alexa snippet

Konsorsium nunggak bayar utang, subkontraktor PON kelimpungan

Konsorsium nunggak bayar utang, subkontraktor PON kelimpungan
Pon Riau
A+ A-
Sindonews.com - Sudah sekitar 10 bulan pihak perusahaan konsorsium (KSO) Stadion Utama Riau menunggak pembayaran terhadap perusahaan rekanan. Hal ini membuat pihak perusahaan subkontraktor PON ini kelimpungan.

Menurut Ketua Forum Komunikasi 12 peruhaan subkontraktor Hary Puas, bahwa piutang mereka kepada KSO yang terdiri dari tiga perusahaan BUMN yakni PT Adhi Karya, PT Wijaya Karya dan PT Perumahan Pembangunan (PP) sisanya sebesar 18 miliar lagi.

"Proyek kami sendiri sudah selesai 96 persen sejak November 2011 lalu. Sesuai perjanjian sekitar 4 persen lagi itu hanya perawatan dan membersihkan yang kurang-kurang sedikit. Jadi artinya pihak KSO seharusnya sudah membayar saat tugas kita selesai yakni Bulan November 2011 itu. Tapi sampai sekarang, belum dibayar juga," kata Hary Puas kepada Sindonews Sabtu (11/8/2012).

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak 12 perusahaan subkontraktor dari komunikasi, membuat kesepakatan dan perjanjian hingga pembongkaran paksa sejumlah fasilitas stadion utama Riau. Namun hasilnya, pihak KSO maupun Pemerintah Propinsi Riau tidak kunjung melunasi hutangnya.

"Sejak November 2011 hingga bulan Juni 2012 hutang yang baru dibayarkan ke kami yakni Rp 12 miliar,itupun dengan sudah payah. Perjanjian dengan pihak PB PON dan KSO, mereka akan melunasi semua hutangnya pada 15 Juni 2012. Tapi sampai sekarang tidak membayar, padahal sudah ada perjanjian hitam diatas putih. Asal kami tagih, jawabannya ya besok, lusa, bulan depan, sabar saja dulu," keluh Hary.

"Padahal kami terbebani dengan biaya modal. Kami membangunan stadion itu dengan pinjam modal ke bank. Dengan terjadi tunggakan tentu kredit kami macet, kami di black list pihak bank. Sementara bunga bank kami terus bayar" tambahnya.

Hary melanjutkan, ini belum lagi ancaman dari para pekerja proyek yang meminta gaji dan tunjangan mereka. "Apalagi mau sekarang mau Lebaran, kita terus didesak pekerja. Kita juga tidak salahkan pekerja, karena mereka juga menghidupi keluarganya. Tapi mau gimana lagi keadaan seperti ini," pungkasnya.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top