Azzedine Ounahi, Dari Jalanan Casablanca Sampai Diingat Dunia
Kamis, 09 Juli 2026 - 09:09 WIB
loading...
Azzedine Ounahi menghabiskan hari-harinya mengejar bola yang sering kali sudah kempis di Di sudut sederhana Hay Lalla Meriem, sebuah kawasan kelas pekerja di Casablanca, Maroko / Foto: Ilustrasi AI
A
A
A
Di sudut sederhana Hay Lalla Meriem, sebuah kawasan kelas pekerja di Casablanca, Maroko , seorang anak laki-laki menghabiskan hari-harinya mengejar bola yang sering kali sudah kempis. Lapangan yang ia gunakan jauh dari kata sempurna, begitu pula kehidupan di sekitarnya.
Namun, dari jalanan itulah lahir seorang gelandang yang kini menjadi denyut nadi Timnas Maroko. Dia adalah Azzedine Ounahi.
Suatu hari pada 2021, ketika baru direkrut Angers dari kasta bawah sepak bola Prancis, Ounahi mengucapkan kalimat sederhana yang kemudian menjelaskan seluruh perjalanan hidupnya. "Di lingkungan saya, untuk keluar, saya harus bermain dengan teknik. Bukan mengandalkan kecepatan. Bukan pula kekuatan. Hanya teknik."
Baca Juga: Prancis vs Maroko: Misi Balas Sejarah
Kalimat itu bukan sekadar filosofi bermain. Itu adalah cara bertahan hidup. Lima tahun kemudian, teknik yang ditempa di jalanan Casablanca itu bersinar di panggung terbesar dunia. Pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Houston, Ounahi menjadi bintang kemenangan Maroko atas tuan rumah Kanada.
Dua gol ia cetak dengan cara yang berbeda namun sama-sama memukau. Gol pertama lahir melalui tendangan bebas yang penuh keberanian. Gol kedua tercipta lewat penyelesaian dingin dalam serangan balik cepat, memperlihatkan ketenangan seorang pemain kelas dunia.
Maroko menang 3-0. Ounahi dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan dan Singa Atlas melaju ke perempat final untuk menghadapi Prancis. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan.
Baca Juga: Mimpi Ouahbi dan Misi Bersejarah Maroko di Piala Dunia 2026
Dunia sebenarnya sudah mengenal Ounahi sejak Piala Dunia 2022 di Qatar. Kala itu Maroko membuat sejarah sebagai tim Afrika pertama yang menembus semifinal. Di balik keberhasilan tersebut, Ounahi menjadi motor permainan yang tak kenal lelah.
Saat menghadapi Spanyol di babak 16 besar, ia berlari sejauh 14,7 kilometer, lebih jauh dibanding pemain mana pun dalam pertandingan itu. Ia juga menjadi pusat distribusi bola saat Maroko menyingkirkan juara dunia 2010 melalui adu penalti.
Usai pertandingan, pelatih Spanyol Luis Enrique melontarkan pertanyaan yang kemudian menjadi salah satu kutipan paling terkenal di Piala Dunia. "Ya Tuhan... dari mana asal pemain nomor 8 itu?"
Baca Juga: AS dan Portugal Tersingkir, Tiket Perempat Final Piala Dunia 2026 Ambruk
Saat itu Luis Enrique bahkan tidak mengingat namanya. Namun setelah turnamen berakhir, seluruh Eropa mengingatnya. Ounahi tampil luar biasa menghadapi Luka Modric, Kevin De Bruyne, Bruno Fernandes hingga lini tengah Portugal sebelum akhirnya langkah Maroko dihentikan Prancis di semifinal.
Ironisnya, ketika dunia mulai mengenalnya, perjalanan Ounahi justru baru dimulai. Ia merupakan lulusan Akademi Mohammed VI, tempat lahir banyak talenta terbaik Maroko. Sebelum diterima di sana, ia harus melewati proses seleksi yang diikuti sekitar 15.000 pemain muda setiap tahunnya.
Hanya sekitar 60 pemain yang lolos. Ounahi menjadi salah satunya. Namun jalan menuju puncak tetap berliku. Pada usia 18 tahun ia hijrah ke Prancis dan bergabung dengan tim cadangan Strasbourg. Tubuhnya yang kurus membuatnya sulit mendapat kesempatan tampil.
