2 Kuda Hitam Curi Panggung, Piala Dunia 2026 Hadirkan Era Baru?
Selasa, 30 Juni 2026 - 14:04 WIB
loading...
Piala Dunia 2026 kembali membuktikan bahwa status unggulan bukan lagi jaminan untuk melangkah jauh / Foto: Ilustrasi AI
A
A
A
JAKARTA - Piala Dunia 2026 kembali membuktikan bahwa status unggulan bukan lagi jaminan untuk melangkah jauh. Dua kekuatan Eropa, yakni Jerman dan Belanda, sama-sama harus angkat koper lebih cepat pada babak 32 besar.
Kekalahan dua tim raksasa itu bukan hanya menjadi kejutan besar, tetapi juga menegaskan semakin tipisnya jarak kualitas antara negara-negara elite dengan tim yang selama ini dianggap kuda hitam.
Jerman menjadi korban pertama setelah ditumbangkan Paraguay lewat adu penalti 3-4 usai bermain imbang 1-1 selama 120 menit di Stadion Gillette, Selasa (30/6/2026). Kekalahan itu terasa semakin menyakitkan karena Der Panzer sempat mencetak gol kemenangan melalui Jonathan Tah pada babak tambahan, tetapi dianulir VAR.
Baca Juga: Rekam Jejak Paraguay, Spesialis Adu Penalti yang Pulangkan Jerman di Piala Dunia 2026
Jerman kemudian kalah untuk pertama kalinya dalam adu penalti di Piala Dunia. Kekalahan dari Paraguay memperpanjang periode sulit yang dialami Jerman sejak menjuarai Piala Dunia 2014 di Brasil.
Dalam tiga edisi terakhir, performa Der Panzer terus menurun. Tersingkir di fase grup untuk pertama kalinya dalam 80 tahun (2018), Kembali gagal lolos dari fase grup (2022), dan Lolos ke fase gugur, tetapi langsung tersingkir di babak 32 besar (2026).
Artinya, sejak mengangkat trofi dunia pada 2014, Jerman hanya mampu melewati babak fase grup sebanyak satu kali di Piala Dunia. Sebuah penurunan drastis bagi negara yang pernah empat kali menjadi juara dunia.
Sementara itu, Belanda mengalami nasib serupa. De Oranje gagal mempertahankan keunggulan atas Maroko setelah kebobolan pada masa injury time sebelum akhirnya menyerah melalui drama adu penalti. Belanda memang tidak mengalami kemerosotan sedalam Jerman, tetapi eliminasi kali ini tetap mengejutkan.
Sejak kembali menjadi kekuatan dunia pada 2010, De Oranje selalu tampil kompetitif. De Oranje sukses merebut status sebagai Runner-up (2010), peringkat ketiga (.
2014), gagal lolos dari fase grup (2018), perempat final (2022) dan tersingkir di babak 32 besar (2026).
Ini menjadi pencapaian terburuk Belanda di Piala Dunia sejak 2006 jika hanya menghitung edisi yang mereka ikuti. Padahal, sepanjang turnamen mereka bahkan tidak pernah tertinggal dalam waktu normal maupun perpanjangan waktu sebelum akhirnya tersingkir lewat adu penalti.
Baca Juga: Belanda Tersingkir, Rekor Bersejarah Berakhir
Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam peta persaingan sepak bola dunia. Negara-negara yang dahulu hanya dianggap pelengkap kini mampu bersaing secara konsisten.
Paraguay mengandalkan organisasi permainan yang disiplin untuk meredam dominasi Jerman. Sementara Maroko kembali memperlihatkan kualitas yang sudah mereka tunjukkan sejak menjadi semifinalis Piala Dunia 2022.
Hasil ini menjadi sinyal bahwa sepak bola internasional memasuki era baru. Kekuatan tidak lagi hanya dimiliki negara-negara tradisional Eropa dan Amerika Selatan. Tim seperti Maroko, Paraguay, Jepang, Senegal, hingga negara-negara lain kini memiliki kualitas taktik, fisik, dan mental yang mampu menantang siapa pun.
