Juara Piala Dunia 2026, Mengapa Spanyol Dibayar Lebih Murah dari Chelsea?
Senin, 20 Juli 2026 - 16:42 WIB
loading...
Juara Piala Dunia 2026, Mengapa Spanyol Dibayar Lebih Murah dari Chelsea?
A
A
A
JAKARTA – - Gelar juara Piala Dunia tetap menjadi pencapaian paling prestisius di sepak bola. Namun, dari sisi hadiah uang, turnamen antarnegara paling bergengsi itu ternyata masih kalah jauh dibanding Piala Dunia Antarklub FIFA.
Timnas Spanyol yang baru saja menjuarai Piala Dunia 2026 usai mengalahkan Argentina hanya menerima hadiah sebesar US$50 juta (sekitar Rp815 miliar). Nilai itu bahkan kurang dari separuh hadiah yang diraih Chelsea sebagai juara Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 , yakni mencapai US$125 juta (sekitar Rp2 triliun).
Perbedaan mencolok tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan penggemar sepak bola: mengapa juara Piala Dunia justru memperoleh hadiah lebih kecil?
FIFA menjelaskan bahwa perbedaan itu berkaitan dengan model bisnis dan tujuan penyelenggaraan masing-masing kompetisi.
Sepanjang siklus komersial empat tahunan hingga 2026, FIFA diperkirakan mengantongi pendapatan sekitar US$13 miliar, dengan sekitar US$8,9 miliar di antaranya berasal dari Piala Dunia 2026.
Sumber pemasukan terbesar berasal dari hak siar televisi yang menyumbang lebih dari US$4 miliar atau sekitar 39 persen dari total pendapatan. Selain itu, FIFA juga memperoleh pemasukan dari penjualan tiket dan paket hospitality, kontrak sponsor global seperti Coca-Cola, Adidas, dan Visa, serta lisensi komersial.
Dengan skala tersebut, Piala Dunia tak lagi sekadar turnamen sepak bola, melainkan juga menjadi salah satu ajang media dan periklanan terbesar di dunia.
Meski menghasilkan pendapatan hampir US$9 miliar, total hadiah yang dibagikan FIFA pada Piala Dunia 2026 hanya mencapai US$655 juta.
Dana tersebut tidak seluruhnya diberikan kepada para pemain. Sebagian besar digunakan untuk membiayai operasional turnamen, biaya organisasi FIFA, serta program pengembangan sepak bola di 211 asosiasi anggota FIFA di seluruh dunia.
Kebijakan itu memang menjadi bagian dari filosofi FIFA yang menjadikan Piala Dunia sebagai mekanisme distribusi dana untuk mengembangkan sepak bola global, bukan semata-mata kompetisi dengan hadiah terbesar. Bahkan tim yang tersingkir di fase grup tetap menerima hadiah sebesar US$9 juta.
Berbeda dengan Piala Dunia, Piala Dunia Antarklub menggunakan pendekatan bisnis yang lain.
Sejak diperluas menjadi 32 peserta pada edisi 2025, FIFA menyediakan total hadiah hingga US$1 miliar. Chelsea sebagai juara memperoleh pendapatan hingga US$125 juta.
Besarnya hadiah itu dinilai sebagai kompensasi bagi klub-klub elite yang harus menanggung beban gaji pemain bernilai jutaan dolar setiap tahun, sekaligus insentif agar klub-klub besar seperti Chelsea, Real Madrid, dan Manchester City bersedia mengikuti turnamen baru tersebut.
Di sisi lain, tim nasional tidak memiliki struktur biaya seperti klub karena pemain tidak menerima gaji tahunan dari federasi sebagaimana mereka dibayar klub.
Selain alasan tersebut, banyak pengamat menilai FIFA juga sengaja memberikan hadiah besar demi meningkatkan daya tarik dan kredibilitas Piala Dunia Antarklub yang masih tergolong kompetisi baru.
Sebaliknya, Piala Dunia sudah memiliki prestise yang dibangun selama hampir satu abad. FIFA tidak perlu menawarkan hadiah fantastis agar setiap negara berlomba-lomba untuk lolos ke putaran final.