Ia bahkan harus turun ke kasta ketiga bersama Avranches, jauh dari sorotan publik. Kesempatan baru datang ketika Angers memberinya kontrak pada 2021.
Pada debutnya di Ligue 1 melawan Lyon, Ounahi langsung mencetak gol. Disitu, kariernya mulai berubah. Meski begitu, ia tetap mengingat satu prinsip yang selalu dipegangnya.
"Tetaplah berpijak di bumi."
Marseille merekrutnya setelah Piala Dunia Qatar, tetapi cedera membuat perkembangannya terhambat. Kesempatan bermain yang minim memaksanya menerima peminjaman ke Panathinaikos di Yunani.
Di sanalah kepercayaan dirinya kembali tumbuh. Ia mencatat lima gol dan tujuh assist, terpilih sebagai Pemain Terbaik Musim Ini, lalu direkrut Girona pada 2025.
Di Spanyol, Ounahi kembali menunjukkan kualitasnya. Gol indah ke gawang Athletic Bilbao dan performa konsisten membuatnya masuk Tim Terbaik La Liga versi Marca. Pelatih Girona, Míchel Sánchez, bahkan menyebut Ounahi sebagai pemain yang luar biasa, baik saat menguasai bola maupun ketika menjalankan tugas taktis.
Kini Ounahi bukan lagi sekadar gelandang pekerja keras. Ia telah berevolusi menjadi pemain yang mampu mengendalikan ritme permainan sekaligus mencetak gol-gol penting.
Transformasi itu terlihat jelas saat menghadapi Kanada. Bukan hanya dua gol yang membuatnya bersinar, tetapi juga ketenangan, kecerdasan membaca permainan, dan kepemimpinannya di lapangan.
Tak heran jika pemain muda Maroko, Samir El Mourabet, menyebut Ounahi sebagai sosok yang paling menginspirasinya di tim nasional. Kini tantangan berikutnya sudah menanti. Ya, Prancis.
Empat tahun lalu, Les Bleus menghentikan mimpi Maroko di semifinal Piala Dunia 2022. Kini, mereka kembali bertemu di perempat final.
Namun Ounahi bukan lagi pemain yang membuat Luis Enrique bertanya-tanya siapa dirinya. Ia telah menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik yang dimiliki Afrika. Anak kecil dari Hay Lalla Meriem yang dulu bermain dengan bola kempis demi keluar dari kerasnya kehidupan kini membawa harapan jutaan rakyat Maroko.
Namun, dari jalanan itulah lahir seorang gelandang yang kini menjadi denyut nadi Timnas Maroko. Dia adalah Azzedine Ounahi.
Suatu hari pada 2021, ketika baru direkrut Angers dari kasta bawah sepak bola Prancis, Ounahi mengucapkan kalimat sederhana yang kemudian menjelaskan seluruh perjalanan hidupnya. "Di lingkungan saya, untuk keluar, saya harus bermain dengan teknik. Bukan mengandalkan kecepatan. Bukan pula kekuatan. Hanya teknik."
Baca Juga: Prancis vs Maroko: Misi Balas Sejarah
Kalimat itu bukan sekadar filosofi bermain. Itu adalah cara bertahan hidup. Lima tahun kemudian, teknik yang ditempa di jalanan Casablanca itu bersinar di panggung terbesar dunia. Pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Houston, Ounahi menjadi bintang kemenangan Maroko atas tuan rumah Kanada.
Dua gol ia cetak dengan cara yang berbeda namun sama-sama memukau. Gol pertama lahir melalui tendangan bebas yang penuh keberanian. Gol kedua tercipta lewat penyelesaian dingin dalam serangan balik cepat, memperlihatkan ketenangan seorang pemain kelas dunia.
Maroko menang 3-0. Ounahi dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan dan Singa Atlas melaju ke perempat final untuk menghadapi Prancis. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan.
Baca Juga: Mimpi Ouahbi dan Misi Bersejarah Maroko di Piala Dunia 2026
Dunia sebenarnya sudah mengenal Ounahi sejak Piala Dunia 2022 di Qatar. Kala itu Maroko membuat sejarah sebagai tim Afrika pertama yang menembus semifinal. Di balik keberhasilan tersebut, Ounahi menjadi motor permainan yang tak kenal lelah.
