Profil Ismail Elfath, Mantan Tukang Protes yang Jadi Wasit Duel Inggris vs Argentina
Rabu, 15 Juli 2026 - 12:02 WIB
loading...
Laga panas antara Inggris dan Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026 akan dipimpin Ismail Elfath, wasit asal Amerika Serikat yang lahir di Casablanca, Maroko / Foto: Ilustrasi AI
A
A
A
ATLANTA - Laga panas antara Inggris dan Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026 akan dipimpin Ismail Elfath, wasit asal Amerika Serikat yang lahir di Casablanca, Maroko. Penunjukan ini menjadi kepercayaan besar bagi Elfath setelah sebelumnya memimpin tiga pertandingan, termasuk duel Jepang vs Belanda, Spanyol vs Uruguay, dan kemenangan mengejutkan Norwegia atas Brasil di babak 16 besar.
Perjalanan Elfath menuju panggung Piala Dunia terbilang inspiratif. Ia hijrah ke Amerika Serikat pada 2001 melalui Program Visa Keanekaragaman AS, kemudian menempuh pendidikan teknik mesin di Universitas Texas sebelum menjadi warga negara Amerika.
Menariknya, Elfath tidak pernah bercita-cita menjadi wasit. Saat masih bermain sebagai penyerang di klub amatir Austin Lightning, ia kerap memprotes keputusan pengadil lapangan.
Baca Juga:
Seorang penyelenggara liga kemudian menantangnya untuk mencoba menjadi wasit sendiri. Tantangan itu justru mengubah jalan hidupnya. Elfath memulai karier dari pertandingan usia muda dan liga semi-profesional sambil bekerja di bidang penjualan teknologi informasi.
Perlahan ia menembus Major League Soccer (MLS), menjadi wasit utama pada 2012, lalu memperoleh lisensi FIFA pada 2016. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi bagian dari sejarah saat memimpin pertandingan yang menggunakan tinjauan VAR di lapangan untuk pertama kalinya.
Reputasinya terus meningkat. Elfath dua kali dinobatkan sebagai Wasit Terbaik MLS pada 2020 dan 2022, sebelum dipercaya memimpin laga di Olimpiade Tokyo 2020, Piala Afrika 2021, hingga debut di Piala Dunia Qatar 2022.
Baca Juga:
Saat itu, ia memimpin tiga pertandingan dan menjadi wasit keempat pada final dramatis Argentina melawan Prancis. Di Piala Dunia 2026, Elfath kembali menunjukkan konsistensinya.
Dalam tiga pertandingan yang dipimpinnya, ia mengeluarkan tujuh kartu kuning dan satu kartu merah. Kini, pria berusia 44 tahun itu kembali mendapat tugas besar memimpin semifinal Inggris kontra Argentina, didampingi asisten Corey Parker dan Kyle Atkins dari Amerika Serikat.
Perjalanan Elfath menuju panggung Piala Dunia terbilang inspiratif. Ia hijrah ke Amerika Serikat pada 2001 melalui Program Visa Keanekaragaman AS, kemudian menempuh pendidikan teknik mesin di Universitas Texas sebelum menjadi warga negara Amerika.
Menariknya, Elfath tidak pernah bercita-cita menjadi wasit. Saat masih bermain sebagai penyerang di klub amatir Austin Lightning, ia kerap memprotes keputusan pengadil lapangan.
Baca Juga:
Seorang penyelenggara liga kemudian menantangnya untuk mencoba menjadi wasit sendiri. Tantangan itu justru mengubah jalan hidupnya. Elfath memulai karier dari pertandingan usia muda dan liga semi-profesional sambil bekerja di bidang penjualan teknologi informasi.
Perlahan ia menembus Major League Soccer (MLS), menjadi wasit utama pada 2012, lalu memperoleh lisensi FIFA pada 2016. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi bagian dari sejarah saat memimpin pertandingan yang menggunakan tinjauan VAR di lapangan untuk pertama kalinya.
Reputasinya terus meningkat. Elfath dua kali dinobatkan sebagai Wasit Terbaik MLS pada 2020 dan 2022, sebelum dipercaya memimpin laga di Olimpiade Tokyo 2020, Piala Afrika 2021, hingga debut di Piala Dunia Qatar 2022.
Baca Juga:
Saat itu, ia memimpin tiga pertandingan dan menjadi wasit keempat pada final dramatis Argentina melawan Prancis. Di Piala Dunia 2026, Elfath kembali menunjukkan konsistensinya.
Dalam tiga pertandingan yang dipimpinnya, ia mengeluarkan tujuh kartu kuning dan satu kartu merah. Kini, pria berusia 44 tahun itu kembali mendapat tugas besar memimpin semifinal Inggris kontra Argentina, didampingi asisten Corey Parker dan Kyle Atkins dari Amerika Serikat.
(yov)
Lihat Juga :