Timnas Iran Pulang Tanpa Kekalahan
Minggu, 28 Juni 2026 - 12:29 WIB
loading...
Timnas Iran Pulang Tanpa Kekalahan. Foto: LA Times
A
A
A
Piala Dunia 2026 menjadi salah satu edisi paling pahit dalam sejarah Timnas Iran. Bukan hanya harus berjuang di lapangan, Team Melli juga menghadapi berbagai persoalan di luar sepak bola, mulai dari ancaman mundur akibat konflik geopolitik, masalah visa, pembatasan perjalanan, hingga akhirnya tersingkir secara dramatis karena gol pada detik terakhir pertandingan tim lain.
Sejak sebelum turnamen dimulai, Iran sudah berada dalam situasi sulit. Memanasnya konflik dengan Amerika Serikat sempat memunculkan keraguan apakah mereka dapat mengikuti Piala Dunia yang sebagian besar digelar di Negeri Paman Sam. Kekhawatiran soal izin masuk membuat Iran bahkan sempat mengajukan agar seluruh pertandingan grup dipindahkan ke Meksiko.
FIFA akhirnya menyetujui permintaan Iran untuk menjadikan Meksiko sebagai markas tim. Akibatnya, skuad asuhan Amir Ghalenoei harus bolak-balik melintasi perbatasan setiap kali menjalani pertandingan di Amerika Serikat. Pada dua laga pertama, mereka hanya diizinkan masuk sehari sebelum pertandingan dan wajib kembali ke Meksiko segera setelah laga usai. Sejumlah anggota delegasi juga gagal memperoleh visa, sementara sebagian pendukung Iran kehilangan tiket pertandingan akibat kebijakan otoritas setempat.
Situasi tersebut membuat pelatih Amir Ghalenoei melontarkan kritik keras. Ia mengaku timnya diperlakukan tidak adil sepanjang turnamen.
"Kami diperlakukan sangat buruk. Apa yang dilakukan para pemain ini layak dikenang sejarah karena tuan rumah memperlakukan kami dengan cara yang paling buruk," ujar Ghalenoei usai laga terakhir fase grup.
Di tengah tekanan itu, Iran tetap mampu menunjukkan daya juang. Mereka bermain imbang melawan Belgia, Selandia Baru, dan Mesir untuk mengumpulkan tiga poin. Namun pertandingan terakhir melawan Mesir juga meninggalkan luka tersendiri.
Iran sebenarnya sempat mencetak gol yang berpotensi membawa mereka meraih kemenangan penting. Namun gol tersebut dianulir setelah tinjauan VAR sehingga pertandingan berakhir imbang. Hasil itu membuat peluang lolos Iran bergantung sepenuhnya pada hasil pertandingan lain antara Aljazair melawan Austria.
Drama kemudian terjadi di Kansas City. Saat laga memasuki masa injury time, kapten Aljazair Riyad Mahrez mencetak gol pada menit ke-90+4 yang mengubah skor menjadi 3-2. Hasil tersebut sempat membuka jalan bagi Iran untuk lolos ke babak 32 besar sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Namun harapan itu hanya bertahan beberapa detik. Pada serangan terakhir pertandingan, tepat di menit ke-90+5, striker Austria Sasa Kalajdzic menyundul bola menjadi gol penyama kedudukan 3-3. Gol dengan sentuhan terakhir pertandingan itu memastikan Austria lolos bersama Aljazair, sekaligus mengakhiri perjalanan Iran di Piala Dunia 2026.
Ironisnya, para pemain Iran bahkan sudah mulai berharap ketika Mahrez mencetak gol kemenangan sementara. Beberapa menit kemudian, semuanya berubah seketika. Satu sundulan Kalajdzic menghapus peluang yang telah diperjuangkan Iran di tengah berbagai kesulitan sepanjang turnamen.
Piala Dunia 2026 pun menjadi kisah penuh ironi bagi Team Melli. Mereka harus berjuang melawan persoalan visa, pembatasan perjalanan lintas negara, pengamanan ketat, tekanan politik, gol yang dianulir VAR, hingga akhirnya tersingkir bukan karena kalah di lapangan sendiri, melainkan akibat gol dramatis yang tercipta pada detik terakhir pertandingan tim lain. Bagi Iran, perjalanan kali ini akan dikenang bukan hanya karena hasil akhirnya, tetapi juga karena beratnya rintangan yang harus dihadapi sejak sebelum bola pertama bergulir.
