Pensiunan Atlet: Berprestasi, Berjaya, dan Terlupakan
Rabu, 07 Juli 2021 - 18:12 WIB
loading...
A
A
A
Tapi sebenarnya bicara medali di pentas olimpiade, Indonesia sebenarnya sudah sejak dari Olimpiade1988 di Seoul mampu menyandingkan dengan negara lain. Ketika tiga pemanah Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman dan Kusuma Wardhani sukses menyumbangkan medali perak. Keberhasilan Trio Srikandi itu seolah menjadi titik awal. Sebab kemudian, torehan prestasi Indonesia meningkat.
Bayangkan saja, dari sekeping perak di Seoul, perolehan medali di Barcelona empat tahun kemudian merangkak. Cabang bulu tangkis yang baru kali dipertandingan di olimpiade berhasil meraup lima medali dengan rincian dua emas dari Susi dan Alan lalu perak disumbangkan Ardy BW serta pasangan ganda putra Eddy Hartono dan Rudy Gunawan. Satu medali lagi didonasikan Hermawan Susanto dari nomor tunggal putra.
Lalu bagaimana dengan cabang olahraga lainnya? Angkat besi yang ketika itu berjaya di Asia Tenggara dan Asia ternyata membuat kejutan di olimpiade. Adalah Raema Lisa Rumbewas menjadi lifter pertama Indonesia yang membawa pulang medali perak. Tak hanya itu, rekan sepelatnas Lisa, Sri Indriyani dan Winarni, pun menyematkan sebagai pendulang medali perunggu.
Sejak saat itu, bulu tangkis dan angkat besi menjadi cabang andalan untuk meraup medali di event tahunan dunia. Di setiap perhelatan, dua cabang ini tak pernah absen menyumbangkan medali. Setidaknya tradisi ini bisa terus dipertahankan hingga Olimpiade 2016 Rio de Janeiro .
Namun, kebanggaan seorang atlet terhadap prestasi seringkali tidak bertahan lama. Faktor usia sering menjadi penghambat utama dan melengserkan kejayaan mereka sebagai atlet.
Sayangnya, ketika seorang atlet memutuskan mengakhiri karier, sosoknya sering terlupakan. Bagai kacang lupa kulitnya, orang-orang yang pernah mengelukan nama mereka saat berprestasi, justru sudah tak mengingatnya lagi.
Bayangkan saja, dari sekeping perak di Seoul, perolehan medali di Barcelona empat tahun kemudian merangkak. Cabang bulu tangkis yang baru kali dipertandingan di olimpiade berhasil meraup lima medali dengan rincian dua emas dari Susi dan Alan lalu perak disumbangkan Ardy BW serta pasangan ganda putra Eddy Hartono dan Rudy Gunawan. Satu medali lagi didonasikan Hermawan Susanto dari nomor tunggal putra.
Lalu bagaimana dengan cabang olahraga lainnya? Angkat besi yang ketika itu berjaya di Asia Tenggara dan Asia ternyata membuat kejutan di olimpiade. Adalah Raema Lisa Rumbewas menjadi lifter pertama Indonesia yang membawa pulang medali perak. Tak hanya itu, rekan sepelatnas Lisa, Sri Indriyani dan Winarni, pun menyematkan sebagai pendulang medali perunggu.
Sejak saat itu, bulu tangkis dan angkat besi menjadi cabang andalan untuk meraup medali di event tahunan dunia. Di setiap perhelatan, dua cabang ini tak pernah absen menyumbangkan medali. Setidaknya tradisi ini bisa terus dipertahankan hingga Olimpiade 2016 Rio de Janeiro .
Namun, kebanggaan seorang atlet terhadap prestasi seringkali tidak bertahan lama. Faktor usia sering menjadi penghambat utama dan melengserkan kejayaan mereka sebagai atlet.
Sayangnya, ketika seorang atlet memutuskan mengakhiri karier, sosoknya sering terlupakan. Bagai kacang lupa kulitnya, orang-orang yang pernah mengelukan nama mereka saat berprestasi, justru sudah tak mengingatnya lagi.
Lihat Juga :