Meski demikian, FIFA telah meningkatkan hadiah Piala Dunia sekitar 50 persen dibanding siklus sebelumnya. Ke depan, menarik untuk dinantikan apakah badan sepak bola dunia itu akan terus menaikkan hadiah Piala Dunia agar kesenjangan dengan Piala Dunia Antarklub semakin mengecil.
Timnas Spanyol yang baru saja menjuarai Piala Dunia 2026 usai mengalahkan Argentina hanya menerima hadiah sebesar US$50 juta (sekitar Rp815 miliar). Nilai itu bahkan kurang dari separuh hadiah yang diraih Chelsea sebagai juara Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 , yakni mencapai US$125 juta (sekitar Rp2 triliun).
Perbedaan mencolok tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan penggemar sepak bola: mengapa juara Piala Dunia justru memperoleh hadiah lebih kecil?
FIFA menjelaskan bahwa perbedaan itu berkaitan dengan model bisnis dan tujuan penyelenggaraan masing-masing kompetisi.
Sepanjang siklus komersial empat tahunan hingga 2026, FIFA diperkirakan mengantongi pendapatan sekitar US$13 miliar, dengan sekitar US$8,9 miliar di antaranya berasal dari Piala Dunia 2026.
Sumber pemasukan terbesar berasal dari hak siar televisi yang menyumbang lebih dari US$4 miliar atau sekitar 39 persen dari total pendapatan. Selain itu, FIFA juga memperoleh pemasukan dari penjualan tiket dan paket hospitality, kontrak sponsor global seperti Coca-Cola, Adidas, dan Visa, serta lisensi komersial.
Dengan skala tersebut, Piala Dunia tak lagi sekadar turnamen sepak bola, melainkan juga menjadi salah satu ajang media dan periklanan terbesar di dunia.
Meski menghasilkan pendapatan hampir US$9 miliar, total hadiah yang dibagikan FIFA pada Piala Dunia 2026 hanya mencapai US$655 juta.
Dana tersebut tidak seluruhnya diberikan kepada para pemain. Sebagian besar digunakan untuk membiayai operasional turnamen, biaya organisasi FIFA, serta program pengembangan sepak bola di 211 asosiasi anggota FIFA di seluruh dunia.
Kebijakan itu memang menjadi bagian dari filosofi FIFA yang menjadikan Piala Dunia sebagai mekanisme distribusi dana untuk mengembangkan sepak bola global, bukan semata-mata kompetisi dengan hadiah terbesar. Bahkan tim yang tersingkir di fase grup tetap menerima hadiah sebesar US$9 juta.
Berbeda dengan Piala Dunia, Piala Dunia Antarklub menggunakan pendekatan bisnis yang lain.
Sejak diperluas menjadi 32 peserta pada edisi 2025, FIFA menyediakan total hadiah hingga US$1 miliar. Chelsea sebagai juara memperoleh pendapatan hingga US$125 juta.
Besarnya hadiah itu dinilai sebagai kompensasi bagi klub-klub elite yang harus menanggung beban gaji pemain bernilai jutaan dolar setiap tahun, sekaligus insentif agar klub-klub besar seperti Chelsea, Real Madrid, dan Manchester City bersedia mengikuti turnamen baru tersebut.
Di sisi lain, tim nasional tidak memiliki struktur biaya seperti klub karena pemain tidak menerima gaji tahunan dari federasi sebagaimana mereka dibayar klub.
Selain alasan tersebut, banyak pengamat menilai FIFA juga sengaja memberikan hadiah besar demi meningkatkan daya tarik dan kredibilitas Piala Dunia Antarklub yang masih tergolong kompetisi baru.
Sebaliknya, Piala Dunia sudah memiliki prestise yang dibangun selama hampir satu abad. FIFA tidak perlu menawarkan hadiah fantastis agar setiap negara berlomba-lomba untuk lolos ke putaran final.
Meski demikian, FIFA telah meningkatkan hadiah Piala Dunia sekitar 50 persen dibanding siklus sebelumnya. Ke depan, menarik untuk dinantikan apakah badan sepak bola dunia itu akan terus menaikkan hadiah Piala Dunia agar kesenjangan dengan Piala Dunia Antarklub semakin mengecil.
(sto)
Lihat Juga :