Norwegia Siap Laporkan FIFA, Protes Campur Tangan Trump dalam Kasus Kartu Merah Balogun
Kamis, 23 Juli 2026 - 16:18 WIB
loading...
Norwegia Siap Laporkan FIFA, Protes Campur Tangan Trump dalam Kasus Kartu Merah Balogun
A
A
A
JAKARTA - Kontroversi keputusan FIFA menangguhkan hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, di Piala Dunia 2026 terus berbuntut panjang. Kali ini, Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) memastikan akan mengajukan pengaduan resmi kepada FIFA karena menilai keputusan tersebut telah mencederai integritas sepak bola.
Kasus ini bermula ketika Balogun menerima kartu merah langsung saat Amerika Serikat menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada babak 32 besar. Berdasarkan regulasi, striker andalan tuan rumah itu seharusnya absen pada laga 16 besar melawan Belgia dan berpotensi melewatkan perempat final apabila AS lolos.
Namun, FIFA membuat keputusan mengejutkan dengan menangguhkan hukuman tersebut selama satu tahun sehingga Balogun tetap dapat tampil menghadapi Belgia.
Baca Juga: Ketum dan Bendahara Federasi Sepak Bola Argentina Ditangkap FBI?
Belakangan terungkap, keputusan itu diambil setelah adanya intervensi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump bahkan secara terbuka mengucapkan terima kasih kepada FIFA melalui media sosial karena telah membatalkan apa yang ia sebut sebagai "ketidakadilan besar".
Laporan lain menyebutkan bahwa keputusan penangguhan sanksi Balogun diambil secara langsung oleh Ketua Komite Disiplin FIFA, Mohammad Al-Kamali.
Keputusan tersebut memicu reaksi keras dari Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia, Lise Klaveness. Ia menilai perubahan aturan akibat tekanan dari pihak luar merupakan preseden berbahaya bagi dunia sepak bola.
"Ketika Anda membengkokkan aturan seperti ini, Anda berada di jalur yang sangat berbahaya yang dapat mengancam keseluruhan permainan. Sangat mengkhawatirkan ketika aturan-aturan fundamental dalam sepak bola dikompromikan," ujar Klaveness kepada The Times.
Klaveness menegaskan, FIFA harus mengakui bahwa proses pengambilan keputusan dalam kasus Balogun tidak berjalan sebagaimana mestinya.
"Pertama-tama, hal ini seharusnya tidak pernah terjadi. Sangat penting sekarang ada komunikasi yang jujur mengenai kasus ini. Kita semua tahu keputusan tersebut dipengaruhi oleh kekuatan dari luar dan tidak melalui proses yang semestinya. Pemimpin FIFA harus mengatakan bahwa ini adalah sebuah kesalahan," katanya.
Menurut Klaveness, campur tangan tokoh politik terhadap keputusan olahraga dapat menciptakan batas baru yang berbahaya.
"Jika Anda mulai menyesuaikan diri dengan keinginan para pemimpin negara dan politik, maka perilaku organisasi juga akan berubah. Garis batas mengenai sejauh mana pemimpin negara boleh ikut campur juga akan bergeser. Dan itu sudah terjadi."
Ia juga mengkritik proses pengambilan keputusan yang hanya melibatkan satu pihak, terutama ketika ada tekanan dari figur politik yang sangat berpengaruh.
"Ketika membuat keputusan yang kontroversial, apalagi ada suara eksternal yang sangat kuat memengaruhi, seharusnya lebih banyak pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Jika tidak, itu adalah sebuah kesalahan."
Klaveness memastikan persoalan ini akan dibawa ke rapat dewan Federasi Sepak Bola Norwegia sebelum diajukan sebagai pengaduan resmi kepada FIFA.
"Kasus ini sangat serius dan sangat mengkhawatirkan. Saya berharap ini bisa mendorong lebih banyak orang untuk berani menyampaikan persoalan seperti ini. Saya akan membawanya ke rapat dewan dan mendiskusikannya bersama anggota dewan. Bagi saya, kasus ini seharusnya masuk dalam ranah pengaduan etik."
Ia menambahkan, persoalan tersebut tidak boleh diabaikan begitu saja.
"Mencoba menyapu masalah ini ke bawah karpet tidak akan berhasil. Terlalu banyak pelatih, pemain, dan suporter yang merasa keputusan ini sudah terlalu jauh."
Ironisnya, keputusan FIFA itu tidak mengubah nasib Amerika Serikat di turnamen. Meski Balogun diizinkan bermain, tuan rumah justru tersingkir setelah dihajar Belgia dengan skor telak 1-4 pada babak 16 besar.
Balogun sendiri mengakui keputusan tersebut justru memberikan tekanan tambahan bagi dirinya maupun rekan-rekan setim.
"Reaksi pertama saya tentu senang bisa kembali ke tim. Namun setelah saya merenungkannya, saya sadar keputusan ini akan memunculkan kontroversi besar."
"Saya bahkan bisa merasakan ada sedikit kegelisahan di antara rekan-rekan setim karena ini merupakan situasi yang sangat tidak biasa. Semakin dekat ke hari pertandingan, saya berusaha tetap fokus, tetapi itu sangat sulit. Terlalu banyak suara dari luar dan sulit untuk mengabaikannya."