Bagi Jerman dan Belanda, kegagalan ini menjadi bahan evaluasi besar. Sementara bagi Paraguay dan Maroko, kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa kejutan di Piala Dunia bukan lagi sekadar cerita sesaat, melainkan bagian dari perubahan lanskap sepak bola dunia.
Kekalahan dua tim raksasa itu bukan hanya menjadi kejutan besar, tetapi juga menegaskan semakin tipisnya jarak kualitas antara negara-negara elite dengan tim yang selama ini dianggap kuda hitam.
Jerman menjadi korban pertama setelah ditumbangkan Paraguay lewat adu penalti 3-4 usai bermain imbang 1-1 selama 120 menit di Stadion Gillette, Selasa (30/6/2026). Kekalahan itu terasa semakin menyakitkan karena Der Panzer sempat mencetak gol kemenangan melalui Jonathan Tah pada babak tambahan, tetapi dianulir VAR.
Baca Juga: Rekam Jejak Paraguay, Spesialis Adu Penalti yang Pulangkan Jerman di Piala Dunia 2026
Jerman kemudian kalah untuk pertama kalinya dalam adu penalti di Piala Dunia. Kekalahan dari Paraguay memperpanjang periode sulit yang dialami Jerman sejak menjuarai Piala Dunia 2014 di Brasil.
Dalam tiga edisi terakhir, performa Der Panzer terus menurun. Tersingkir di fase grup untuk pertama kalinya dalam 80 tahun (2018), Kembali gagal lolos dari fase grup (2022), dan Lolos ke fase gugur, tetapi langsung tersingkir di babak 32 besar (2026).
Artinya, sejak mengangkat trofi dunia pada 2014, Jerman hanya mampu melewati babak fase grup sebanyak satu kali di Piala Dunia. Sebuah penurunan drastis bagi negara yang pernah empat kali menjadi juara dunia.
Belanda Kehilangan Konsistensi
Sementara itu, Belanda mengalami nasib serupa. De Oranje gagal mempertahankan keunggulan atas Maroko setelah kebobolan pada masa injury time sebelum akhirnya menyerah melalui drama adu penalti. Belanda memang tidak mengalami kemerosotan sedalam Jerman, tetapi eliminasi kali ini tetap mengejutkan.
Sejak kembali menjadi kekuatan dunia pada 2010, De Oranje selalu tampil kompetitif. De Oranje sukses merebut status sebagai Runner-up (2010), peringkat ketiga (.
2014), gagal lolos dari fase grup (2018), perempat final (2022) dan tersingkir di babak 32 besar (2026).
Ini menjadi pencapaian terburuk Belanda di Piala Dunia sejak 2006 jika hanya menghitung edisi yang mereka ikuti. Padahal, sepanjang turnamen mereka bahkan tidak pernah tertinggal dalam waktu normal maupun perpanjangan waktu sebelum akhirnya tersingkir lewat adu penalti.
Baca Juga: Belanda Tersingkir, Rekor Bersejarah Berakhir
Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam peta persaingan sepak bola dunia. Negara-negara yang dahulu hanya dianggap pelengkap kini mampu bersaing secara konsisten.
Paraguay mengandalkan organisasi permainan yang disiplin untuk meredam dominasi Jerman. Sementara Maroko kembali memperlihatkan kualitas yang sudah mereka tunjukkan sejak menjadi semifinalis Piala Dunia 2022.
Hasil ini menjadi sinyal bahwa sepak bola internasional memasuki era baru. Kekuatan tidak lagi hanya dimiliki negara-negara tradisional Eropa dan Amerika Selatan. Tim seperti Maroko, Paraguay, Jepang, Senegal, hingga negara-negara lain kini memiliki kualitas taktik, fisik, dan mental yang mampu menantang siapa pun.
Bagi Jerman dan Belanda, kegagalan ini menjadi bahan evaluasi besar. Sementara bagi Paraguay dan Maroko, kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa kejutan di Piala Dunia bukan lagi sekadar cerita sesaat, melainkan bagian dari perubahan lanskap sepak bola dunia.
(yov)
Lihat Juga :