Pegiat HAM Protes Gelaran Formula One di Arab Saudi
Senin, 09 November 2020 - 15:35 WIB
loading...
Balapan Formula E di Sirkuit Jalanan Kota Riyadh, Arab Saudi. Musim depan, Formula One yang akan digelar di Arab Saudi mengundang kritik dari penggiat Hak Asasi Manusia. Foto/Reuters
A
A
A
LONDON - Arab Saudi secara resmi masuk ke dalam kalender Formula One (F1) musim depan. Namun jadwal race ini ternyata mengundang penolakan sekelompok pegiat hak asasi manusia (HAM) dan mereka meminta pembalap seperti Lewis Hamilton untuk menolak balapan itu.
Salah satu dari mereka adalah Kepala Kampanye Amnesty Internasional Felix Jakens. Dia meminta Hamilton untuk blak-blakan soal pelanggaran HAM yang terjadi di Arab Saudi. Terlebih Hamilton juga merupakan pembalap yang cukup vokal menyuarakan gerakan sosial. (Baca: Resmi, Arab Saudi Jadi Tuan Rumah Balapan Formula 1 2021)
“Akan sangat penting jika Lewis Hamilton bisa membuka semuanya. Akan tetapi ini bukan hanya tertuju kepada seorang pembalap utamanya, tapi juga seluruh industri ini (F1) dengan apa yang telah terjadi di Arab Saudi,” ujar Jakens seperti dilansir sportyahoo.
Selain itu Amnesty Internasional juga mengklaim bahwa sebanyak 13 pembela hak perempuan tengah diadili di Arab Saudi dengan tuduhan menyuarakan hak-hak perempuan dan menyerukan diakhirinya sistem perwalian laki-laki di mana setiap perempuan harus memiliki laki-laki yang punya wewenang untuk membuat sejumlah keputusan.
Sementara itu wacana untuk memasukkan Arab Saudi ke dalam kalender F1 sudah lama muncul. Terutama setelah perusahaan minyak setempat, Aramco, menjadi sponsor utama F1. Kedua pihak telah berniat menjalin kerja sama dalam jangka panjang. Brand Aramco pun terlihat muncul dalam setiap balapan. Kabarnya pihak F1 dengan Arab Saudi terikat kontrak untuk bekerja sama dalam 10 tahun ke depan. (Baca juga: Pentingnya Tafakuri Diri)
Adapun sejumlah tokoh F1 berharap GP Arab Saudi bisa berdampak positif di tengah kritik dari Amnesty International. Apalagi mereka bakal menggelar balapan jalanan malam yang sangat menarik di Jeddah pada tahun depan sebelum mengalihkannya ke sirkuit di Qiddiya pada 2023.
Manajer Tim Mercedes F1 Toto Wolff mengatakan dia berpikir olahraga harus bersatu dan membantu membawa kita ke tempat yang lebih baik. Dia pun berharap kondisi ini tidak dicampuradukkan karena masalah politik.
Salah satu dari mereka adalah Kepala Kampanye Amnesty Internasional Felix Jakens. Dia meminta Hamilton untuk blak-blakan soal pelanggaran HAM yang terjadi di Arab Saudi. Terlebih Hamilton juga merupakan pembalap yang cukup vokal menyuarakan gerakan sosial. (Baca: Resmi, Arab Saudi Jadi Tuan Rumah Balapan Formula 1 2021)
“Akan sangat penting jika Lewis Hamilton bisa membuka semuanya. Akan tetapi ini bukan hanya tertuju kepada seorang pembalap utamanya, tapi juga seluruh industri ini (F1) dengan apa yang telah terjadi di Arab Saudi,” ujar Jakens seperti dilansir sportyahoo.
Selain itu Amnesty Internasional juga mengklaim bahwa sebanyak 13 pembela hak perempuan tengah diadili di Arab Saudi dengan tuduhan menyuarakan hak-hak perempuan dan menyerukan diakhirinya sistem perwalian laki-laki di mana setiap perempuan harus memiliki laki-laki yang punya wewenang untuk membuat sejumlah keputusan.
Sementara itu wacana untuk memasukkan Arab Saudi ke dalam kalender F1 sudah lama muncul. Terutama setelah perusahaan minyak setempat, Aramco, menjadi sponsor utama F1. Kedua pihak telah berniat menjalin kerja sama dalam jangka panjang. Brand Aramco pun terlihat muncul dalam setiap balapan. Kabarnya pihak F1 dengan Arab Saudi terikat kontrak untuk bekerja sama dalam 10 tahun ke depan. (Baca juga: Pentingnya Tafakuri Diri)
Adapun sejumlah tokoh F1 berharap GP Arab Saudi bisa berdampak positif di tengah kritik dari Amnesty International. Apalagi mereka bakal menggelar balapan jalanan malam yang sangat menarik di Jeddah pada tahun depan sebelum mengalihkannya ke sirkuit di Qiddiya pada 2023.
Manajer Tim Mercedes F1 Toto Wolff mengatakan dia berpikir olahraga harus bersatu dan membantu membawa kita ke tempat yang lebih baik. Dia pun berharap kondisi ini tidak dicampuradukkan karena masalah politik.
Lihat Juga :