FIFA Tepis Isu Pengaturan Skor Pertandingan di Piala Dunia 2026
Kamis, 23 Juli 2026 - 16:19 WIB
loading...
Salah satu pertandingan Mesir vs Argentina di Piala Dunia 2026 diyakini berbau pengaturan skor. Foto: Givemesport
A
A
A
FIFA akhirnya angkat bicara terkait berbagai tudingan pengaturan pertandingan yang sempat mencuat sepanjang Piala Dunia 2026 . Federasi sepak bola dunia itu memastikan tidak menemukan indikasi manipulasi pertandingan maupun aktivitas taruhan mencurigakan dalam seluruh laga turnamen.
Pernyataan resmi tersebut dirilis beberapa hari setelah berakhirnya Piala Dunia 2026 , di tengah derasnya spekulasi yang berkembang selama kompetisi, terutama setelah sejumlah pihak menuding Argentina mendapat keuntungan dari keputusan wasit dalam perjalanan menuju final.
La Albiceleste memang menjadi sasaran kritik sejak babak 16 besar. Kekalahan kontroversial Mesir dengan skor 2-3 memicu tuduhan bahwa pertandingan telah "diatur" demi menjaga Argentina dan Lionel Messi tetap bertahan di turnamen.
Pelatih Mesir Hossam Hassan bahkan sempat menyatakan, "Mereka ingin Argentina dan Messi tetap berada di Piala Dunia demi kepentingan pemasaran."
Sementara itu, pencetak gol Mesir, Mostafa Ziko, juga melontarkan tuduhan bahwa turnamen telah "diatur" untuk menguntungkan skuad asuhan Lionel Scaloni.
Meski demikian, FIFA sejak awal menolak seluruh tuduhan tersebut. Kepala Divisi Perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan integritas para pengadil lapangan tidak bisa dipertanyakan hanya karena muncul keputusan kontroversial.
"Tentu diskusi yang konstruktif mengenai keputusan wasit akan selalu menjadi bagian dari sepak bola. Namun tuduhan tanpa dasar tidak memiliki tempat dalam olahraga ini," kata Collina.
"Tidak seorang pun boleh mempertanyakan integritas wasit Piala Dunia FIFA. Tuduhan seperti itu dapat memicu ancaman terhadap mereka maupun keluarga mereka. Itu tidak benar."
Kini, FIFA memperkuat pernyataan tersebut dengan hasil pemantauan resmi dari FIFA Integrity Task Force, tim khusus yang dibentuk untuk mengawasi potensi manipulasi pertandingan selama turnamen berlangsung.
Dalam pernyataannya, FIFA menyebut seluruh 104 pertandingan Piala Dunia 2026 dipantau secara langsung, baik dari sisi aktivitas taruhan maupun jalannya pertandingan di lapangan.
"Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dan dianalisis sepanjang kompetisi, Task Force tidak menemukan aktivitas taruhan yang mencurigakan ataupun indikasi manipulasi pertandingan dalam satu pun laga," tulis FIFA.
FIFA menjelaskan, seluruh laporan pemantauan pasar taruhan, data intelijen, hingga informasi dari berbagai mekanisme pelaporan dikumpulkan di satu pusat analisis sebelum dibagikan kepada anggota Task Force sesuai prosedur operasional.
Menurut FIFA, kolaborasi lintas lembaga memungkinkan setiap potensi ancaman dapat dinilai secara cepat dan terkoordinasi sepanjang penyelenggaraan turnamen.
Tim integritas tersebut melibatkan banyak organisasi internasional, mulai dari AFC, CAF, Concacaf, CONMEBOL, UEFA, OFC, Federasi Sepak Bola Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, hingga FBI, INTERPOL, Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), Sportradar, International Betting Integrity Association (IBIA), Genius Sports, Departemen Kehakiman Amerika Serikat, serta sejumlah pakar independen.
Senior Integrity Manager FIFA, Liam Rich, menyebut kerja sama tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga kredibilitas turnamen.
"FIFA Integrity Task Force memberikan kerangka kerja yang kuat selama Piala Dunia 2026 untuk berbagi informasi intelijen, menilai potensi ancaman, dan mengoordinasikan respons secara tepat waktu."
"Kami berterima kasih kepada seluruh anggota Task Force atas keahlian dan komitmen mereka selama kompetisi berlangsung. Kami berharap dapat melanjutkan kolaborasi ini pada turnamen FIFA berikutnya."
Meski isu dugaan keberpihakan wasit sempat menjadi perdebatan panjang, FIFA menegaskan hasil evaluasi tidak menemukan bukti yang mengarah pada pengaturan pertandingan.