Kontroversi kasus Balogun menjadi salah satu isu tata kelola paling besar sepanjang Piala Dunia 2026. Selain penyelidikan disiplin terhadap kericuhan seusai final, FIFA kini juga menghadapi sorotan terkait independensi pengambilan keputusan setelah muncul dugaan campur tangan politik dalam proses penegakan regulasi turnamen.
Kasus ini bermula ketika Balogun menerima kartu merah langsung saat Amerika Serikat menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada babak 32 besar. Berdasarkan regulasi, striker andalan tuan rumah itu seharusnya absen pada laga 16 besar melawan Belgia dan berpotensi melewatkan perempat final apabila AS lolos.
Namun, FIFA membuat keputusan mengejutkan dengan menangguhkan hukuman tersebut selama satu tahun sehingga Balogun tetap dapat tampil menghadapi Belgia.
Baca Juga: Ketum dan Bendahara Federasi Sepak Bola Argentina Ditangkap FBI?
Belakangan terungkap, keputusan itu diambil setelah adanya intervensi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump bahkan secara terbuka mengucapkan terima kasih kepada FIFA melalui media sosial karena telah membatalkan apa yang ia sebut sebagai "ketidakadilan besar".
Laporan lain menyebutkan bahwa keputusan penangguhan sanksi Balogun diambil secara langsung oleh Ketua Komite Disiplin FIFA, Mohammad Al-Kamali.
Keputusan tersebut memicu reaksi keras dari Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia, Lise Klaveness. Ia menilai perubahan aturan akibat tekanan dari pihak luar merupakan preseden berbahaya bagi dunia sepak bola.
"Ketika Anda membengkokkan aturan seperti ini, Anda berada di jalur yang sangat berbahaya yang dapat mengancam keseluruhan permainan. Sangat mengkhawatirkan ketika aturan-aturan fundamental dalam sepak bola dikompromikan," ujar Klaveness kepada The Times.
Klaveness menegaskan, FIFA harus mengakui bahwa proses pengambilan keputusan dalam kasus Balogun tidak berjalan sebagaimana mestinya.
"Pertama-tama, hal ini seharusnya tidak pernah terjadi. Sangat penting sekarang ada komunikasi yang jujur mengenai kasus ini. Kita semua tahu keputusan tersebut dipengaruhi oleh kekuatan dari luar dan tidak melalui proses yang semestinya. Pemimpin FIFA harus mengatakan bahwa ini adalah sebuah kesalahan," katanya.
Menurut Klaveness, campur tangan tokoh politik terhadap keputusan olahraga dapat menciptakan batas baru yang berbahaya.
"Jika Anda mulai menyesuaikan diri dengan keinginan para pemimpin negara dan politik, maka perilaku organisasi juga akan berubah. Garis batas mengenai sejauh mana pemimpin negara boleh ikut campur juga akan bergeser. Dan itu sudah terjadi."
Ia juga mengkritik proses pengambilan keputusan yang hanya melibatkan satu pihak, terutama ketika ada tekanan dari figur politik yang sangat berpengaruh.
"Ketika membuat keputusan yang kontroversial, apalagi ada suara eksternal yang sangat kuat memengaruhi, seharusnya lebih banyak pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Jika tidak, itu adalah sebuah kesalahan."
Klaveness memastikan persoalan ini akan dibawa ke rapat dewan Federasi Sepak Bola Norwegia sebelum diajukan sebagai pengaduan resmi kepada FIFA.
"Kasus ini sangat serius dan sangat mengkhawatirkan. Saya berharap ini bisa mendorong lebih banyak orang untuk berani menyampaikan persoalan seperti ini. Saya akan membawanya ke rapat dewan dan mendiskusikannya bersama anggota dewan. Bagi saya, kasus ini seharusnya masuk dalam ranah pengaduan etik."
Ia menambahkan, persoalan tersebut tidak boleh diabaikan begitu saja.
"Mencoba menyapu masalah ini ke bawah karpet tidak akan berhasil. Terlalu banyak pelatih, pemain, dan suporter yang merasa keputusan ini sudah terlalu jauh."
Ironisnya, keputusan FIFA itu tidak mengubah nasib Amerika Serikat di turnamen. Meski Balogun diizinkan bermain, tuan rumah justru tersingkir setelah dihajar Belgia dengan skor telak 1-4 pada babak 16 besar.
Balogun sendiri mengakui keputusan tersebut justru memberikan tekanan tambahan bagi dirinya maupun rekan-rekan setim.
"Reaksi pertama saya tentu senang bisa kembali ke tim. Namun setelah saya merenungkannya, saya sadar keputusan ini akan memunculkan kontroversi besar."
"Saya bahkan bisa merasakan ada sedikit kegelisahan di antara rekan-rekan setim karena ini merupakan situasi yang sangat tidak biasa. Semakin dekat ke hari pertandingan, saya berusaha tetap fokus, tetapi itu sangat sulit. Terlalu banyak suara dari luar dan sulit untuk mengabaikannya."
Kontroversi kasus Balogun menjadi salah satu isu tata kelola paling besar sepanjang Piala Dunia 2026. Selain penyelidikan disiplin terhadap kericuhan seusai final, FIFA kini juga menghadapi sorotan terkait independensi pengambilan keputusan setelah muncul dugaan campur tangan politik dalam proses penegakan regulasi turnamen.
(sto)
Lihat Juga :