Saat menghadapi Spanyol di babak 16 besar, ia berlari sejauh 14,7 kilometer, lebih jauh dibanding pemain mana pun dalam pertandingan itu. Ia juga menjadi pusat distribusi bola saat Maroko menyingkirkan juara dunia 2010 melalui adu penalti.
Usai pertandingan, pelatih Spanyol Luis Enrique melontarkan pertanyaan yang kemudian menjadi salah satu kutipan paling terkenal di Piala Dunia. "Ya Tuhan... dari mana asal pemain nomor 8 itu?"
Baca Juga: AS dan Portugal Tersingkir, Tiket Perempat Final Piala Dunia 2026 Ambruk
Saat itu Luis Enrique bahkan tidak mengingat namanya. Namun setelah turnamen berakhir, seluruh Eropa mengingatnya. Ounahi tampil luar biasa menghadapi Luka Modric, Kevin De Bruyne, Bruno Fernandes hingga lini tengah Portugal sebelum akhirnya langkah Maroko dihentikan Prancis di semifinal.
Ironisnya, ketika dunia mulai mengenalnya, perjalanan Ounahi justru baru dimulai. Ia merupakan lulusan Akademi Mohammed VI, tempat lahir banyak talenta terbaik Maroko. Sebelum diterima di sana, ia harus melewati proses seleksi yang diikuti sekitar 15.000 pemain muda setiap tahunnya.
Hanya sekitar 60 pemain yang lolos. Ounahi menjadi salah satunya. Namun jalan menuju puncak tetap berliku. Pada usia 18 tahun ia hijrah ke Prancis dan bergabung dengan tim cadangan Strasbourg. Tubuhnya yang kurus membuatnya sulit mendapat kesempatan tampil.
Ia bahkan harus turun ke kasta ketiga bersama Avranches, jauh dari sorotan publik. Kesempatan baru datang ketika Angers memberinya kontrak pada 2021.
Pada debutnya di Ligue 1 melawan Lyon, Ounahi langsung mencetak gol. Disitu, kariernya mulai berubah. Meski begitu, ia tetap mengingat satu prinsip yang selalu dipegangnya.
"Tetaplah berpijak di bumi."
Marseille merekrutnya setelah Piala Dunia Qatar, tetapi cedera membuat perkembangannya terhambat. Kesempatan bermain yang minim memaksanya menerima peminjaman ke Panathinaikos di Yunani.
Di sanalah kepercayaan dirinya kembali tumbuh. Ia mencatat lima gol dan tujuh assist, terpilih sebagai Pemain Terbaik Musim Ini, lalu direkrut Girona pada 2025.
Di Spanyol, Ounahi kembali menunjukkan kualitasnya. Gol indah ke gawang Athletic Bilbao dan performa konsisten membuatnya masuk Tim Terbaik La Liga versi Marca. Pelatih Girona, Míchel Sánchez, bahkan menyebut Ounahi sebagai pemain yang luar biasa, baik saat menguasai bola maupun ketika menjalankan tugas taktis.
Kini Ounahi bukan lagi sekadar gelandang pekerja keras. Ia telah berevolusi menjadi pemain yang mampu mengendalikan ritme permainan sekaligus mencetak gol-gol penting.
Transformasi itu terlihat jelas saat menghadapi Kanada. Bukan hanya dua gol yang membuatnya bersinar, tetapi juga ketenangan, kecerdasan membaca permainan, dan kepemimpinannya di lapangan.
Tak heran jika pemain muda Maroko, Samir El Mourabet, menyebut Ounahi sebagai sosok yang paling menginspirasinya di tim nasional. Kini tantangan berikutnya sudah menanti. Ya, Prancis.
Empat tahun lalu, Les Bleus menghentikan mimpi Maroko di semifinal Piala Dunia 2022. Kini, mereka kembali bertemu di perempat final.
Namun Ounahi bukan lagi pemain yang membuat Luis Enrique bertanya-tanya siapa dirinya. Ia telah menjelma menjadi salah satu gelandang terbaik yang dimiliki Afrika. Anak kecil dari Hay Lalla Meriem yang dulu bermain dengan bola kempis demi keluar dari kerasnya kehidupan kini membawa harapan jutaan rakyat Maroko.
(yov)
Lihat Juga :