim ke Meksiko. Selain itu, sejumlah anggota delegasi gagal memperoleh visa, sementara tiket para pendukung Iran yang ingin menyaksikan pertandingan di Amerika Serikat juga dibatalkan.
Saat ditanya mengenai berbagai persoalan tersebut, Infantino mengakui FIFA tidak memiliki kewenangan atas keputusan pemerintah suatu negara.
"Kami bukan penguasa dunia yang bisa mengatur pemerintah atau aparat keamanan. Kami adalah organisasi olahraga yang berusaha melakukan yang terbaik dengan kemampuan yang kami miliki," ujarnya.
Jawaban tersebut dinilai tidak menjawab inti persoalan. Banyak pihak menilai FIFA seharusnya mampu memberikan perlindungan lebih kepada peserta dan perangkat pertandingan dalam ajang sepak bola terbesar di dunia.
Infantino juga mendapat pertanyaan mengenai Iran yang harus bermarkas di Meksiko selama turnamen. Namun, ia justru menyebut keberhasilan Iran tetap bisa tampil di Piala Dunia sebagai pencapaian FIFA.
"Ketika banyak orang mengatakan Iran tidak mungkin datang ke Piala Dunia, saya berjanji mereka akan bisa bermain. Saya tidak tahu siapa lagi yang bisa memastikan itu terjadi dalam situasi seperti ini," katanya.
Sorotan terhadap FIFA tidak berhenti pada persoalan visa. Organisasi tersebut juga menghadapi kritik terkait harga tiket pertandingan yang dianggap terlalu mahal. Sejumlah jaksa agung di beberapa negara bagian Amerika Serikat bahkan telah membuka penyelidikan atas dugaan praktik penjualan tiket yang dinilai merugikan konsumen.
Namun, Infantino kembali membela kebijakan FIFA.
"Kami memeriksa seluruh prosedur bersama para ahli hukum terbaik. Permintaan tiket sangat tinggi, bahkan lebih dari sepuluh kali lipat kapasitas yang tersedia," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Infantino juga menunjukkan dukungannya kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurutnya, hubungan baik dengan Trump menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan Piala Dunia 2026 dapat digelar di Amerika Serikat.
"Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Presiden Trump. Tanpa keterlibatan dan dukungannya, saya rasa penyelenggaraan Piala Dunia di Amerika Serikat akan sangat sulit diwujudkan," ucap Infantino.
Berbagai jawaban Infantino justru memunculkan penilaian bahwa FIFA belum mampu mengatasi persoalan yang muncul menjelang turnamen. Mulai dari kisruh visa, penolakan masuk terhadap wasit dan pemain, hingga polemik harga tiket, seluruhnya menambah tekanan terhadap badan sepak bola dunia itu untuk memastikan penyelenggaraan Piala Dunia berjalan adil bagi semua peserta.
(sto)
Lihat Juga :