Di sisi lain, federasi masih melanjutkan penyelidikan terpisah terkait kericuhan yang melibatkan sejumlah pemain dan staf Argentina seusai kekalahan 0-1 dari Spanyol pada final di Stadion New York New Jersey. Investigasi tersebut berfokus pada dugaan pelanggaran disiplin pascalaga dan tidak berkaitan dengan integritas pertandingan.
Pernyataan resmi tersebut dirilis beberapa hari setelah berakhirnya Piala Dunia 2026 , di tengah derasnya spekulasi yang berkembang selama kompetisi, terutama setelah sejumlah pihak menuding Argentina mendapat keuntungan dari keputusan wasit dalam perjalanan menuju final.
La Albiceleste memang menjadi sasaran kritik sejak babak 16 besar. Kekalahan kontroversial Mesir dengan skor 2-3 memicu tuduhan bahwa pertandingan telah "diatur" demi menjaga Argentina dan Lionel Messi tetap bertahan di turnamen.
Pelatih Mesir Hossam Hassan bahkan sempat menyatakan, "Mereka ingin Argentina dan Messi tetap berada di Piala Dunia demi kepentingan pemasaran."
Sementara itu, pencetak gol Mesir, Mostafa Ziko, juga melontarkan tuduhan bahwa turnamen telah "diatur" untuk menguntungkan skuad asuhan Lionel Scaloni.
Meski demikian, FIFA sejak awal menolak seluruh tuduhan tersebut. Kepala Divisi Perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan integritas para pengadil lapangan tidak bisa dipertanyakan hanya karena muncul keputusan kontroversial.
"Tentu diskusi yang konstruktif mengenai keputusan wasit akan selalu menjadi bagian dari sepak bola. Namun tuduhan tanpa dasar tidak memiliki tempat dalam olahraga ini," kata Collina.
"Tidak seorang pun boleh mempertanyakan integritas wasit Piala Dunia FIFA. Tuduhan seperti itu dapat memicu ancaman terhadap mereka maupun keluarga mereka. Itu tidak benar."
Kini, FIFA memperkuat pernyataan tersebut dengan hasil pemantauan resmi dari FIFA Integrity Task Force, tim khusus yang dibentuk untuk mengawasi potensi manipulasi pertandingan selama turnamen berlangsung.
Dalam pernyataannya, FIFA menyebut seluruh 104 pertandingan Piala Dunia 2026 dipantau secara langsung, baik dari sisi aktivitas taruhan maupun jalannya pertandingan di lapangan.
"Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dan dianalisis sepanjang kompetisi, Task Force tidak menemukan aktivitas taruhan yang mencurigakan ataupun indikasi manipulasi pertandingan dalam satu pun laga," tulis FIFA.
FIFA menjelaskan, seluruh laporan pemantauan pasar taruhan, data intelijen, hingga informasi dari berbagai mekanisme pelaporan dikumpulkan di satu pusat analisis sebelum dibagikan kepada anggota Task Force sesuai prosedur operasional.
Menurut FIFA, kolaborasi lintas lembaga memungkinkan setiap potensi ancaman dapat dinilai secara cepat dan terkoordinasi sepanjang penyelenggaraan turnamen.
Tim integritas tersebut melibatkan banyak organisasi internasional, mulai dari AFC, CAF, Concacaf, CONMEBOL, UEFA, OFC, Federasi Sepak Bola Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, hingga FBI, INTERPOL, Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), Sportradar, International Betting Integrity Association (IBIA), Genius Sports, Departemen Kehakiman Amerika Serikat, serta sejumlah pakar independen.
Senior Integrity Manager FIFA, Liam Rich, menyebut kerja sama tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga kredibilitas turnamen.
"FIFA Integrity Task Force memberikan kerangka kerja yang kuat selama Piala Dunia 2026 untuk berbagi informasi intelijen, menilai potensi ancaman, dan mengoordinasikan respons secara tepat waktu."
"Kami berterima kasih kepada seluruh anggota Task Force atas keahlian dan komitmen mereka selama kompetisi berlangsung. Kami berharap dapat melanjutkan kolaborasi ini pada turnamen FIFA berikutnya."
Meski isu dugaan keberpihakan wasit sempat menjadi perdebatan panjang, FIFA menegaskan hasil evaluasi tidak menemukan bukti yang mengarah pada pengaturan pertandingan.
Di sisi lain, federasi masih melanjutkan penyelidikan terpisah terkait kericuhan yang melibatkan sejumlah pemain dan staf Argentina seusai kekalahan 0-1 dari Spanyol pada final di Stadion New York New Jersey. Investigasi tersebut berfokus pada dugaan pelanggaran disiplin pascalaga dan tidak berkaitan dengan integritas pertandingan.
(sto)
Lihat Juga :