Skuad Prancis Jadi Korban Rasisme di Piala Dunia 2026, Bek Spanyol Meradang
Selasa, 14 Juli 2026 - 10:48 WIB
loading...
Skuad Prancis Jadi Korban Rasisme di Piala Dunia 2026, Bek Spanyol Meradang
A
A
A
JAKARTA - Bek muda Timnas Spanyol , Pau Cubarsi, melontarkan pembelaan tegas terhadap Timnas Prancis setelah muncul komentar bernada rasis dari mantan Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, menjelang semifinal Piala Dunia 2026.
Alih-alih membahas kekuatan kedua tim di lapangan, duel bergengsi Spanyol kontra Prancis justru diwarnai polemik usai Rajoy menyatakan bahwa Les Bleus "tidak memiliki pemain Prancis". Pernyataan tersebut menuai kecaman luas karena dianggap merendahkan latar belakang etnis para pemain Prancis.
Rajoy, yang menjabat sebagai Perdana Menteri Spanyol pada 2011-2018, sebenarnya mengakui kualitas skuad Didier Deschamps. Namun komentarnya memicu kontroversi.
"Mereka adalah juara dunia dua kali dan finalis edisi sebelumnya. Mereka memenangkan semua pertandingan di Piala Dunia ini dan berada di peringkat pertama FIFA. Mereka memiliki skuad kelas dunia. Namun, mereka tidak memiliki pemain Prancis. Meski begitu, mereka bermain sangat baik dan akan menjadi lawan yang sangat berat," ujar Rajoy.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons dari berbagai pihak, termasuk Cubarsi. Bek Barcelona berusia 19 tahun itu menegaskan bahwa seluruh pemain yang membela Timnas Prancis adalah warga negara Prancis, sehingga warna kulit tidak boleh dijadikan tolok ukur identitas seseorang.
"Jika mereka bermain untuk tim nasional Prancis, maka pada akhirnya mereka adalah orang Prancis, apa pun warna kulit mereka. Kita harus bersikap toleran kepada semua orang," kata Cubarsi.
"Warna kulit tidaklah penting karena kita semua adalah manusia dan semuanya pantas mendapatkan rasa hormat."
Pernyataan Cubarsi mendapat apresiasi karena dinilai menunjukkan sikap sportif sekaligus menolak segala bentuk diskriminasi menjelang laga besar Piala Dunia.
Kecaman juga datang dari Perdana Menteri Spanyol saat ini, Pedro Sanchez. Ia menilai identitas sebuah bangsa tidak ditentukan oleh nama keluarga, tempat lahir, ataupun warna kulit seseorang.
"Masih ada orang yang mengukur rasa memiliki dari nama belakang, tempat lahir, atau warna kulit. Padahal seseorang menjadi bagian dari sebuah negara karena mencintainya dan berkontribusi untuknya. Spanyol adalah milik mereka yang mencintai dan bekerja untuk negara ini, bukan mereka yang mempermalukannya dengan pernyataan xenofobia. Prancis, sampai jumpa di semifinal. Semoga tim terbaik yang menang dan semoga rasisme yang kalah," ujar Sanchez.
Kedutaan Besar Prancis di Madrid turut memberikan klarifikasi atas komentar Rajoy. Mereka menegaskan seluruh pemain yang memperkuat Les Bleus merupakan warga negara Prancis.
"Tanpa ingin memperpanjang polemik, perlu ditegaskan bahwa seluruh pemain tim nasional Prancis adalah orang Prancis. Dari 26 pemain, 23 lahir di Prancis, sedangkan tiga lainnya memang lahir di luar negeri tetapi tetap berkewarganegaraan Prancis," tulis pernyataan kedutaan.
Di tengah polemik tersebut, perhatian kini kembali tertuju pada pertandingan semifinal yang akan berlangsung di Dallas Stadium, Rabu (15/7) dini hari WIB. Spanyol datang dengan rekor impresif setelah hanya kebobolan satu gol dalam enam pertandingan, sementara Prancis tampil meyakinkan sebagai salah satu favorit juara berkat performa konsisten Kylian Mbappe dan kolega.