Sejak sebelum turnamen dimulai, Iran sudah berada dalam situasi sulit. Memanasnya konflik dengan Amerika Serikat sempat memunculkan keraguan apakah mereka dapat mengikuti Piala Dunia yang sebagian besar digelar di Negeri Paman Sam. Kekhawatiran soal izin masuk membuat Iran bahkan sempat mengajukan agar seluruh pertandingan grup dipindahkan ke Meksiko.
FIFA akhirnya menyetujui permintaan Iran untuk menjadikan Meksiko sebagai markas tim. Akibatnya, skuad asuhan Amir Ghalenoei harus bolak-balik melintasi perbatasan setiap kali menjalani pertandingan di Amerika Serikat. Pada dua laga pertama, mereka hanya diizinkan masuk sehari sebelum pertandingan dan wajib kembali ke Meksiko segera setelah laga usai. Sejumlah anggota delegasi juga gagal memperoleh visa, sementara sebagian pendukung Iran kehilangan tiket pertandingan akibat kebijakan otoritas setempat.
Perjalanan Timnas Iran di Piala Dunia 2026 tak sekadar menjadi kisah tentang sepak bola. Di tengah memanasnya situasi geopolitik dan berbagai kendala logistik, Team Melli masih menjaga asa untuk melaju ke babak gugur usai bermain imbang 1-1 melawan Mesir pada laga terakhir Grup… pic.twitter.com/BNwgA0AXPm
— SINDOnews (@SINDOnews) June 28, 2026
Situasi tersebut membuat pelatih Amir Ghalenoei melontarkan kritik keras. Ia mengaku timnya diperlakukan tidak adil sepanjang turnamen.
"Kami diperlakukan sangat buruk. Apa yang dilakukan para pemain ini layak dikenang sejarah karena tuan rumah memperlakukan kami dengan cara yang paling buruk," ujar Ghalenoei usai laga terakhir fase grup.
Di tengah tekanan itu, Iran tetap mampu menunjukkan daya juang. Mereka bermain imbang melawan Belgia, Selandia Baru, dan Mesir untuk mengumpulkan tiga poin. Namun pertandingan terakhir melawan Mesir juga meninggalkan luka tersendiri.
Iran sebenarnya sempat mencetak gol yang berpotensi membawa mereka meraih kemenangan penting. Namun gol tersebut dianulir setelah tinjauan VAR sehingga pertandingan berakhir imbang. Hasil itu membuat peluang lolos Iran bergantung sepenuhnya pada hasil pertandingan lain antara Aljazair melawan Austria.
Drama kemudian terjadi di Kansas City. Saat laga memasuki masa injury time, kapten Aljazair Riyad Mahrez mencetak gol pada menit ke-90+4 yang mengubah skor menjadi 3-2. Hasil tersebut sempat membuka jalan bagi Iran untuk lolos ke babak 32 besar sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Namun harapan itu hanya bertahan beberapa detik. Pada serangan terakhir pertandingan, tepat di menit ke-90+5, striker Austria Sasa Kalajdzic menyundul bola menjadi gol penyama kedudukan 3-3. Gol dengan sentuhan terakhir pertandingan itu memastikan Austria lolos bersama Aljazair, sekaligus mengakhiri perjalanan Iran di Piala Dunia 2026.
Ironisnya, para pemain Iran bahkan sudah mulai berharap ketika Mahrez mencetak gol kemenangan sementara. Beberapa menit kemudian, semuanya berubah seketika. Satu sundulan Kalajdzic menghapus peluang yang telah diperjuangkan Iran di tengah berbagai kesulitan sepanjang turnamen.
Piala Dunia 2026 pun menjadi kisah penuh ironi bagi Team Melli. Mereka harus berjuang melawan persoalan visa, pembatasan perjalanan lintas negara, pengamanan ketat, tekanan politik, gol yang dianulir VAR, hingga akhirnya tersingkir bukan karena kalah di lapangan sendiri, melainkan akibat gol dramatis yang tercipta pada detik terakhir pertandingan tim lain. Bagi Iran, perjalanan kali ini akan dikenang bukan hanya karena hasil akhirnya, tetapi juga karena beratnya rintangan yang harus dihadapi sejak sebelum bola pertama bergulir.
(sto)
Lihat Juga :