Cubarsi sendiri menjadi salah satu pilar utama La Roja di sepanjang turnamen. Bek berusia 19 tahun itu selalu tampil sebagai starter dan diperkirakan kembali menjadi andalan untuk meredam lini serang Prancis dalam perebutan tiket menuju final Piala Dunia 2026.
Alih-alih membahas kekuatan kedua tim di lapangan, duel bergengsi Spanyol kontra Prancis justru diwarnai polemik usai Rajoy menyatakan bahwa Les Bleus "tidak memiliki pemain Prancis". Pernyataan tersebut menuai kecaman luas karena dianggap merendahkan latar belakang etnis para pemain Prancis.
Rajoy, yang menjabat sebagai Perdana Menteri Spanyol pada 2011-2018, sebenarnya mengakui kualitas skuad Didier Deschamps. Namun komentarnya memicu kontroversi.
"Mereka adalah juara dunia dua kali dan finalis edisi sebelumnya. Mereka memenangkan semua pertandingan di Piala Dunia ini dan berada di peringkat pertama FIFA. Mereka memiliki skuad kelas dunia. Namun, mereka tidak memiliki pemain Prancis. Meski begitu, mereka bermain sangat baik dan akan menjadi lawan yang sangat berat," ujar Rajoy.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons dari berbagai pihak, termasuk Cubarsi. Bek Barcelona berusia 19 tahun itu menegaskan bahwa seluruh pemain yang membela Timnas Prancis adalah warga negara Prancis, sehingga warna kulit tidak boleh dijadikan tolok ukur identitas seseorang.
"Jika mereka bermain untuk tim nasional Prancis, maka pada akhirnya mereka adalah orang Prancis, apa pun warna kulit mereka. Kita harus bersikap toleran kepada semua orang," kata Cubarsi.
"Warna kulit tidaklah penting karena kita semua adalah manusia dan semuanya pantas mendapatkan rasa hormat."
Pernyataan Cubarsi mendapat apresiasi karena dinilai menunjukkan sikap sportif sekaligus menolak segala bentuk diskriminasi menjelang laga besar Piala Dunia.
Kecaman juga datang dari Perdana Menteri Spanyol saat ini, Pedro Sanchez. Ia menilai identitas sebuah bangsa tidak ditentukan oleh nama keluarga, tempat lahir, ataupun warna kulit seseorang.
"Masih ada orang yang mengukur rasa memiliki dari nama belakang, tempat lahir, atau warna kulit. Padahal seseorang menjadi bagian dari sebuah negara karena mencintainya dan berkontribusi untuknya. Spanyol adalah milik mereka yang mencintai dan bekerja untuk negara ini, bukan mereka yang mempermalukannya dengan pernyataan xenofobia. Prancis, sampai jumpa di semifinal. Semoga tim terbaik yang menang dan semoga rasisme yang kalah," ujar Sanchez.
Kedutaan Besar Prancis di Madrid turut memberikan klarifikasi atas komentar Rajoy. Mereka menegaskan seluruh pemain yang memperkuat Les Bleus merupakan warga negara Prancis.
"Tanpa ingin memperpanjang polemik, perlu ditegaskan bahwa seluruh pemain tim nasional Prancis adalah orang Prancis. Dari 26 pemain, 23 lahir di Prancis, sedangkan tiga lainnya memang lahir di luar negeri tetapi tetap berkewarganegaraan Prancis," tulis pernyataan kedutaan.
Di tengah polemik tersebut, perhatian kini kembali tertuju pada pertandingan semifinal yang akan berlangsung di Dallas Stadium, Rabu (15/7) dini hari WIB. Spanyol datang dengan rekor impresif setelah hanya kebobolan satu gol dalam enam pertandingan, sementara Prancis tampil meyakinkan sebagai salah satu favorit juara berkat performa konsisten Kylian Mbappe dan kolega.
Cubarsi sendiri menjadi salah satu pilar utama La Roja di sepanjang turnamen. Bek berusia 19 tahun itu selalu tampil sebagai starter dan diperkirakan kembali menjadi andalan untuk meredam lini serang Prancis dalam perebutan tiket menuju final Piala Dunia 2026.
(sto)
Lihat Juga :